Semak Belukar

Pada mulanya sama sekali tidak ada jalan di tempat itu. Tak seorangpun yang pernah menginjakkan kaki di tempat itu sebelumnya.

Suatu ketika, datanglah seorang pemberani yang dengan gigihnya meretas jalan, menebang jewawut serta onak duri untuk sekedar bisa melewati tempat itu, guna melanjutkan perjalanan menuju tujuan selanjutnya.

Lalu seorang yang lain mengikuti jejak setapak yang telah ditinggalkan oleh orang pertama. Setelah itu, datanglah orang ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya, dan seterusnya, yang memperlebar dan memperindah jalan itu.

Hingga pada akhirnya tibalah generasi orang-orang pongah yang dengan lantang mengatakan bahwa jalan yang mereka lalui adalah satu-satunya jalan yang paling benar, sedangkan jalan lain yang juga sedang diretas oleh para pemberani lainnya adalah jalan yang sesat dan keliru.

Menyedihkan, bukan?

Tentang Sebuah Perpisahan: Tujuh Tahun Kesunyian

“I would rather have had one breath of her hair, one kiss of her mouth, one touch of her hand than eternity without it. One.” ―Seth, City Of Angels (1998)

Jarum jam berdenting pelan menuju angka sebelas malam tepat. Hanya ada suara jangkrik yang sedang bercengkrama dengan pekatnya malam yang kelam. Jari-jemariku bergetar seperti terjangkit tremor yang temporer. Lidahku mengecap cairan asin dan aku sudah dapat memprediksi bahwa siklus ini kembali berputar ke angka nol. Layar smartphone-ku hanya sanggup memandang iba pemiliknya yang sedang ditikam berkali-kali oleh kesedihan yang teramat dalam.

Tancap. Tarik. Tancap. Tarik. Langkah itu dilaksanakan berulang-ulang hingga rongga dadaku berlubang menembus tulang belakang. Interval waktu antar setiap penetrasi hanya berjarak setengah detik dalam satuan mikrosekon. Tidak ada desahan atau jeritan. Hanya suara daging yang sedang dihaluskan oleh sebuah mata pisau.

Pernahkah engkau bermimpi ingin memiliki kekuatan untuk memutarbalikkan waktu? Kembali ke masa lalu agar engkau bisa memperbaiki segalanya? Atau sekedar menonjok dirimu di masa lalu karena ia salah dalam memilih keputusan berdasarkan alasan yang tidak masuk akal? Atau menghapus seseorang dari alur hidupmu dengan mencegah dirimu di masa lalu berseberangan dengan jalur hidup orang lain?

Leave me alone, please. Balasku kepadamu.

***

Di bawah siraman air yang cukup membuat gigiku bergemeretuk, seketika pikiranku teringat pada kisah Lazarus. Lazarus meninggal dan dibangkitkan kembali oleh Yesus sehingga Lazarus seolah mati suri. Meninggal agar bisa lebih hidup. Meninggal agar ia bisa menjadi diri yang lebih baik.

Tidak seperti Lazarus, nyawaku memang tidak dihantarkan ke akhirat. Namun, hal-hal yang kusayangi bahkan melebihi hidupku sendiri, kini dienyahkan entah ke mana. Batinku pun akhirnya gugur, semua seolah disapu habis dari pandangan mataku.

Aku membiarkan kepalaku dipalu habis-habisan oleh tetesan air yang mengalir dari shower.

Selamat malam, wahai engkau yang berada nun jauh di sana.

Mataku terpejam.

Terima kasih.

Munafik: Tentang Aktivisme Hari Ini

Tersebutlah seorang aktivis (atau kalaupun label itu terlihat terlalu kitsch, aku berani bertaruh ia akan mencari label lain yang layak untuk ia sematkan di dadanya sebagai seorang “pejuang kemanusiaan”) yang gemar mengkritisi segala sesuatu hal di sekitarnya yang (menurutnya) tak berjalan sebagaimana mestinya. Setiap saat, setiap hari, ia senantiasa meneriakkan slogan-slogan mengenai kebebasan, kemerdekaan, kesetaraan, keadilan atau apapunlah itu yang terdengar terlampau banal belakangan ini. Lagipula, kebebasan macam apa yang sesungguhnya hendak ia khotbahkan dengan melarang-larang orang lain untuk melakukan sesuatu hal? Jika membebaskan berarti meniadakan belenggu penghalang yang membatasi pergerakan seseorang, ia justru mengokohkan kerangkeng yang semakin memenjarakan orang tersebut.

Namun ia bukanlah seorang Butet Manurung yang tinggal di sebuah desa terpencil di tengah belantara hutan di Jambi, tempat dimana Butet merasa perlu untuk mengubah dan membangun komunitas di sana, Sokola Rimba. Butet menetap di sana bersama Suku Anak Dalam. Tak hanya sekedar mengkritisi. Dan aku yakin, Butet melakukannya bukan karena sekedar letak desanya yang terpencil, tetapi karena ia sungguh-sungguh ingin mengubah dan membangun komunitas di sana.

Sedangkan sang aktivis ini amatlah berbeda. Ia hanya mengkritik tanpa mampu memberikan solusi. Tanpa mau sungguh-sungguh berusaha untuk mengubah borok yang ia kritik menjadi sesuatu yang memiliki nilai, senihil apapun itu di mata orang lain. Ia selalu mencari titik kelemahan dari apapun yang ia kritik, seakan-akan ia telah menjadi tuhan atas sesamanya manusia. Amat prejudice dan judgmental.

Ia mengkritik apapun.

Ia menyalahkan siapapun.

Tetapi tidak dirinya sendiri.

Tentang Sebuah Perpisahan: Elegi Esok Pagi

“I saw tail lights last night in a dream about my old life. Everybody leaves, so why, why wouldn’t you?”

―The Gaslight Anthem, Great Expectations

Tidak. Aku tidak sanggup menatap langsung matanya. Aku juga masih menunduk kala tangan kirinya yang lembut mulai menyentuh tangan kananku. Perlahan menggenggamnya. Sesuatu yang kubiarkan. Mungkin aku tak akan lagi merasakan genggamannya pada tanganku. Kami berdua duduk di lantai dengan punggung bersandar pada dinding dan dalam hening menatap ke luar jendela sebagaimana mentari pagi malu-malu menampakkan dirinya di balik ufuk timur.

Tak ada kata, tak ada apapun. Jaket denim biru miliknya berada tepat dalam genggaman tangan kanannya. Aku meraih bahunya mendekat dan bertanya-tanya dalam hati, mengapa aku harus menunggu hingga saat-saat terakhir hanya untuk sekedar memeluknya. Awan kelabu perlahan mulai menggantung di ujung langit sana.

Entah berapa lama waktu berlalu saat ia menggenggam tanganku. Berapa lama kami berdua hanya duduk dalam diam, dengan wajahku sesekali tertunduk. Satu menit? Lima menit? Setengah jam? Entahlah. Waktu terasa begitu perlahan merayap. Aku mulai mendengar bebunyian di sekelilingku. Kicauan burung-burung di pepohonan, deru sepeda motor yang sesekali melintas, hingga bunyi rintik hujan…

Tik, tik, tik…

Seperti ada suara air yang menetes di tepian jendela di hadapan kami. Tetes hujankah? Aku menengadah. Bukan. Di luar memang baru saja turun hujan. Gerimis. Namun suara tetesan air ini terdengar dekat sekali dengan telingaku. Lalu aku berpaling. Tepat menatap wajahnya. Matanya. Oh, tidak. Suara ini bukan berasal dari hujan di luar rupanya, namun dari kedua pelupuk matanya. Pipinya kini berkilau seiring bulir-bulir air mata mengalir pelan membasahinya. Begitu bening. Begitu sendu.

Aku masih menatap matanya kala waktu kembali terasa berhenti. Atau setidaknya melambat. Hingga ia mengangguk perlahan sambil tersenyum. Tapi tanpa sedikitpun ia mengusap air matanya yang mengalir tiada henti. Ia tetap tersenyum saat genggaman tangannya semakin erat menjalin jemariku. Ia kembali mengangguk perlahan.

“Sudahlah…”

Untuk pertama kalinya semenjak terakhir kami berjumpa, aku menyadari bahwa ia masih seseorang yang sama. Sekaligus juga asing. Aku sadar benar bahwa perjumpaan ini adalah sebuah parsel yang tersisa, bukan sebuah janji akan hadirnya sesuatu yang baru. Perjumpaan ini seperti menegaskan bahwa apa yang telah berlalu memang sudah seharusnya diletakkan pada tempat yang semestinya: masa lalu.

Tangan kananku bergerak terangkat dan menempelkan telapak tangan kirinya erat-erat di pipiku. Tak ada air mata mengalir di pipiku tapi aku tetap merasakan betapa sulitnya untuk tersenyum. Untuk sekedar membalas senyumnya. Aku ingin berkata bahwa aku tak ingin pergi darinya. Tapi itu hanya akan berarti ucapan yang keluar dari mulutku sebelumnya menjadi tak berharga. Aku telah berpamitan. Aku tak meminta ijin untuk pergi, karena aku memang tak pernah meminta ijin dari siapapun untuk menjalani hidupku. Senyum masih terkembang di wajahnya kala ia menarik perlahan tangannya dari pipiku. Pada akhirnya ia mengusap air mata di wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Tak lama ia lalu bangkit dan melangkah menuju pintu. Aku bergegas bangkit dan menjajari langkahnya seraya menahan bahunya. Ia berbalik menatapku.

“Masih ujan di luar,” ujarku, “Seenggaknya tunggu sampai reda.”

Ia menggeleng. “Seperti katamu, ujan bisa ngapusin kesedihan kan?” ujarnya pelan sambil menurunkan tanganku dari bahunya.

Kami berdua hanya berdiri terpaku menatap satu sama lain. Ia mendadak berjinjit, mengecup pipiku lembut dan secepat ia mengecup pipiku, ia berbalik dan melangkah keluar, ke dalam pagi dan hujan. Instingku menyuruhku untuk segera menyusulnya, tapi ada sesuatu yang menahanku. Hatiku berbisik agar aku menahan diri. Agar aku membiarkannya pergi dan tak menoleh kembali. Bukankah itu yang kuminta darinya agar aku dapat dengan lega melangkah pulang?

Aku tetap berdiri di pintu. Menatap tubuhnya melangkah perlahan di bawah rintik-rintik hujan. Aku hanya ingin berdiri sedikit lebih lama di sini, untuk sekedar merasakan kepergiannya. Kehilangan dirinya. Namun kenyataannya, aku bukanlah orang yang sama seperti dahulu, kala pertama ia pergi dari sisiku bertahun yang lalu. Mungkin memang waktu dapat menghapuskan semuanya. Atau setidaknya, mengubah segalanya. Tahu apalagi bedanya? Kini tak ada apapun. Tiada lagi kepedihan, juga tiada riang yang membuncah.

Aku hanya terdiam dan menghela nafas panjang. Amat panjang…

In Vino Veritas: Ode di Penghujung Malam

Here we go. Try this one. We need a release, didn’t we?

Shot pertama.

Aku menyesapnya perlahan, berusaha menikmatinya. Jack Daniel’s dengan campuran es dan Cola. Minuman favorit perempuan ini.

Shot kedua.

Salah satu alasan mengapa aku mengkonsumsi alkohol adalah, karena dalam keadaan mabuk, lidahku yang tak bertulang ini mampu meluapkan segala perasaan dan emosi yang biasanya tak dapat kulakukan dalam keadaan sadar. Sandra dalam “Realita, Cinta, dan Rock N’ Roll” menyebutnya sebagai mekanisme pertahanan diri. Aku sendiri mengibaratkan alkohol seperti pelumas bagi saraf-saraf neuron dalam otak. Ia melancarkan jalan bagi impuls untuk melalui celah-celah sinapsis dan kemudian melekat pada membran sel di dalam otakku.

Shot ketiga.

Melalui sudut mataku dapat kulihat bahwa wajahnya mulai memerah. Ia mulai mabuk, begitu pula diriku. Alkohol bajingan. Kami berdua mulai meracau tak karuan. Kata-kata terus terlontar begitu saja dari mulut kami. Dengan segenap hati, kami mengutuki Fahira Idris dan seluruh moralis basi yang bergerombol di belakangnya. Para pemabuk jelas jauh lebih terhormat daripada politisi-politisi oportunis yang meracau tak karuan di dalam ruang sidang ataupun para ustadz dan motivator-motivator gadungan yang gemar membual di televisi—karena setidaknya, para pemabuk itu jujur.

Shot keempat.

Sepertinya alkohol sudah semakin penuh menggenangi isi kepalanya. Rona wajahnya semakin memerah.

Shot kelima. Shot keenam. Hingga entah shot keberapa.

Hingga isi botol sudah hampir habis, ia lalu menenggaknya tinggi-tinggi hingga tetes terakhir. Nampaknya ia tak sudi kehilangan setetes pun yang masih tersisa. Botol kaca berdenting dengan nyaringnya menandakan isinya sudah benar-benar habis, aku dan dirinya telah benar-benar mabuk. Pandangan mataku semakin memburam, hanya wajahnya yang masih dapat kulihat dengan sisa-sisa kesadaranku.

Ia menatap kedua bola mataku, tanpa berkedip sedikitpun. Mata sipitnya berbinar dengan indahnya, memancarkan pandangan yang dipenuhi eros yang demikian membara. Satu dua tiga detik, ia masih terdiam. Membisu. Tidak mengatakan apapun. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke depan wajahku. Persis berhadap-hadapan. Kedua tanganku pun terangkat, perlahan jari-jemariku menyentuh kedua sisi pipi halusnya. Kiri dan kanan. Mengelusnya lembut. Lalu mencubitnya pelan.

You bitch, ujarku.

Screw you, asshole.

You fucking cunt, balasku.

Ia mendorongku turun hingga aku terduduk di lantai keramik yang dingin, kemudian dengan cepat ia menduduki pahaku, membuka ikat pinggangku dengan terburu-buru lalu menarik celana jeansku dengan kasar dan melemparkannya ke sudut kamar. Ia kemudian memojokkanku hingga aku tersender ke dinding. Aku lalu meraih dagunya, hasratku tak lagi tertahankan. Mencumbuinya sesegera mungkin, hanya itu yang aku inginkan saat ini. Mengecup bibirnya, mengulumnya dengan lembut, merasakan pertukaran saliva antara bibirnya dan bibirku.

Dan ketika eros yang menyelimuti tubuh kami berdua sudah mencapai puncaknya, ia membisikkan sesuatu di telingaku.

Alice Harford: “I do love you and you know there is something very important we need to do as soon as possible.”
Dr. Bill Harford: “What’s that?”
Alice Harford: “Fuck.”
—Eyes Wide Shut (1999)

In Vino Veritas: Gelap adalah Teman Setia dari Waktu-Waktu yang Hilang

Seorang kawan pernah berkata kepadaku bahwa kenangan itu ibarat sebuah lemari berkas dengan banyak laci. Engkau bisa membuka dan menutupnya erat kapanpun engkau mau. Tertata rapih, mereka akan melekat erat di otakmu atau hilang begitu saja, walau mungkin jejak itu masih dapat engkau telusuri sekehendakmu. Mirip seperti pasir yang berterbangan dihembus angin kala musim panas menjelang, ia bisa berjejak atau malah hilang sama sekali. Panasnya begitu melekat, menghilangkan persepsi tak berdaya terhadap masa-masa silam yang telah lama berlalu. Begitu pekatnya, begitu riuhnya, hingga tak ada tempat untuk bersembunyi dari gempurannya.

***

Suatu malam di penjuru Tangerang.

Semua tempat-tempat ini memiliki kenangan, bersama dengan kekasih dan kawan, maupun juga lawan. Ada yang telah tiada, ada yang masih terus membakar hidupnya. Ketika aku memikirkan konsepsi tentang cinta sebagai sesuatu hal yang baru, aku tak pernah kehilangan rasa cinta untuk mereka yang telah hadir dalam hidupku. Mungkin beberapa kali aku berhenti dan memikirkan mereka, namun dalam hidupku, aku mencintai mereka. Selalu.

Mari kita bersulang, untuk mereka yang kita cintai dalam hidup kita, dan mereka yang telah pergi dari hidup kita. Toast.

Denting musik yang keluar dari dua speaker ringkih bermuara pada sesuatu yang telah lama hilang dan nyaris punah. Acara-acara di seputaran jalan yang sudah teramat sesak ini sama sekali tak menawarkan sesuatu yang menarik untuk disimak, apalagi dinikmati. Mungkin karena aku sedang meretas luka dengan damai. Ketika sesuatu sudah terlalu menjadi rumit, lebih baik aku berhenti dan berdiam diri. Merenung.

Aku menenggak bir yang entah sudah gelas keberapa. Gelas-gelas berisi campuran fermentasi ini seakan mengerti akan sisi gelap yang tertutup sekian lama, membangkitkan hormon liar yang selama ini terkubur. Musik-musik pop-rock yang mengisi playlist meluncur deras melebur menjadi substansi solid, seakan malam ini adalah malam terakhir dan esok hari sudah terlalu terlambat untuk merengkuh hidup. Sisi-sisi kelam menjadi amunisi dan menyeruak bak banjir bandang untuk segera ditumpahkan, karena fajar akan segera muncul dalam hitungan jam, dan aku sama sekali enggan untuk mengakhiri malam. Racauan yang keluar dari bibir tak jelas ini mengganggu mereka di sekelilingku, mereka yang juga ingin menikmati momen. Menjerat riwayat yang tak pernah punah, pula tak pernah menjadi sejarah karena ia selalu berulang.

Pukul satu pagi, tempat ini semakin ramai oleh mereka yang ingin merayakan hidup yang membosankan, penuh aturan, dan basi. Aku berjalan di tengah kerumunan, berusaha menghirup udara segar dan entah berapa orang yang tak sengaja bertabrakan dengan tubuhku yang terus berjalan tak menentu arah. Tetapi sebelah mataku masih melihat bayang-bayang dirimu yang menatap nanar penuh kecemasan.

Gelap adalah teman setia dari waktu-waktu yang hilang, ujarmu.

Munafik: Tentang Ideologi

“Communist until you get rich, feminist until you get married, atheist until the airplane starts falling.” ―  The Hypocrite Diaries

Seorang kenalan, seseorang yang mengakui dirinya sebagai seorang anarkis dan secara serampangan pula melabeli diriku sebagai seorang anarkis, mengajakku berbincang-bincang beberapa waktu lalu.

Lima hingga sepuluh menit pertama, kami berbincang mengenai komik-komik dan film-film yang kebetulan juga kami sukai. Aku menikmatinya. Sungguh, berbincang-bincang mengenai hal kesukaanmu dengan seseorang yang memiliki kesukaan yang serupa denganmu, itu terasa menyenangkan. Lima belas menit berikutnya, ia mengaitkan pembahasan film-film tersebut dengan ide-ide anarkisme seperti misalnya, mulai membahas film V For Vendetta, yang akhirnya malah berujung alot. Revolusi, transformasi sosial, perlawanan terhadap tiran, dan pembangkangan sipil. Apapun sebutannya. Ia menyebutnya, anarkisme.

Aku bukan seorang anarkis, ujarku kepadanya. Tetapi entahlah, aku merasa bahwa ia tidak percaya saat aku mengatakan bahwa aku bukanlah seorang anarkis. Menjalin relasi pertemanan dengan mereka yang mengklaim dirinya anarkis, tidak serta merta membuatku ingin menyematkan label sebagai seorang anarkis di dadaku. Karena setelah sekian lama aku menjalani hidupku, menerima dan menimbang segala sesuatu dari setiap pengalaman yang kudapat, pada akhirnya aku menyadari, bahwa aku memiliki pemahaman yang berbeda dengan para anarkis, atau setidaknya, dari mereka yang mengaku dirinya anarkis di sekelilingku.

Mereka para anarkis yang kukenal pada umumnya menganggap anarkisme sebagai sebuah ideologi, sebagai dasar pemikiran yang menentukan nilai dalam keseharian mereka. Sedangkan aku mempercayai ucapan Althusser yang mendefinisikan ideologi sebagai sebuah ilusi, sebagai kesadaran palsu terhadap apa yang sesungguhnya nyata. Menurut Althusser, penganut ideologi yang terposisikan sebagai subjek sesungguhnya telah dibutakan oleh apa yang mereka anggap sebagai sebuah ‘kebenaran’ atau sebuah jalan yang tepat untuk mereka lalui. Dengan kata lain, mereka dibutakan bukan oleh apa yang mereka tidak ketahui, tetapi oleh apa yang mereka anggap mereka ketahui.

Ideologi adalah candu, lanjutku. Ia terbatas. Ia memiliki batasan-batasan tertentu. Masalahnya, ketika engkau sudah muak menghisap candu ideologimu, dapatkah engkau melampaui batasan ideologi yang engkau anut? Komunisme, anarkisme, feminisme, liberalisme, fasisme, ateisme, nihilisme, dan segala jenis -isme lainnya. Silakan sebut saja, apapun itu. Aku berani bertaruh, bahwa para ideolog senantiasa terperangkap dalam bayang-bayang utopis, dalam batasan nilai-nilai ideal terhadap ideologi yang mereka usung, termasuk seorang anarkis sekalipun. Lagipula, apakah hidup yang engkau jalani saat ini sudah sesuai dengan ideologi yang selama ini engkau kumandangkan, tanyaku. Kalau tidak, itu berarti engkau hanyalah seorang munafik, tambahku.

Seketika ia pun terdiam. Lalu ia menundukkan kepalanya dan dahinya perlahan mengkerut. Mungkin ia sedang berpikir keras. Tetapi entahlah, aku tak begitu peduli. Apabila menganut suatu ideologi tertentu adalah juga berarti menjadi seorang munafik secara simultan, maka dengan bangga aku menyatakan bahwa diriku tidak lagi terbelenggu dalam konsep-konsep utopis dan terbatas yang diusung oleh para ideolog di luar sana, apapun ideologi yang mereka usung, termasuk kenalanku tadi. Aku hanya berusaha jujur pada diriku sendiri.