Sesuatu Bernama Kenangan: Amayadori

Think I’ll miss you forever
Like the stars miss the sun in the morning skies
Later’s better than never
Even if you’re gone I’m gonna drive, drive, drive

—Lana Del Rey, Summertime Sadness

Satu atau dua tahun dari sekarang, kenangan akan percakapan kita akan terasa berjarak. Jauh.

Seperti mimpi, engkau dapat mengingat tetapi tidak dapat membawa pikiranmu untuk  menghidupkan kembali perasaanmu. Tidak semua hal akan mengingatkanku padamu lagi. Begitu pula sebaliknya. Lagu yang kita dengarkan, film yang kita tonton, foto dan kutipan yang kita bagikan, engkau akan bisa menikmatinya kembali, tanpa merasakan kepedihan di hatimu. Semuanya akan memudar seiring dengan berjalannya waktu dan terjadinya hal-hal sepele dalam kehidupan sehari-harimu. Dan sampai saat itu, aku harus menghadapi kekosongan dalam hatiku yang telah engkau tinggalkan. Ucapanmu terus melekat dalam pikiranku, sepanjang hari. Wajahmu terus membayangi benakku, di sepanjang sisa malamku.

Namun demikian, sama sekali aku tidak menyesal mengenalmu. Engkau dapat membenciku. Mendendam akibat perbuatan burukku padamu. Aku tak mempersalahkan hal itu. Mendendamlah, sampai akhirnya tiba waktumu untuk dapat memaafkan diriku.

Dan apabila kelak engkau telah memaafkanku setulus hatimu, mendekatlah. Aku hendak membisikkan sesuatu di telingamu. Bahwa untuk sebuah kesempatan merengkuh dirimu dengan sepenuh hati di dunia yang nyaris kehilangan maknanya bagiku, aku selalu berterima kasih atas hadirnya dirimu dalam hidupku. Selalu. Walaupun kehadiranmu hanya sesaat.

Sesaat. Seperti rintik hujan yang turun di sore hari bulan November, seperti itu pula semua hal hanya mengada dalam kesementaraannya masing-masing. Temporer. Seperti rintik hujan yang kemudian menjadi deras seiring dengan waktu yang berlalu dan engkau pun berteduh darinya. Hingga pada akhirnya hujan akan reda dan engkau dapat melangkah pergi meninggalkan tempat berteduhmu, untuk kembali pulang. Menuju rumah dimana hatimu berada.

Advertisements

Tentang Sebuah Perpisahan: Cinta Tak Akan Pernah Mati

​You are always in my heart and in the every air that I breath. I love you.

Apa yang akan engkau lakukan apabila
engkau jatuh cinta pada seseorang tetapi tanpa sadar apa yang engkau lakukan hanyalah mendorong seseorang tersebut jauh hingga ke titik batas sehingga ia memutuskan untuk meninggalkanmu?

Akankah engkau hancur berantakan? Apakah engkau akan berusaha mendapatkannya kembali, walaupun tahu bahwa semua terjadi karena kesalahanmu sendiri?

Atau dapatkah engkau menjalani sisa hidupmu menyadari bahwa engkau mencintainya sepenuh hatimu tetapi engkau juga tahu bahwa apa yang telah terjadi sesungguhnya telah terjadi dan tak dapat diperbaiki? Dapatkah engkau memaafkan dirimu sendiri, karena hal tersulit daripada memaafkan orang lain adalah memaafkan dirimu sendiri?

Apa yang akan engkau lakukan?

Kalau aku? Aku tidak tahu, selain hanya mengutuki diriku sendiri karena engkau pergi, aku ingin merengkuhmu kembali, tetapi aku berpikir bahwa, akankah kita bisa kembali berbahagia seperti dulu? Pertanyaan bodoh memang, karena mungkin saja dulu yang berbahagia hanya diriku dan tidak dirimu. Bukankah engkau pergi meninggalkanku justru karena engkau tidak berbahagia denganku?

Dan aku tahu, beberapa luka tak pernah tercipta untuk dapat mengering. Selalu akan ada luka yang tidak akan pernah bisa hilang, ada noda yang memang harus dibiarkan tinggal. Bahwa mungkin satu-satunya cara agar aku dapat terus berjalan dan melanjutkan hidup adalah justru dengan berdamai bersama kenangan tentang dirimu, alih-alih menghapusnya.

Aku juga belajar satu hal darimu. Bahwa cinta memang tak akan pernah mati, tetapi ia dapat pergi saat engkau memperlakukannya dengan setengah hati.

Seperti dirimu.

Hujan

Jangan biarkan aku pergi.

Aku menyukai hujan yang datang menjelang walau hal tersebut akan berarti banjir bandang. Karena hujan meniadakan luka, ia menghapus nestapa, sebagaimana debu-debu terbasuh, yang tanpanya daun-daun akan terlihat lusuh. Aku menyukai hujan karena ia menyamarkan air mata, hingga tak seorangpun melihat tetesan yang mendera.

Aku menyukai momen setelah hujan yang memang tak pernah permanen. Segala hal menjadi lebih jelas terlihat, segala jejak yang terpahat, segala hal yang menjejak kuat. Seperti dirimu yang selalu tegar walau hatimu kelu dan layu.

Hujan.

Jangan pernah biarkan aku pergi dari sisimu.

Pelabuhan Tenau, Kupang, Oktober 2017: Vivre Sans Temps Mort

“Waking soft
Waking slow
Fading into focus
Every breath
Every pulse
Holding in the moment”
―Fazerdaze, Shoulders

Setiap kali aku menjejakkan kaki di Kupang, aku selalu ke dermaga di pelabuhan ini. Entah mengapa, ada sesuatu yang menenangkan di sini, terutama di malam hari. Dengan suasana sekeliling yang temaram dan hening, selain hanya diisi oleh bunyi air yang berkecipak di bawahku saat dengan perlahan menumbuk dinding dermaga. Tentu, seperti biasanya juga, aku membawa sebungkus kerupuk kulit babi dan sebotol bir dingin.

Dalam ketenangan seperti ini juga, biasanya aku memutar kembali rel film soal kehidupanku sendiri, dalam benakku. Malam semakin larut, angin semakin kencang dan dingin. Aku menengadahkan kepalaku saat angin kembali berhembus. Kupejamkan mataku sesaat. Momen yang indah, pikirku. Dalam remang malam dan di bawah langit berbintang. Mungkin sensasi semacam inilah yang oleh Anaïs Nin disebut sebagai “an ephemeral flow of sensations” sebagaimana ia melihat lampu-lampu kota Times Square untuk pertama kalinya.

Momen yang sempurna walaupun akan berakhir dalam beberapa saat saja, pikirku. Tetapi toh tak ada masalah semenjak semua momen pasti berakhir—termasuk momen terbaik. Dan bukankah justru karena ada akhir, tak peduli berapa pun panjang waktunya, maka sebuah momen menjadi sempurna? Seperti kali ini, di sini. Inilah yang kusebut momen yang sempurna.

Angin di atas dermaga ini demikian menggigit. Tapi mungkin aku akan bisa berdiri di atas sini, memandang keindahan sublim ini seribu malam lagi. Aku membuka botol bir dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke arah bintang paling terang di langit utara. Sungguh, sebanyak apapun aku mengeluh, aku tahu bahwa aku mencintai hidup ini. 

Aku mau hidup, seribu tahun lagi.

Tangerang, September 2017: Sepersekian Detik yang Terasa Abadi

“Now I stand on the stage, I forget my lines
Do you play Satan’s imagination
And a voice in my head’s causing suicide
Searching for any way to remember them”

―Cigarettes After Sex, Flash

Aku duduk berkendara di sampingmu menembus kelamnya malam. Tak jauh berbeda dari malam-malam lainnya. Namun kali ini aku berkendara dengan sebuah tujuan. Aku berkendara untuk berpisah dengan dirimu. Sementara engkau berkendara menuju masa depanmu, bukan masa depan kita. Entahlah. Karena apakah arti masa depan bagi kita, setelah semua ini? Aku hanya menikmati keberadaanmu saat ini di sisiku.

Kita masih tak berkata apapun untuk sekian lama. Hanya engkau di pelukanku, hanya aku yang mengusap rambutmu. Tak perlu ada kata dalam momen-momen seperti demikian. Apabila kita sedang berseteru, kita akan berteriak, bukan karena posisi kita secara fisik berjauhan, melainkan karena hati kitalah yang saling menjauh dan hal tersebut termanifestasikan pada gerak tubuh dan apa yang tubuh kita lakukan. Kita berteriak. Tetapi saat kita dalam keadaan yang damai, kita akan berbisik. Karena hati kita berdekatan, yang karenanya bahkan sebuah suara dalam tingkat normalpun akan terlalu keras terdengar di telinga kita. Dan kala kita benar-benar melekat, kala jiwa kita melebur dan menjadi satu, bahkan bisikan pun tak akan lagi dibutuhkan.

Kita akan dapat saling merasa tanpa dibutuhkan kata-kata. Kita cukup mengada. Kita cukup merasa.

Kita masih juga tak berbicara. Hanya terdengar hembusan nafas kita sendiri. Aku dapat merasakan hembus nafasmu di leherku. Sementara tanganku merasai helai-helai rambut hitammu yang kau biarkan memanjang. Aku merasai kulit leher belakangmu, bahumu, lenganmu, punggungmu. Lantas tanganku kembali mengusap punggungmu. Aku tidak tahu, berapa lama aku dapat bertahan dalam posisi seperti ini.

Kau tahu? Aku ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin untuk kita berdua, tetapi aku juga tahu, aku harus berpuas dengan waktumu yang memang hanya sejenak. Karena keterbatasan waktu jugalah yang membuat setiap waktu yang kita jalani menjadi berharga. Amat berharga, menjadi abadi dalam hati, justru karena ia dapat berakhir.

Aku tahu. Itulah yang mendefinisikan sebuah momen. Momen yang kita miliki hanyalah beberapa jam. Aku menatap jam tanganku. Sudah waktunya.

Momen yang kita miliki akan segera berakhir. Kau akan kembali kepada kehidupan harianmu dan aku pada hidup harianku, menganggap momen ini seakan tak pernah terjadi tetapi sekaligus abadi. Melupakan sekaligus mengingat. Merengkuh sekaligus merelakan. Ada sebersit sinar di matamu. Mungkin juga di mataku. Tanganmu menghela rambutmu ke belakang dan kau menatapku. Engkau membuka mulutmu, lalu meletakkan bibirmu tepat di bibirku. Dan kedua tanganku secara refleks meraih belakang kepalamu, menahanmu selama mungkin. Seperti hatiku yang ingin menahanmu selama mungkin. Selama mungkin, karena ini akan segera berakhir. Selama mungkin.

Engkau adalah salah satu dari sedikit orang yang hadir di sepanjang perjalanan hidupku, yang denganmu lah, aku dapat berbagi kisah dan desah tanpa perlu merasa canggung. Engkau juga tahu, bahwa esok adalah hari ulang tahunku dan aku sama sekali tak berniat untuk merayakannya. Karena toh bagiku, aku berulang tahun di setiap pagi kala aku membuka mata dan menghela nafasku. Karena engkau juga tahu, aku tak mempercayai adanya kehidupan setelah mati.

Bagiku hidup hanyalah sekali ini saja. Kala segelas bir dingin melepas dahaga di kerongkongan kita. Kala lenguhan nafasmu ketika orgasme terasa di wajahku. Kala tetesan air perlahan mengalir di pelupuk mataku. Kala aku merengkuh dirimu dengan sepenuh hatiku. Saat ini. Pada momen ini. Sepersekian detik yang terasa abadi.

Jakarta, September 2017: Omnia Mutantur Nihil Interit

“I don’t have the heart to match
The one pricked into your finger
All things made to be destroyed
All moments meant to pass”

―Against Me, FuckMyLife666

Semua orang berwajah kaku di sini. Para perempuan muda yang cantik, mengenakan celana pendek yang mengekspos paha-paha mereka. Para lelaki kekar metropolitan yang bentuk badannya dihasilkan dari ratusan jam di ruang fitness. Para pekerja kantoran yang tunduk pada alur dunia kerja yang repetitif. Para murid sekolah menengah yang masih terlalu muda dan seringkali naif. Dengan earphone yang seakan tak pernah lepas dari lubang telinga mereka. Telinga-telinga yang menolak mendengar selain hanya apa yang ingin mereka dengar. Di antara mereka aku duduk, menatap jendela lebar di hadapanku yang menampilkan citraan halte pemberhentian, orang-orang yang sibuk lalu lalang dan gelap. Setiap kali citraan di jendela menjadi gelap karena memasuki terowongan, yang hadir adalah refleksi orang-orang di sekitarku dan juga diriku sendiri.

Wajahku juga sekaku mereka kah? Aku tidak mengenakan earphone dan tubuhku juga tidak kekar. Tapi itu tidak membedakanku dari mereka di sampingku. Tidakkah kau lihat bahwa aku tak berbeda dari mereka?

Engkau seharusnya mengerti bahwa aku bukanlah seseorang yang spesial. Aku sekedar lelaki dengan usia sekitar seperempat abad. Cukup tinggi dan memiliki sedikit kelebihan lemak di perut. Dalam banyak hal aku juga tidak memiliki satupun yang dapat kukatakan sebagai spesialisasi—aku cukup mampu melakukan banyak hal, tapi tak ada satupun yang kudalami dan kupahami teramat dalam dan jauh. Tidak seperti lelaki-lelaki lain yang dapat membanggakan apa yang mereka mampu lakukan dan membuat para lelaki lain iri, membuat para perempuan kagum. Tidak. Aku lelaki biasa saja.

Tetapi selama ini aku menyimpan sebuah rahasia. Kukatakan sekarang rahasiaku. Siapapun dapat membangun tembok yang tinggi menjulang hingga menyentuh langit untuk mengurungku, mengekang perasaanku, tapi aku selalu menemukan cara untuk terbang melewatinya. Siapapun dapat berusaha untuk mendorongku hingga jatuh dengan ratusan ribu tangan kekar yang kuat, tapi aku akan selalu menemukan cara untuk tetap bangkit.

Aku tidak memperlakukan siapapun dengan teramat baik, juga tidak dirimu. Aku bukan orang suci seperti Gandhi atau Bunda Teresa. Siddharta atau Dalai Lama. Aku tidak seperti yang selama ini banyak orang kira. Aku hanyalah seorang lelaki yang begitu rapuh kala patah hati. Seorang yang konyol dan seringkali tolol karena terlalu banyak tenggelam dalam alkohol. Pendek kata, aku sama sekali bukanlah seseorang yang spesial.

Ada banyak orang-orang lain di luar sana seperti diriku. Jauh lebih banyak dari yang siapapun kira. Orang-orang yang menolak untuk berhenti percaya. Orang-orang yang pernah terbang dan menolak untuk kembali menginjak bumi. Orang-orang yang pernah membiarkan hatinya terbuka dan menjadi sasaran mudah untuk dihancurkan. Orang-orang yang pernah menerima intensitas cinta dan juga patah hati, tapi tak hendak berhenti hanya karena terlalu takut untuk terluka lagi.

Seperti sebuah kapal yang menerima dirinya sebagai sekedar kapal—karena tempat teraman bagi sebuah kapal adalah dermaga, ia tak akan tergores ombak, tak akan dihantam badai, tapi apa guna sebuah kapal apabila ia hanya bersandar di dermaga selamanya? Bahkan Titanic dikenang bukan karena ukurannya, melainkan karena ia mengarungi samudera dan tenggelam karenanya. Seperti Ikarus, seperti pesawat ulang-alik Challenger, seperti balon udara Hindenburg. Seperti segala sesuatu yang hanya bermakna kala ia benar-benar hancur pada akhirnya.

Aku mencintaimu. Ingat selalu hal tersebut. Tidak ada siapapun yang dapat merebut rasa tersebut dariku. Tidak juga dirimu. Tidak juga siapapun. Tak akan pernah ada.

Utsukushisa To Kanashimi To

“A guy and a girl can be just friends, but at one point or another, they will fall for each other. Maybe temporarily, maybe at the wrong time, maybe too late, or maybe forever.” ―Dave Matthews Band

Pukul sebelas di malam hari. Dingin. Jangkrik memamerkan suara riangnya. Bulan bersembunyi malu di balik tumpukan awan hitam.

Air. Awalnya menggenang, dan ia pun mengalir dengan nada yang tak berirama. Ada yang cepat dan ada juga yang lambat. Hening.

Ada pula yang meledak. Namun tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang menghiraukan. Semua pun terlelap. Semuanya sedang menjelajahi dunianya di atas tempat tidur yang empuk.

Apa yang harus kulakukan?

Apakah aku terlalu naif?

Apakah aku terlalu lamban?

Apakah aku terlalu terburu-buru?

Apakah ini terjadi karena kesalahanku?

Apakah ini terjadi karena kesalahan kami berdua?

Jiwaku perlahan-lahan menjual dirinya sendiri pada depresi. Pikiranku mulai berniat untuk menghempaskan dirinya menuju jurang tanpa ujung. Ia, yang selalu kudewakan, tak sanggup lagi berpikir logis dan kritis. Aku sudah kehilangan kendali. Alam bawah sadar liar yang selalu kutekan ke dasar laut kehampaan sampai dia kehabisan napas, kini kembali bangkit berdiri dengan gagah. Ia bahkan bertingkah seperti Yesus, berjalan di atas laut yang mengerikan itu dan siap untuk menerkamku yang ketakutan di pesisir pantai.

Aku benar-benar ingin melenyapkan diriku sendiri.

Aku mengalami krisis eksistensial.

Aku itu apa?

Apa itu aku?

Aku?

Apa?

Namun, toh apa gunanya hidup tanpa segala tantangan? Apakah aku sudah terlalu lelah? Aku sudah terlanjur mencapai titik terjauh dan sia-sia apabila aku mundur dan mengibarkan bendera putih. Pikiranku telah diisi cairan frustrasi yang tidak larut meski telah dilahap oleh cairan endorphin, serotonin, oxytocin, dan dopamin secara keroyokan dan brutal. Ia tak kunjung hilang, malah membelah diri untuk menghambat aliran darah di dalam segala pembuluh dan membuat sel-sel abu dalam otakku menjadi terpaku.

Semua usahaku sia-sia layaknya suatu jejak di atas pasir yang hilang tersapu oleh desiran ombak laut. Aku pun tidak bisa memulai segalanya dari titik nol. Aku sudah berada jauh di ujung dunia dan aku menyesal telah menempuh ratusan kilometer hanya untuk menemui jalan buntu. Setiap kali rasa penyesalan itu menari dengan lemah gemulai dalam hatiku, kelopak mataku tidak bisa membendung derasnya air yang mengalir.

Padahal, aku hanya menginginkan respon. Aku hanya meminta jawaban. Aku hanya membutuhkan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’. Aku hanya ingin melihat apakah bit dalam satuan angka biner itu menunjukkan angka 0 atau 1.

Penyesalanku pun bermetamorfosa menjadi kemarahan.

Apakah semua ini hanya delusi?

Keadaan semakin tak terkendali. Lampu merah. Ketakutan. Kecemasan. Masa lalu. Masa depan. Segalanya.

Aku tertawa pahit sembari meringkih kesakitan dalam hati. Aku memang sudah gila semenjak dipertemukan denganmu oleh aliran waktu dan tangan takdir yang kejam. Aku tertawa-tawa di bawah mentari senja yang sedang menyongsong waktu menuju peristirahatan. Cahayanya bewarna jingga pastel. Menghangatkan. Menenangkan.

Memandangimu walau sejenak saja, hanya itu yang bisa kulakukan kini meski engkau tak lagi berkenan. Hatiku sepertinya tidak akan pernah kenal lelah membisikkan namamu.

I yearn, I yearn, and I yearn for you.