Tentang Sebuah Perpisahan: Kupu-Kupu Itu Telah Terbang

“If you love somebody, let them go, for if they return, they were always yours. If they don’t, they never were.” ―Kahlil Gibran

Aku melingkarkan jari kelingkingku pada jari kelingkingmu, mengikrarkan sebuah janji yang entah suatu saat dapat kita tepati atau malah sebaliknya, kita ingkari.

Aku hanya tahu bahwa dirimu telah memutuskan untuk mengakhiri kisah ini. Menutup rapat-rapat perasaanmu mengenai diriku, terkubur jauh di dalam dasar hatimu.

Aku masih menatap matamu kala waktu kembali terasa berhenti. Matamu nampak berkaca-kaca. Sepersekian detik kemudian, ada bulir-bulir airmata yang perlahan menetes di pelupuk matamu. Demikian pula halnya dengan diriku. Namun tanpa sedikitpun engkau mengusap air matamu yang mulai mengalir, engkau justru tersenyum saat jemari kita semakin erat bertautan. Senyum paling indah yang pernah engkau berikan kepadaku.

“Makasih,” ucapmu perlahan.

“Aku yang makasih,” balasku.

Aku berada di sini, sesaat sebelum senja menjelang. Untuk melepaskanmu. Merelakan kepergianmu. Aku hanya tak pernah menyangka, sekian tahun waktu yang kita lalui bersama seketika menjadi sia-sia. Namun bagaimanapun juga aku menghormati keputusanmu untuk pergi, karena seperti layaknya seekor kupu-kupu, engkau harus tetap terbang.

“Aku pergi ya,” pamitmu.

Aku tak ingin mengatakan apapun, selain hanya memandangi dirimu yang terus melangkah menjauh dariku. Aku membenci perpisahan, bukan tanpa sebab memang. Empat tahun yang lalu, seorang kawan dengan sesumbar berkata bahwa itulah saat terakhir kalinya ia berjumpa denganku. Dan benar memang, karena sang kawan berpulang tiga hari setelahnya. Sebab itulah, sekali lagi kukatakan, aku membenci perpisahan. Dan semenjak kepergianmu kini, bagiku segala sesuatunya tak akan pernah terasa sama lagi.

Terbanglah, wahai kupu-kupu yang pernah singgah di hatiku. Kepakkanlah sayapmu. Setinggi-tingginya, sebebas-bebasnya.

Advertisements