Days of War, Nights of Love: Diri Adalah Musuh yang Sesungguhnya

Aku tengah berkendara seorang diri menembus senja ini. Melalui spion yang terbentang di sisi kiri dan kananku, sesekali aku memandangi wajahku. Atau lebih tepatnya, memandangi refleksi wajahku yang dipantulkan oleh cermin cembung ini.

Di sebuah persimpangan jalan, dalam beberapa detik karena macet, motor yang kukendarai bersisian dengan sebuah mobil berkaca jendela gelap. Dan aku kembali melihat ada refleksi di situ.

Aku sendiri.

Diriku, tidaklah lebih dari sekedar citra yang terefleksikan melalui sebuah cermin. Siapa diriku sesungguhnya, siapa diriku yang dipikirkan oleh orang lain, siapa diriku dalam pikiranku sendiri. Siapa diriku sendiri?

Aku tidak tahu.

Namun satu hal yang pasti, bahwa aku hanya sekedar exist seperti apa yang Carl Sagan katakan, semata-mata sebagai kumpulan molekul organik di atas bumi yang hanya sekedar satu titik kecil di antara berjuta-juta semesta.

Hanya itu.

Tiada yang lain.

***

Sepanjang perjalanan ini, aku terus merenung. Merenungi hidupku. Entah mengapa, belakangan ini aku merasa hidupku terlalu menderita. Berbagai nestapa datang silih berganti dan terus mendera diriku.

Tiba-tiba aku teringat akan sebuah kisah tentang sang Buddha yang bersabda di hadapan para muridnya, bahwa penderitaan adalah hasil sebab-akibat dari kemelekatan manusia akan kebendaan dalam hidupnya. Buddha pun berujar, bahwa hidup akan terasa lebih ‘hidup’ saat manusia berhenti melekatkan dirinya pada segala bentuk kebendaan.

Namun sabda sang Buddha tersebut bukan berarti melarang manusia untuk memiliki apapun, tetapi artinya bahwa manusia tidak seharusnya melekatkan diri padanya. Bagiku sendiri, mungkin seharusnya aku hanya melekatkan diriku pada hidup yang kujalani, bukan pada segala sesuatu yang hadir dan hilang sepanjang perjalanan hidupku. Seketika aku pun menyadari, bahwa ada sesuatu hal yang harus segera kujalani sebelum suatu saat nanti aku benar-benar mati; hidupku sendiri.

Mengutip ucapan dari seorang kawanku beberapa waktu lalu, bahwa diri adalah musuh yang sesungguhnya.

Advertisements

Tentang Luka dan Rasa Sakit (Bag.1)

“Terang yang kau dambakan,
Hilanglah semua yang kau tanya.”

―The Trees & The Wild, Empati Tamako

Perempuan ini menyanyikan beberapa lagu untukku. Rekaman digital berformat .amr tersebut ia kirimkan melalui fasilitas voice note BlackBerry Messenger. Perempuan yang sama yang kusakiti tiga tahun lalu dan kini dapat menerima kehadiranku yang sedang terpuruk.

Sesekali ia menyindirku yang setelah sekian lama masih membeku di satu titik dalam hidupku dan tak jua beranjak.  Ia mengatakan bahwa ia pernah merasakan perih yang kurasa kini, seperti halnya dirinya yang terluka kala aku meninggalkannya dulu, tiga tahun lalu.

Aku tahu persis. Akulah yang melukainya dulu. Dulu. Dulu. Namun kini, aku melukai diriku sendiri. Dan luka ini masih terus menganga lebar. Biarlah, biarkan aku terus terluka dan menertawakan penderitaan ini seorang diri. Hingga entah kapan sang waktu memulihkanku, hingga entah kapan aku dapat kembali tersenyum.

Karena… aku tak ingin melukai dirinya lagi, seperti dulu.