Via Dolorosa

IMG_2502 (2)

Aku pernah membaca sebuah sutra Buddha yang mengisahkan tentang seorang pertapa tua yang menghabiskan seumur hidupnya hanya demi mencari kebenaran yang ia yakini, dan sayangnya pencariannya tersebut berujung pada kegagalan belaka. Dikisahkan bahwa di dalam kesendiriannya, ia berupaya menggapai sebuah bintang yang bersinar paling terang di ujung langit terkelam. Ia sama sekali tidak menyerah, ia meretas sendiri jalannya. Ia menebas setiap helai ilalang dan onak duri yang menghalangi langkah kakinya.

Waktu terus bergulir, ia pun menua dan semakin larut pula dalam pencariannya, demi menggapai sebuah kebenaran.Tragis, menurut beberapa orang yang membaca kisah hidupnya. Hingga akhirnya, dalam kesendiriannya, ia mati. Ia mati demi sesuatu hal yang ia yakini. Dan sesaat sebelum detik-detik kematiannya, ia berteriak dengan lantangnya, “Aku telah hidup, aku telah menghidupi hidupku, sehidup mungkin!”

***

“To every man his little cross. Till he dies. And is forgotten.” ―Samuel Beckett

Aku menjadikan sepenggal kalimat di atas menjadi sebuah catatan personal dalam hidupku. Kutipan tersebut senantiasa mengingatkanku bahwa sesungguhnya di dalam kehidupan ini akan selalu ada salib, selalu ada beban, selalu ada derita yang kita tanggung sendiri dan tak ada seorangpun juga yang dapat memahaminya, terkecuali diri kita sendiri yang memang telah ditakdirkan untuk memikul salib tersebut.

Advertisements