Catatan Dari Jendela Pesawat: Is Brônac mo Cineamiun

IMG_2648

Fajar baru saja hendak menyingsing ketika mobil yang kutumpangi memasuki pintu gerbang bandara Soekarno Hatta. Aku membuka jendela mobil dan merasakan hembusan angin menerpa wajahku, aku dapat mengendus aroma udara pagi hari yang segar, sesegar tetesan embun di pucuk-pucuk daun. Sehangat sinar mentari yang mengintip perlahan di balik ufuk timur. Seolah turut mengantarkanku dalam sebuah perjalanan panjang menuju timur.

Mendadak aku merasakan suasana yang sama, merasakan kenangan akan suatu masa yang telah berlalu. Nostalgia, auranya semakin kental berkecamuk di dalam jiwaku. Aku lalu kembali menutup jendela dan sesaat kemudian menghela nafas panjang. Amat panjang…

***

“Kamu tahu nggak, kenapa setiap kali pesawat terbang akan lepas landas, penumpang diberi instruksi untuk membuka jendela?” Tiba-tiba seorang pak tua yang duduk di sebelah kananku bertanya padaku yang tengah menahan kantuk dan sesekali pula menguap serta memejamkan mata.

Aku memicingkan mataku. Siapa ia? Aku tidak mengenalnya. Orang asing yang mungkin mencoba ramah dengan mulai membuka pembicaraan, entah sekedar berbasi basi atau mungkin entah apa. Entahlah.

“Nggak, saya nggak tau, pak. Emangnya kenapa?” jawabku singkat lalu bertanya balik.

“Karena mungkin saja, pemandangan di luar jendela ketika lepas landas, akan menjadi pemandangan terakhir yang dapat kita lihat dalam hidup kita. Mungkin saja pesawat ini akan jatuh dan kita mati.”

Aku hanya bisa terdiam untuk beberapa detik, berusaha mencerna perkataan pak tua tersebut hingga sesaat kemudian aku mengulas senyum kepadanya. “Benar juga pak,” ujarku.

Perlahan aku mengarahkan pandangan mataku menuju jendela di sisi kiriku, menatap kumpulan awan berwarna kelabu yang diterpa sinar mentari pagi ini.

Aku merendahkan sandaran kursi, mengatur smartphoneku ke dalam flight mode, membuka playlist di pemutar musik, memasang earphone ke telingaku dan memutar playlist tersebut sebelum akhirnya aku memejamkan mata.

***

Dua jam dan empat puluh menit sudah berlalu semenjak burung besi yang kutumpangi didorong menjauh dari garbarata yang menjulur dari salah satu pintu keberangkatan domestik bandara Soekarno Hatta. Sudah tiga kali suara awak kokpit, entah pilot atau co-pilot, yang keluar dari pengeras suara kabin: memperingatkan akan kemungkinan turbulensi yang hendak terjadi ketika pesawat memasuki gugusan awan yang membentang. Entah sudah berapa kali pula pak tua yang duduk di sebelahku menggerutu.

Aku hanya tersenyum dan kemudian menatap kosong melalui jendela pesawat di sisi kiriku. Lagi-lagi, terasa aura nostalgia untuk kesekian kalinya. Hanya saja untuk kali ini, tiada terpaan angin dari luar, karena membuka jendela pesawat terbang yang sedang mengudara dengan cara membobolnya berarti mati. Hanya helaan nafasku  yang berhembus panjang dan membekas di jendela pesawat, saking dekatnya posisi wajahku dengan sisi jendela. Membuat jendela menjadi buram karena titik-titik uap air. Aku lalu menyeka jendela yang buram tersebut dengan menggunakan telapak tanganku.

“Buramnya jendela bisa diseka, tapi kenangan nggak, kan?” seloroh pak tua di sampingku. Aku mengernyit heran, apa maksudnya ia berkata seperti itu?  Kutegaskan sekali lagi, aku hanya kebetulan duduk di sini, berada bersebelahan dengannya dan aku sama sekali tidak mengenalnya. Namun ia seolah-olah dapat membaca pikiranku yang tengah berkecamuk diterpa badai masa lalu.

“Hehehe, begitulah. Permisi, pak. Saya mau ke toilet,” ujarku ketika aku membuka sabuk pengaman. Cukup merepotkan memang duduk di pojok dekat jendela, repot bila harus melewati penumpang yang duduk di sisi aisle seperti pak tua tersebut.

Suara pengumuman dari pengeras suara di kabin pesawat kembali terdengar ketika aku menutup pintu toilet. “Silakan duduk, pak. Sebentar lagi mau mendarat,” ucap sang pramugari yang siap sedia duduk bersama seorang pramugari lainnya berada di bagian belakang pesawat.

Aku kembali hanya menyunggingkan senyum dan kembali ke barisan tempatku duduk. Aku merapikan barang bawaanku, memasukan earphone ke dalam tas selempangku. Aku mengencangkan sabuk pengaman dan berbisik perlahan di dalam hati, “Is Brônac mo Cineamiun…”

Pak tua, rupanya ada benarnya juga apa yang engkau katakan. Kenangan akan sesuatu hal, seseorang, atau apapun itu, entah baik ataupun buruk, manis ataupun pahit, memang akan selalu merekat erat di dalam ingatanku hingga kumati. Dengan sepenuh hati, aku mengakuinya.

“And I ran after that voice through the streets so as not to lose sight of the splendid wreath of bodies gliding over the city, and I realized with anguish in my heart that they were flying like birds and I was falling like a stone, that they had wings and I would never have any.” ―The Book of Laughter and Forgetting (Milan Kundera)

 

Advertisements