Di Penghujung Malam

“And if every holes makes a scar,
and every scar marks it’s place,
then I will never live freely without your trace.”

―Automatic Loveletter, Make Up Smeared Eyes

Desember. Sekarang sudah Desember.

Aku melewati bulan demi bulan untuk melupakanmu. Malam telah berganti pagi, hari demi hari pun berlalu. Tentu saja, waktu memang terus bergulir dan tak seorang pun dapat menentang arusnya. Tetapi hingga kini aku tak kunjung dapat menghapus dirimu dari ingatanku. Maka aku berusaha hanya mengingat sisi-sisi burukmu, agar aku dapat membencimu. Namun ternyata aku salah. Karena dengan mengingat sisi burukmu, berarti aku tetap saja membiarkanmu hidup dalam kenanganku. Maka aku berhenti melakukan semua itu.

Aku tidak menyetujui nyanyian Adele bahwa aku dapat menemukan orang lain yang mirip sepertimu untuk menyembuhkan luka yang telah engkau torehkan di sekujur tubuhku. Seorang kawan pernah mengatakan betapa bodohnya diriku yang membiarkan luka ini terus menganga dan tak kunjung sembuh. Mungkin ia benar bahwa aku hanyalah seorang yang bodoh, sebagaimana aku menghabiskan bertahun-tahun waktuku untuk terus tertatih mencintaimu.

Pada akhirnya, aku menyadari bahwa engkau pun pernah mencintaiku dengan setulus hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan sepenuh perasaanmu.

Pernah. Dulu.

Dulu, sebelum aku memperlakukanmu dengan buruk dan kemudian engkau memilih untuk pergi meninggalkanku dalam kesendirian kini. Lirik lagu Automatic Loveletter yang kukutip di atas kutujukan untukmu, karena persis seperti apa yang kukatakan sesaat sebelum engkau pergi, bahwa siapapun dapat mengisi relung hampa di hatiku, namun tetap tak akan sama rasanya seperti saat engkau masih berada di sini.

Desember. Sekarang sudah Desember.

Sebab itulah ketika aku terjaga dari tidurku malam ini, aku ingin berterimakasih padamu. Karena tanpa kepergianmu, aku tak akan pernah bisa memahami bagaimana rasanya ditinggalkan olehmu, oleh seseorang yang begitu kucintai. Karena tanpa memaknai kehilanganmu, pada akhirnya aku tak akan pernah dapat berdamai dengan diriku sendiri.

Pada akhirnya. Pada akhirnya. Pada akhirnya.

Advertisements

Gunung Gadung, Bogor, 6 Desember 2015: Rintik Hujan yang Menetes Adalah Anugerah

Tan Hoan Tjay.

Aku menatap lekat-lekat namanya yang terukir di batu nisan. Ia adalah ayahku, lelaki yang telah mewariskan darahnya, darah yang kini mengalir di sekujur pembuluh darahku. Entah mengapa aku berkunjung ke makamnya. Hanya saja pagi tadi, entah mengapa aku merasa amat merindukannya, walaupun kusadar ia telah tiada. Ia memang telah tiada, dan hanya makamnya yang dapat ku temui sekarang. Hanya gundukan tanah yang tersisa. Hanya itu.

Berasal dari Cina, kakekku yang ketika itu masih remaja datang ke Indonesia dari Fujian sesaat setelah kemerdekaan negeri ini. Ia menetap di Bogor untuk menjadi pedagang sembako dan hampir dipenjarakan karena dituduh menjadi simpatisan PKI pada tahun 1965. Setahun setelah itu, lahirlah ayahku.

Terlahir sebagai seorang keturunan cina di awal-awal rezim Soeharto, memang membuatmu amat sulit memperoleh hak sebagai warga negara. Ketika itu, mengurus surat bukti kewarganegaraan republik Indonesia (SBKRI) lumayan menguras waktu dan uang. Engkau akan dioper kesana-kemari, dari meja dan meja, dari amplop ke amplop. Melelahkan. Menyebalkan.

Aku tersenyum simpul ketika kakekku menceritakan hal itu. Saat itu, aku hanyalah seorang bocah polos yang berumur 6 tahun. Tak mengerti apa-apa, hanya tertawa. Ia menyuapiku dengan segempal kue keranjang, agak lengket memang. Aku melepehnya, aku tak begitu menyukai kue itu, dan kakek hanya tertawa. Sore hari Imlek itu masih terpatri begitu kuat dalam memori otakku hingga saat ini. Namun tak pernah kusangka setahun setelah itu, kakek berpulang. Dimakamkan bertumpuk dengan nenek yang telah meninggal dua tahun sebelumnya, aku melihat air muka ayahku amat sedih ketika menyampaikan kata-kata dukacita.

Ada sesuatu yang hilang dari diri ayah sejak saat itu, dan aku sadar bahwa ia akan kehilangan seluruh gairah hidupnya andai saja tak ada dukungan dari ibu. Namun tetap, semua takkan pernah sama seperti sebelumnya, saat semuanya masih baik-baik saja. Ada ruang hampa yang terhampar luas, jauh di dalam relung hatinya. Persis seperti apa yang kurasakan kini, empat tahun selepas kepergiannya.

Aku masih berjongkok di depan makamnya, mencabuti rumput-rumput yang tumbuh liar. Rumput liar memang tumbuh amat cepat di musim hujan seperti sekarang ini. Sang penjaga makam berseloroh padaku, bahwa kavling tanah milik keluargaku masih cukup untuk menampung sekitar empat atau lima makam lagi. Seketika aku tertawa dengan getirnya.

Rintik hujan mulai turun perlahan, membasahi gundukan-gundukan tanah makam. Aku bergegas pulang dengan membawa sejuta kehampaan dalam hati. Aku melangkahkan kaki untuk segera pergi menjauh, meninggalkan kesunyian makam. Derai air mataku mengucur deras sepanjang perjalanan pulang, namun beruntung hujan dapat menyamarkan kesedihanku.

“Terimakasih, hujan. Terimakasih engkau telah sudi menemaniku pulang.” Aku mendesis lirih.

“Rasa dingin menembus raga,
rasa dingin menembus jiwa,
rasa ini tak terlupakan,
bersamamu…”

― Koil, Lagu Hujan

Jalan Merdeka, Bogor, 5 Desember 2015: Panta Rhei

jalan-merdeka

“And I will sing to myself that I’m gonna be free,
but the road I must travel, yeah, it’s end I cannot see…”

―The Nightwatchman, The Road I Must Travel

Sekitar 17 belas tahun lalu, hanya beberapa saat sesudah kerusuhan Mei 1998 di Jakarta, kakekku mengajakku untuk membeli buku bacaan pertamaku di toko ini, Toko Buku 88. 50 Cerita Bijak judulnya. Kumpulan fabel karangan Aesop si pendongeng Yunani itu. Terakhir kali aku melihatnya beberapa bulan lalu, buku itu tergeletak begitu saja di atas tumpukan kardus di gudang. Mungkin esok, aku akan mencarinya kembali.

Kembali. 

Kini, 17 tahun kemudian, aku pun kembali menyusuri jalan di sekitaran Jembatan Merah yang mengingatkanku akan kenangan itu. Bukan, bukan Toko Buku 88 atau pun buku fabel Aesop yang membangkitkan rasa nostalgia dalam diriku. Segala aspek kebendaan bagiku kini adalah sesuatu yang mau tak mau perlahan-lahan harus kulepaskan agar aku tak lagi melekatkan diriku pada benda-benda mati yang suatu saat kelak akan kutinggalkan saat aku mati. Sungguh, menyerahkan diriku pada takdir, membuat hidupku terasa semakin ringan. Tetapi, kenangan akan masa-masa itu…

Turun di Stasiun Bogor, aku berjalan menuju Taman Topi. Dahulu pedagang kaki lima-nya tak sepadat ini seingatku. Selepas melepas lelah sejenak, aku berbalik arah dan kemudian menuju Jembatan Merah. Rintik hujan perlahan turun sehingga aku terpaksa mempercepat langkah kakiku.

Sesampainya di Toko Buku 88,  aku mendapati bahwa rak-rak bukunya tidak lagi terlihat sepenuh sebelumnya. Buku resep dan buku pelajaran disusun ke samping―dua atau tiga buku setiap tumpukan―supaya terlihat penuh. Binder arsip disusun agak jarang dan berjauhan. Pramuniaga masih memakai seragam yang lama, selama bertahun-tahun modelnya masih sama. Tak banyak hal yang berubah, kecuali memang, pembeli tak lagi banyak berdatangan ke toko ini. Tetapi tetap saja, perubahan itu ada. Rupanya, masa-masa ketika wilayah sekitar Jembatan Merah menjadi tujuan belanja utama di kota Bogor sudah lama berlalu.

Panta rhei. Life is a flux. Semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap, begitu ujar Heraklitus, seorang filsuf Yunani kuno. Setelah melalui segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku ini, aku mengamini perkataannya. Tiada hal yang tak berubah di dalam dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri. Namun lagi-lagi… Kenangan itu kembali membayangi diriku. Bahkan lebih dari itu, ia telah menyandera ingatanku. Benar adanya ungkapan bahwa nostalgia tidaklah hanya sekedar memabukkan, namun ia juga mematikan.

Lantas, kemana pula ia akan membawa diriku kini? Sungguh, aku tak tahu. Di atas langit sana tak nampak matahari yang semula kuharap dapat menyinari sepanjang Jalan Merdeka untuk menunjukkan kemana langkah kakiku ini mengarah.

“Let’s take another road…” ―Au Revoir Simone, Crazy