Tentang Kematian: Memento Mori

Apakah engkau tidak setuju bahwa dalam diriku, aku mempunyai semangat sebesar semangat yang dimiliki angsa-angsa? Karena angsa-angsa itu ketika menyadari bahwa mereka pasti akan mati setelah bernyanyi sepanjang hayatnya, lantas mereka bernyanyi lebih riang lagi dari sebelumnya, bergembira karena akan segera pergi menuju Tuhan yang para menterinya adalah mereka sendiri. Tetapi manusia, karena mereka takut akan kematian, mulai menebarkan fitnah bahwa angsa-angsa tersebut menyanyikan ratapan menjelang akhir hidupnya.

Tuturan bernada nubuat itu diucapkan oleh Socrates menjelang kematiannya, ia dieksekusi dengan cara menenggak racun sebagai hukuman karena mengajarkan kemerdekaan berpikir dan berfilsafat. Sang filsuf buruk rupa dari Yunani ini tanpa gentar sedikit pun menghadapi saat-saat kematiannya. Karena sang filsuf sejati, ujarnya, adalah mereka yang justru bergembira dengan tibanya kematian. Melalui kematianlah seseorang bisa lebih leluasa memurnikan jiwanya dari pengaruh ragawi dan kemelekatan akan nafsu tubuh. Bagi Socrates, berfilsafat adalah seni melatih diri untuk mati.

Begitu pula Heidegger yang memberi ciri pada kehidupan manusia sebagai Sein-zum-Tode, ada menuju kematian. Heidegger mengatakan bahwa manusia sebenarnya sudah ditakdirkan untuk mati semenjak ia lahir, karena hakikat hidup manusia ialah ada untuk menyongsong kematian. Kesadaran akan adanya kematian merupakan cara mengada yang khas dan membebani eksistensi manusia sejak awal mulanya. Inilah makna waktu dalam arti sejatinya, yakni lahir dan menuju kematian.

Heidegger juga menegaskan bahwa detik-detik menjelang kematian adalah saat-saat paling otentik yang dimiliki setiap individu, karena pada momen tersebut, kesadaran manusia selalu menghadapinya sendiri. Karl Jesper bahkan menyebut realitas kematian sebagai situasi-situasi batas eksistensi manusia, seperti lazimnya semua perasaan tak berdaya yang muncul menyergap ketika manusia dihadapkan pada kenyataan akan kematian, sebagaimana celoteh Chairil Anwar bahwa hidup hanyalah menunda kekalahan.

***

“People living deeply have no fear of death.” ―Anaïs Nin

Kita semua tentu akan mati. Kita semua, manusia, akan mati satu saat nanti. Mungkin esok, mungkin satu jam lagi, atau bahkan satu menit ke depan. Kita juga akan mati karena tua, atau sakit, atau kecelakaan. Atau apapun. Segala sesuatu akan berakhir. Itu pasti.

Kita berusaha menyembunyikan fakta bahwa kematian pasti akan datang. Menolak dan melarikan diri darinya. Kita mengingkari kematian dari kesadaran dan hidup harian. Mengenyahkannya sejauh mungkin. Seorang kawan bahkan menganggapku lancang, saat aku sekedar berkata bahwa kita tak pernah tahu kapan kematian datang. Itu hal yang tabu untuk diucapkan, katanya.

Tetapi, disadari atau tidak, diakui atau tidak, kematian ada di sana. Membayangi dan menunggu. Ia tidak bersembunyi, ia hanya bersabar. Dan karenanya, bukankah ia juga yang sesungguhnya memberi makna pada hidup?

Itulah masa depan kita semua. Itulah satu-satunya persamaan yang dapat melindas segala bentuk perbedaan dalam hidup ini. Satu-satunya. Satu-satunya.

Engkau harus selalu bersiap akan hadirnya kematian: kematianmu sendiri, kematian orang lain. Hal ini adalah bagian dari lingkar kehidupan. Melupakannya, artinya engkau kehilangan makna akan hidup. Engkau menghina arti hidup. Engkau menyepelekan kehidupan.

“Death is not the greatest loss in life. The greatest loss is what dies inside us while we live.” ―Norman Cousins

Advertisements