Di Penghujung Malam: Bintang dan Harapan yang Sesungguhnya Telah Lama Mati

Aku masih terjaga. Kantuk tak kunjung menyapaku. Sejenak aku teringat akan dirimu, teringat akan malam-malam kelam yang telah kita lalui bersama dulu.

Dulu.

Dulu, pada malam seperti sekarang ini, biasanya engkau akan membuka jendela dan mengajakku untuk melihat mengawang jauh menembus batas langit. Jauh di atas sana, bintang-bintang bertaburan hampir di segala penjuru dan berkelap-kelip memancarkan pesonanya. Menyejukkan hati.

Pelan kau berjalan dalam kabut malam,
jangan berhenti walau rasa perih,
jauhnya tujuan, luasnya halangan,
jangan kau henti ucapkan harapan…

‘Bernyanyi Menunggu’ dari rumahsakit masih terdengar sayup-sayup dari speaker laptopku. Lagu kesukaanku yang kini seketika mengingatkanku akan dirimu.

Engkau pernah berkata padaku tentang bagaimana seharusnya hidup ini berjalan. Tentang betapa pentingnya berharap dalam kehidupan ini. Tentang bagaimana menaruh harapan pada apa yang kita percayai. Tentang bagaimana mempercayai cahaya kebenaran seperti yang sedang dipancarkan oleh bintang-bintang nun jauh di sana.

Dalam sebuah perbincangan denganku, engkau pernah mengutip perkataan Cicero, “while I breathe, I hope”. Aku hanya mampu tersenyum kecut kala itu. Setahuku hidup Cicero berakhir mengenaskan, ia tewas dibunuh. Harapan apa yang dapat dimiliki oleh seseorang yang telah mati?

Namun engkau bersikukuh bahwa hidup haruslah selalu memiliki harapan. Aku mengalah, aku tak ingin semuanya menjadi semakin berlarut-larut. Dari perspektif yang amat subjektif, tentu saja engkau dan Cicero benar. Akan tetapi kini aku semakin ragu, apakah yang telah kalian katakan adalah sebuah kebenaran, atau hanya sebatas pembenaran bagi diri kalian masing-masing? Engkau bisa berkata seperti itu, hanya karena hal tersebut sesuai dengan apa yang kau yakini; harapan. Demikian pula halnya Cicero.

Sedangkan aku berbeda.

Aku terduduk di tepian ranjang dan menyadari betapa kelamnya malam ini. Aku kembali menatap keluar melalui jendela tanpa membukanya. Bintang-bintang di atas sana masih ada, mereka masih berkelap-kelip dengan segala keindahannya. Namun apa yang kini kulihat hanyalah ilusi semata karena ada kecepatan cahaya yang menipu penglihatanku. Sebab sesungguhnya apabila merujuk pada ilmu astronomi, bintang-bintang tersebut telah mati sekian ribu tahun lalu. Maka akan terlihat begitu naif apabila aku menggantungkan harapanku pada bintang-bintang yang telah mati. Amat tragis pula jikalau aku mempercayakan seluruh kehidupanku kepada mereka yang telah lama mati.

Aku tak ingin membuka jendela karena aku tak mampu lagi menahan perih akan semua kenangan yang telah kita lalui bersama. Aku selalu teringat akan dirimu, di setiap hari, di setiap malam, di setiap waktu yang kulalui. Maka salahkah jika aku mengunci semua ingatan tentang dirimu jauh di dalam relung hatiku, agar aku mampu melanjutkan perjalananku yang telah terlalu lama terhenti?

Advertisements

Aku Semestinya Tidak Berada di Sini

Aku semestinya tidak berada di sini. Pemateri yang kira-kira berusia dua dekade lebih tua dariku ini berbincang dan terus berbincang. Menyebalkan. Aku bisa lihat dari bagaimana ia bertutur. Ia berkisah soal apapun, mulai dari sejarah hidupnya, buku-bukunya yang mengangkat tema yang cukup kontroversial, bagaimana cara menulis yang runut, bagaimana meningkatkan pengikut di jejaring sosial, pengalaman kala ia menghadiri acara sashimi girl untuk pertama kalinya, dan lain sebagainya. Memuakkan, pikirku.

Ia bertingkah seperti kebanyakan kelas menengah ngehe kekinian. Pretensius. Seperti dua orang kawan yang duduk di sebelahku. Kulihat, salah seorang dari mereka nampak tak sabar untuk mengacungkan tangan, menyanggah ucapan sang pemateri dan turut hadir ke dalam arena diskusi. Aku sama sekali tidak tertarik, seperti yang kukatakan tadi, aku semestinya tidak berada di sini, di acara Social Media Week sialan ini.

Lagipula apa pentingnya bagiku apabila aku mengungkapkan pendapatku? Apa gunanya kalau hal tersebut membuat kami berdebat? Apa pula keuntungannya bagiku apabila misalkan aku berhasil memenangkan argumen? Dominasi intelektual bagiku? Orgasme intelektual? Entahlah. Itu bukan hal-hal yang penting bagiku.

Kini sang pemateri kembali menuturkan kisahnya, kala ia mengunjungi tempat-tempat nun jauh di sana yang selama ini hanya aku lihat di atas peta. Traveling. Seketika aku tahu bahwa ini akan semakin memuakkan.

***

“Lo kurang piknik, nggak semuanya harus lo sinisin kali, buat gue naik gunung tuh momen yang pas buat ngerenung, buat ngedeketin diri sama alam,” ujar seorang kawan kala kami tengah berada dalam perjalanan pulang.

Aku tidak ingin menyanggah ucapannya, semenjak kini tiba-tiba semua orang jadi traveller dan merasa dirinya seperti karakter di The Alchemist. Mendekatkan diri dengan alam? Sesuatu yang kerap mereka sebut sebagai spiritualitas? Aku cukup yakin para traveller itu tidak pernah membaca Zen and The Art of Motorcycle Maintenance-nya Robert M. Pirsig. Mereka tidak tahu bahwa spiritualitas tidak hanya bisa didapat di tempat-tempat yang jadi tujuan-tujuan wisata, tempat-tempat yang ada di pamflet-pamflet paket liburan yang terindah dan yang terisolir, atau tempat-tempat panoramik di bagian belahan dunia lain, di manapun itu. Spiritualitas menurutku bisa didapatkan di mana saja, bahkan di tempat-tempat terkumuh dan terpadat di Jakarta sekalipun.

Mendadak aku menyesali keputusanku untuk menghadiri acara ini. Memang, aku semestinya tidak berada di sini. Melainkan di pinggir-pinggir jalan dan di kolong-kolong jembatan, bersama dengan mereka yang tidak beruntung dalam hidup namun masih tetap bertahan dan mencintai hidup ini sebagaimana adanya.