Tentang Generasi Dungu

Telukjambe, Karawang, 2 tahun yang lalu.

Kerumunan orang yang terdiri dari sekelompok petani serta beberapa elemen massa, termasuk organisasi kemahasiswaan yang di mana aku tergabung di dalamnya, memblokade ruas jalan tol Cikampek. Ribuan anggota Brimob dan Barakuda diturunkan untuk mengeksekusi lahan pertanian seluas 350 hektar. Tembakan peluru karet ke udara, gas airmata, serta semburan air dari water cannon tak lantas membuat kami kocar-kacir meski sedikit dari kami yang bertahan dan lebih banyak yang terluka dan dilarikan ke rumah sakit.

Hatiku terenyuh saat melihat seorang petani tua yang berpakaian lusuh membawa sebuah papan bertuliskan “Petani Karawang Tidak Takut Mati” dan berhadapan langsung dengan moncong senapan aparat. “Kami nggak mau anak cucu kami nanti makan batu, kami butuh tanah buat nanam, bukan pabrik, bukan juga perumahan,” ujar sang orator aksi kala itu yang masih terngiang jelas di telingaku hingga kini.

Hari ini mungkin sembilan kepala terinjak di penjara
Esok ratusan hutan meronta kekang dalam urat tanah
Balaklava kerudung pakaian anyaman bulir gabah
Cangkul celurit dan arit menjaga tanah sebelum kalian jarah

―Senartogok, Fatum Brutum Amor Pati

***

Jatisari, Karawang, akhir Mei 2016.

Aku mengenyam pendidikan tinggiku di bidang pertanian, agronomi lebih tepatnya. Setelah lulus dari bangku kuliah pun, aku bekerja di bidang yang sama. Bidang yang mengharuskanku untuk bertemu dan berbincang dengan sekian banyak orang dari berbagai macam latar belakang, mulai dari instansi pemerintah, kelompok tani, perusahaan pertanian lainnya, pedagang beras di pasaran, hingga tengkulak sekalipun.

Salah satu yang kutemui adalah para pengunjung pada pameran di sebuah balai pertanian di Karawang yang kuhadiri sebagai perwakilan dari perusahaan tempatku bekerja. Aku menanak nasi di stand perusahaanku, untuk kemudian menampilkan hasilnya di meja pameran. Saat menanak nasi, aku teringat akan petak-petak sawah yang berada beberapa blok di belakang rumahku di Tangerang. Aku teringat petak-petak yang lain berjarak sekitar lima menit berjalan kaki ke arah kiri dari rumahku juga. Kadang semasa kecil, aku diajak oleh ibuku ke tempat penggilingan padi di dekat sawah-sawah tersebut, berjumpa dengan ibu-ibu petaninya untuk membeli beras langsung dari mereka kala musim panen menjelang. Dulu di sebelah sawah tersebut ada lapangan yang cukup luas di mana anak-anak sekitar bermain menghabiskan waktu. Aku belajar bermain bulu tangkis di sana. Aku belajar menerbangkan layang-layang pertamaku di sana juga. Ada kenangan yang melekat karena ia telah menjadi bagian dari sejarah personalku.

Namun kini sawah-sawah itu telah tiada. Di blok belakang rumahku, petak-petak sawah telah menjadi sebuah kompleks perumahan lainnya. Penggilingan padi tempat ibuku dulu membeli beras juga telah berubah menjadi gedung kecil tempat usaha digital printing. Tak ada lagi lapangan dan persawahan. Masa pertanian kini nyaris habis, corak ekonomi bercocok tanam telah digeser oleh corak produksi industri. Persis seperti bagaimana dulu corak produksi bercocok tanam telah menggeser corak produksi berburu dan meramu. Semua memiliki masanya tersendiri. Pertanian memang masih ada kini namun bercorak pertanian industri. Para pemiliknya tak lagi majikan-majikan kecil yang hanya memiliki dua atau tiga petak sawah yang mempekerjakan hanya empat atau enam orang petani, melainkan konglomerat yang memiliki ratusan hektar lahan hasil pembukaan hutan serta ratusan pekerja yang menguras keringat dalam jam kerja panjang hanya demi upah yang tak seberapa.

Aku menatap rice-cooker. Beras yang ada di dalamnya adalah beras yang memiliki brand. Beras organik yang dikemas oleh perusahaanku. Beras yang dapat engkau beli di supermarket. Di jajaran rak beras, bersanding dengan beras-beras yang dikirim dari Thailand. Thailand? Yang benar saja? Ibuku dulu membeli beras dari sawah yang dapat ditempuh berjalan kaki selama lima menit, sekarang dari Thailand? Sejauh itukah lokasi produksi untuk apa yang kita makan saat ini?

Dunia kini memang telah jauh berubah. Generasi orangtuaku akan segera lenyap, digantikan oleh generasiku dan generasi di bawahku yang tak pernah lagi merasakan ikatan langsung dan kedekatan fisik antar manusia. Generasi yang terdiam membisu dan selalu terpaku pada layar smartphone-nya masing-masing ketika duduk saling bersisian di bus Transjakarta yang penuh sesak. Generasi yang percaya bahwa hanya dengan berkoar melalui akun media sosialnya dapat menghasilkan perubahan yang nyata. Generasi yang dengan pongah merusak ruang hidupnya dan meratap kala bencana alam datang menerpa. Generasi yang dibesarkan untuk hidup seorang diri dan terlalu terikat pada teknologi belaka. Generasi dungu.

Only when the last tree has been cut down, the last fish been caught, and the last stream poisoned, will we realize we cannot eat money.

―Cree Indian Prophecy

Advertisements

Tentang Luka dan Rasa Sakit (Bag.2)

“There are wounds that never show on the body that are deeper and more hurtful than anything that bleeds.” ―Laurell K. Hamilton, Mistral’s Kiss

Aku masih mencintaimu. Engkau tentu tahu akan hal itu. Namun satu hal yang tak engkau tahu, bahwa kenangan akan dirimu kini tak lagi berhasil meremukkanku, kendati aku tetap merasa terluka. Masa laluku kini pada akhirnya berhasil tersimpan dengan baik pada tempat dimana seharusnya ia berada: di masa lalu. Lantas mengapa aku harus meratapi apa yang telah berlalu? Aku seharusnya merayakan perpisahanku denganmu, engkau yang pernah memberiku patah hati terburuk yang pernah kualami. Seperti bagaimana beberapa suku terpencil di pedalaman yang melihat kematian sebagai sesuatu yang patut dirayakan, bukannya diratapi. Karena memang demikianlah adanya, aku ada di sini saat ini, menjadi seperti ini, adalah hasil bentukan dari luka yang telah kulalui. Luka yang telah engkau torehkan di sekujur tubuhku.

***

Luka, bagiku, adalah bagian dari hidup.

Menerima luka sebagai bagian dari hidup, menurutku justru merupakan langkah pertama untuk tidak menderita. Melawan atau lari dari luka itulah yang justru membawa penderitaan berkepanjangan. Entah sudah berapa lamanya aku menderita. Benar-benar menderita, hingga pada satu titik aku menyadari dan menerima luka tersebut sebagai sebuah fakta, sebagai sesuatu hal menyedihkan yang telah terjadi di masa laluku. Maka semenjak saat itu pula penderitaanku menguap, menyublim bersama waktu yang terus berlalu, walau luka ini mungkin saja tak akan pernah mengering. Tetapi pada akhirnya aku telah bersahabat dengan rasa luka ini. Aku telah terbiasa. Dan kala sesuatu hal telah membekas dan menjadi bagian dari diri kita, maka kita tak akan pernah terganggu lagi oleh keberadaannya. Dan mungkin memang harus demikianlah aku menjalani hidupku kini. Melalui pedih. Melalui perih. Sendiri. Tanpamu.

Days of War, Nights of Love: Ajari Memintal Rindu di Balik Kelopak Matamu

Matamu kini mulai berair. Namun aku tetap dapat menatapmu dengan lurus, menembus kedalaman matamu.

Tidak, kita tidak bertatapan secara langsung. Kita hanya bertatapan melalui layar monitor komputer masing-masing, yang kadang patah-patah dan berhenti karena koneksi internet yang payah. Begitulah. Malam ini, aku menatap matamu. Mata yang bening dan berkaca-kaca.

Engkau, dalam citraan digital yang patah-patah, balik menatapku. Sudah lama aku tidak menatap matamu. Matamu masih tetap sama. Mungkin sorotnya saja yang berbeda. Ada benarnya kala dahulu Sartre mengatakan bahwa tatapan mata seseorang memang dapat membekukan objeknya, atau dalam hal ini, diriku.

“Jadi, kamu mau ngehapus aku dari kehidupan kamu?” tanyamu.

“Begitulah,” jawabku.

“Kenapa?” tanyamu lagi.

Aku hanya terdiam. Membisu.

Engkau masih terus memandangiku, matamu terlihat seperti hendak menitikkan air mata.

“Semua nggak akan pernah sama seperti sebelumnya,” jawabku pelan sambil menghela nafas panjang. Teramat panjang.

Engkau menoleh ke samping. Entah menatap apa. Agak lama, sebelum wajahmu kembali menghadap webcam.

“Apa nggak ada cara lain?” tanyamu lagi, entah untuk yang kesekian kalinya.

Aku menggeleng. Dapat kulihat bahwa dari ujung matamu mulai mengalir air bening yang kemudian membasahi kedua belah pipimu.

Tanganmu ditutupkan di mulutmu, seakan menahan sesuatu, lantas engkau mengatupkan matamu dengan rapat.

“Maaf…” bisikku perlahan.

Aku menunduk. Aku mengerakkan mouse dan menekan satu opsi di layar monitor komputerku. Quit Skype.

Aku membuka Windows Explorer dan menyusuri daftar koleksi mp3 di komputer. Aku memilih satu lagu, sebelum aku menghempaskan tubuh ke kasur dan menatap langit-langit atap kamarku. Tanpa kusadari, bibirku turut menggumamkan sebuah senandung dari lagu yang mengalun.

Ajari memintal rindu di balik kelopak matamu…