Sesuatu Bernama Rindu: Sendu Melagu

“It’s always better to miss someone secretly than to let them know and get no response. There’s always some truth behind ‘just kidding’, a little emotion hidden under every ‘I don’t care’, a little pain concealed in every ‘its okay’, and a little ‘I need you’ in every ‘leave me alone’.” ― Athar Ali Khan

Sesungguhnya aku merindukanmu. Tanpa aku harus membuat-buatnya, tanpa aku harus memulainya terlebih dahulu. Ia datang melalui semua waktu dan tempat. Kapanpun dan dimanapun. Termasuk kala hujan membasahi panggung Barasuara malam ini.

Ketahuilah bahwa selama ini aku selalu memilih untuk membiarkan rindu tersebut lewat tanpa dicegat. Rindu, adalah memberi jarak pada sesuatu yang seharusnya dekat. Jarak yang tak nampak, jarak yang seharusnya justru memberi arti. Dan rindu adalah sebuah tanda bahwa seseorang masih berarti bagi hidupmu. Karena saat engkau kehilangan rindu, artinya engkau telah kehilangan arti hubunganmu dengan orang tersebut.

Semua yang kau rindu,
semua menjadi abu…

Pernahkah engkau menahan sebuah kerinduan yang terlalu besar tanpa bisa melakukan apapun, karena engkau mengerti bahwa seseorang yang engkau rindukan sedang ingin berhenti dari semua kepenatan yang ia selami? Pernahkah engkau menahan sebuah rasa rindu yang terlampau besar, hingga acapkali terbangun di tengah malam dan teringat akan seseorang yang berada jauh darimu dan mungkin juga tengah memikirkanmu?

Langkahmu tak berkawan,
Kau telah sia-siakan…

Entah sudah berapa ribu kali kerinduanku padamu terlintas. Kala malam menjelang, kala pagi menyapa, kala senja menghampiri. Apa yang sedang engkau lakukan? Apakah dirimu baik-baik saja? Apa ceritamu hari ini? Dengan siapakah engkau berbagi kisah hidupmu? Apa yang sedang engkau rasakan sekarang? Entah sampai kapan aku dapat menemukan jawaban atas pertanyaan di benakku tersebut?

Waktu yang kau tahu,
waktu yang berlalu…

Di tengah derasnya guyuran hujan malam ini, aku turut bernyanyi bersama penonton lainnya dengan semakin kencang, walau hanya suara sumbang yang keluar dari bibirku. Biarkanlah rasa ini terjawab dan terekstasikan lewat konser sepanjang beberapa puluh menit ini. Hanya agar engkau tahu bahwa aku tidak pernah sekalipun berhenti memikirkanmu, di tengah-tengah keraguanku untuk sekedar menyapamu. Dan pertempuran dalam hatiku ini mencapai puncaknya kala Iga Massardi melantunkan ‘Sendu Melagu’.

Ingatmu kau merayu,
ingatnya kau berlalu…

Seketika aku pun teringat akan sebuah kalimat yang mewakili ribuan doa dan janji yang tak pernah kuhafal dan kuucapkan secara langsung di depan wajahmu. Walau aku yakin, aku akan melakukannya, suatu hari kala kita berpapasan kembali.

Satu buah kalimat dengan tiga kata yang mewakili semua perasaanku malam ini.

I miss you.

Beserta sepucuk keyakinan bahwa rindu yang kumiliki belumlah berubah. Dan ia tidaklah berubah, semenjak pertama kali aku berjumpa denganmu, enam tahun yang lalu.

Advertisements

Tentang Berpuasa

The Hospitaller: “I put no stock in religion. By the word of religion, I’ve seen the lunacy of fanatics of every denomination be called the ‘Will of God’. Holiness is in right action and courage on behalf of those who cannot defend themselves.”

―Kingdom of Heaven

Belum lama berselang kala menjelang bulan Ramadan, ada seruan untuk menutup tempat-tempat makan di siang hari. MUI menyarankan hal tersebut. Pemerintah-pemerintah daerah menyerukan hal tersebut. Salah satunya, pemerintah Kota Serang yang melalui perpanjangan tangan Satpol PP merazia warung-warung makan yang buka siang hari di sekitaran Kota Serang. Melalui foto-foto razia yang beredar di media online, aku mengenali warung-warung tersebut, beberapa di antaranya bahkan sempat menjadi langgananku semasa kuliah dulu. Berita, foto dan video mengenai razia tersebut menjadi viral, apapun yang menyerempet soalan isu agama akan menjadi polemik besar seakan semua hal tersebut hal yang begitu besar. Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa soalan puasa, soalan warung tetap buka atau tidak, sebagai bukan hal yang besar. Tapi soal tersebut amat besar dalam artian personal, bukan dalam soalan sosial.

***

Aku menenggak sebotol air mineral dingin yang diletakkan di atas meja oleh salah seorang kawanku. Kawanku ini merupakan seorang Muslim yang setahuku, sedang berpuasa. Ia sedang menahan rasa lapar dan dahaganya sepanjang hari ini. Atau lebih tepatnya, melawan hawa nafsunya sendiri ketika menyuguhkan minuman kepadaku saat aku datang bertamu ke rumahnya. Sungguh sebuah pelajaran berharga yang kudapatkan dari kawanku tersebut, bahwa tak ada musuh yang lebih sulit untuk ditaklukkan dalam hidup ini, selain diri kita sendiri.

Kawanku mengatakan bahwa dalam upaya menaklukkan dirinya sendiri ini, ia tak bisa menyalahkan atau meminta siapapun di luar dirinya untuk turut berpartisipasi di dalamnya. Ia tak akan pernah menyalahkan warung makan yang buka kala Ramadan sehingga mungkin membuat orang-orang membatalkan puasa. Mereka hadir justru sebagai ujian bagi diri kawanku tersebut, sebagai sesuatu hal yang teramat personal untuk ia hadapi. Toh, bukankah semua ujian dalam hidup kita adalah alat untuk menempa kita menjadi siapa dan seperti apa diri kita kini?

Perkataan kawanku tersebut membuatku sadar, bahwa seharusnya umat Muslim tak boleh lemah. Tetapi mungkin kawanku berbeda dalam cara banyak orang-orang lain, Muslim-Muslim masa kini, dalam berpikir. Katanya ingin lulus ujian, katanya berjuang untuk meraih surga. Anehnya, mereka bukannya menempa diri, namun ingin jalannya dimuluskan. Ingin lulus ujian kok minta soalnya dipermudah. Mau berjuang kok manja.

Bayang-Bayang Masa Lalu Menyandera Masa Depan

Tepian sebuah danau di Citra Raya, tiga tahun yang lalu.

Dengan beralaskan flat shoes yang semula engkau kenakan, engkau duduk tepat di sampingku. Menatap langit. Memandangi awan putih yang terhampar luas, seperti lukisan abstrak tanpa pola yang berubah dari detik ke detik.

“Kamu suka?” tanyamu sembari tersenyum. Mungkin engkau melihat senyumanku yang tadi mengembang dengan kepala menengadah.

“Ya,” jawabku singkat seraya menoleh padamu. Senyumanku semakin lebar.

Aku kembali menatap langit. Baru saja sesaat waktu berlalu, rupanya awan yang tadi bergelung di atas sana sudah beranjak pergi. Tak ada yang sama. Tak akan pernah ada. Itulah alasan mengapa aku kerap menatap langit ketika diriku merasa sedih. Karena dengan melihat langit, aku sadar bahwa tak akan ada yang abadi. Juga kesedihanku. Sebagaimana awan yang selalu berubah-ubah, perasaanku juga akan segera berubah. Kesedihanku akan segera pergi.

Sepersekian detik berikutnya, aku berpaling menatapmu. Aku selalu menyukai senyumanmu. Sejenak kutatap matamu dalam-dalam, menembus cerahnya sepasang bola matamu. Kita pun saling bertatapan dengan teramat dalam. Semenit. Dua menit. Entah berapa lama, aku tak lagi menghitungnya. Senyumanmu masih ada. Matamu tetap cemerlang. Jari jemarimu sontak menjalin diri dalam lipatan hangat jemariku.

Engkau tersenyum. Selalu tersenyum. Senyumanmu begitu indah. Seindah langit biru.

***

Tepian danau yang sama, dua hari yang lalu.

Waktu telah berlalu. Waktu terus berlalu. Waktu masih akan berlalu.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan, seakan-akan ini merupakan helaan nafas terakhirku.

Aku menengok ke sekelilingku, danau ini cukup sepi pengunjung, mungkin karena pagar besi yang dibangun di sekeliling danau ini setahun lalu telah membatasi gerak-gerik kami, para pengunjung. Hanya ada beberapa orang di sini termasuk diriku. Beberapa meter di sebelah kiriku, seorang lelaki berjaket denim sedang melepaskan alas kakinya, ia menggunakan sendalnya sebagai alas untuk duduk. Sama sepertiku, ia sendirian. Pandangan matanya terlihat kosong, lurus menatap danau yang berada beberapa meter di hadapannya.

Pikiranku seketika mengawang jauh, tak tahu apa yang harus kulakukan dan apa yang sebenarnya kurasakan. Aku kembali menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya lagi, entah untuk yang kesekian kalinya pada hari ini. Aku hanya ingin mengambil jeda untuk sejenak dalam hidupku kini. Hanya itu.

“I cried, for happiness, for sadness, but most of all, for emptiness.” ―Daul Kim