Tentang Sebab–Akibat: Amor Fati, Fatum Brutum

“No one saves us but ourselves. No one can and no one may. We ourselves must walk the path.” ―Gautama Buddha

Kala sore hari menjelang di akhir pekan, kerapkali aku menghabiskan waktu hanya dengan duduk-duduk santai di sebuah saung mungil yang terbuat dari bambu di depan rumahku, persis di bawah naungan pohon jambu yang rindang. Entah itu sendirian, bersama ibuku, atau dengan kawan-kawanku yang kebetulan mampir. Entah itu dengan menyesap segelas teh manis hangat, membaca komik dan novel, sekedar termenung, atau apapun. Termasuk bertegur sapa dan mengobrol dengan beberapa tetangga yang wara-wiri di hadapanku.

Obrolan yang kian santer terdengar di kompleks perumahanku adalah desas-desus mengenai seorang ibu yang tinggal tepat di belakang rumahku. Ia mempunyai seorang anak perempuan yang baru saja lulus dari sekolah dasar dan kini sedang hamil sekitar empat atau lima bulan. Walaupun sang bapak dari anak tersebut telah tiada dua tahun yang lalu, tetangga sekitar tetap saja menggunjingkannya. “Akibat pergaulan bebas”, kata seorang bapak pemilik warung di sebelah rumahku. “Rahimnya belum kuat, bisa mati tuh”, ujar ibu-ibu di ujung gang rumahku. Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya… Tipikal orang-orang masa kini yang terlalu mudah menghakimi tanpa pernah benar-benar memahami duduk persoalan, tanpa pernah mengerti sebab-akibat atas perbuatan mereka.

Berbicara mengenai sebab-akibat, aku merasa beruntung dibesarkan dalam keluarga yang sedari kecil mengajariku untuk bertanggung jawab atas jalan yang kulalui. Engkau mabuk dan mengkonsumsi narkoba secara berlebihan, akibatnya bisa saja engkau mati overdosis. Engkau malas belajar, maka engkau akan kesulitan memahami materi pelajaran di sekolah dan bisa tidak naik kelas. Engkau mengendarai motor dengan ngebut, maut mungkin saja akan menyapamu. Ayah dan ibuku memberikanku pengertian mengenai sebab-akibat atas perbuatanku. Tanpa pernah menghakimi dan menyalahkanku. Mereka hanya memberikanku secarik peta untuk menuju satu tempat yang kutuju dan membiarkanku untuk memilih sendiri jalan mana yang hendak kulalui, dengan mempertimbangkan segala konsekuensinya, entah itu baik ataupun buruk. Termasuk ketika di kemudian hari aku memutuskan untuk merajah tubuhku, ibuku tak berkomentar banyak. Ia hanya mengingatkanku agar sanggup menanggung konsekuensi dari apa yang telah kupilih.

Berdasar pengalamanku, dunia memang berjalan seperti ini. Saling mempengaruhi. Sebab–akibat. Suatu sebab, suatu perbuatan yang engkau lakukan akan menimbulkan akibat bagimu. Ada banyak variabel yang terbentang untuk engkau pilih dan jalani, dan tentunya engkau harus bisa menerima hasilnya sepenuhnya. Rengkuhlah ia dengan segenap hatimu. Apa yang engkau pilih untuk lakukan akan menimbulkan akibat tertentu yang sudah tersedia di balik setiap pilihan jalan. Engkau hanya perlu memilih dan memilah, untuk kemudian menerima konsekuensinya, yang acapkali berupa tragedi. Lantas berdasar tragedi tersebutlah engkau akan memilih dan memilah jalan yang masih terbentang di hadapanmu, yang tentu berimbas pada hadirnya konsekuensi lain. Begitu saja. Sesederhana itu. Engkau hanya perlu berjalan terus dan menerima akibat dari setiap pilihanmu. Tak kurang dan tak lebih. Seperti kalimat yang pernah dituliskan oleh Nietzsche, sang filsuf berkumis tebal pembunuh Tuhan: Amor fati, fatum brutum.

Maka karenanya, aku tak ingin menghakimi sang ibu tetanggaku dan anaknya yang tengah hamil. Biarlah mereka menuai hasil panen dari benih yang telah mereka sebar. Dan kini pertanyaan yang tersisa, seberapa sanggupkah engkau dapat menerima konsekuensi atas setiap pilihan yang telah (dan akan) engkau ambil dalam hidupmu?

Advertisements

Belanja Terus Sampai Mati

“Advertising has us chasing cars and clothes, working jobs we hate so we can buy shit we don’t need.” ―Tyler Durden, Fight Club

Seorang kawan lama, seorang yang tak pernah kujumpai selama satu dekade belakangan semenjak kami lulus dari sekolah dasar, tanpa sengaja berpapasan denganku kala aku sedang menemani ibuku berbelanja kebutuhan pokok di sebuah pusat perbelanjaan dekat rumahku. Setelah berbasa-basi sejenak, kalimat berikut yang keluar dari mulutnya adalah, “Gue lagi nyari baju baru nih.”

Aku tidak mengerti mengapa ia berkata demikian. Mungkin ia pikir adalah sebuah keharusan untuk mengenakan segala sesuatu yang baru pada hari Lebaran, dan ia kemudian berkata bahwa ia akan malu apabila ia tidak membeli baju baru untuk ia kenakan di hari tersebut. Aku bertanya kepadanya, bagaimana ia sampai berpikir seperti demikian. Ia menjawab bahwa baginya Lebaran adalah hari di mana umat Muslim mendapatkan kemenangan, saling bermaaf-maafan, sehingga mereka seakan menjalani sebuah hidup yang baru. Beberapa hari yang lalu pula, aku menonton sebuah wawancara di televisi dengan beberapa selebritis mengenai hari Lebaran. Seorang penyanyi dangdut berkata dengan wajah berseri-seri: “Kami sih nggak banyak belanja kalau Lebaran juga nggak apa-apa, tapi yang penting anak-anak harus dibeliin baju baru dong.” Kita memang diajarkan sedari kecil bahwa Lebaran adalah berarti pembaharuan di bidang materi belaka. Jadi tidak heran apabila lantas agama kini memang bukan sesuatu yang sakral lagi, melainkan hanya sekedar materi.

***

Lebaran tiba. Umat Muslim di Indonesia mendadak sibuk. Para remaja berburu baju baru di stand-stand Mall, ibu-ibu berbelanja kebutuhan pokok di pasar tradisional, sampai bocah-bocah yang merengek untuk dibelikan berbagai macam bentuk petasan yang dijual bebas di pasar malam. Nan jauh di sana, para pemudik memenuhi jalan-jalan protokol dan rela berdesakan di dalam bus ataupun kereta api yang akan membawa mereka pulang ke kampung halaman. Tidak ketinggalan para pekerja di toko yang (terpaksa) lembur untuk melayani pembeli yang gentayangan sampai larut malam. Rutinitas yang terus berulang di penghujung Ramadan, di mana peralihan arus barang dan manusia berlangsung dengan sangat cepat. Dan coba tebak tempat yang paling ramai dikunjungi oleh umat Muslim setelah hampir sebulan penuh menahan lapar dan haus? Pusat perbelanjaan.

Seperti layaknya perayaan hari-hari besar lainnya, akhir Ramadan merupakan ajang utama bagi para pedagang untuk meraup profit sebesar-besarnya, dari pasar skala kecil di pelosok desa sampai Mall yang termegah di metropolitan. Dengan konsumen yang melibatkan hampir setiap lapisan masyarakat, baik yang tua maupun muda, kaya dan miskin, anak kecil sampai orang dewasa, maka tidaklah mengherankan jika pada hari-hari menjelang Lebaran bisa melambungkan angka penjualan produk yang mencapai berkali-kali lipat daripada hari biasa. Seperti ketika menghitung pahala yang dilipatgandakan di bulan Ramadan saat engkau berpuasa, kini giliran menghitung laba dari perputaran uang dan komoditas yang begitu besar di penghujung Ramadan.

Semarak di pusat perbelanjaan tentu tidak lepas dari gencarnya serangan iklan di televisi yang pada bulan Ramadan juga tampil dengan nuansa islami. Sederetan iklan akan muncul di sela-sela acara televisi yang menghadirkan sinetron religi atau konser band dengan lagu-lagu religius seolah menghipnotis para penonton dengan menawarkan produk dengan embel-embel islami di belakangnya. Busana Muslim model terbaru, sendal yang cocok dipakai saat Lebaran, ayam goreng siap saji sebagai hidangan berbuka, kartu perdana seluler dengan konten islami, motor yang handal untuk dipakai mudik, sampai iklan sirup yang nikmat disajikan di hari yang fitri. Kapitalisme telah sepenuhnya mengintegrasikan imaji akan spiritualitas ke dalam produk-produk yang dijajakan. Imaji yang dilekatkan pada produk tersebut pun telah memberikan nilai tambah bahwa kapitalisme tidak hanya menjual produk, namun juga imaji. Simbol. Maka tidaklah heran apabila spanduk-spanduk dengan tulisan ‘Selamat hari raya Idul Fitri’ bisa dengan mudahnya engkau temukan di antara deretan spanduk ‘Diskon 70%’ di gerai-gerai perbelanjaan. Semua luluh lantak di hadapan pasar yang mendesain dirinya dengan mekanisme jual beli.

Produk-produk yang ditawarkan oleh pasar telah menegaskan hubungannya dengan keyakinan para pembeli. Bukan karena kebutuhan akan busana Muslim di hari raya, tetapi yang diburu adalah sensasi religius yang diperoleh ketika konsumen membelinya. Dalam masyarakat konsumtif, esensi hidup mereka hanya bisa ditemukan ketika melakukan aktivitas berbelanja. Ketidakmampuan memperoleh spiritualitas yang nyata di tempat-tempat ibadah telah mendorong manusia (dalam hal ini umat Muslim) untuk mencarinya di gerai-gerai perbelanjaan. Nilai-nilai spiritual memang telah sepenuhnya dihancurkan oleh kapitalisme sehingga yang tersisa hanyalah simbol. Lantas apakah masih ada esensi yang terkandung di dalamnya? Mungkin saja tidak. Tetapi apakah esensi itu adalah sesuatu yang penting bagi kita? Jujur saja, aku tak tahu. Yang aku ketahui hanyalah satu hal, bahwa kini Tuhan telah menemui ajalnya di etalase pertokoan.