Setelah Serigala Usai Melolong: Mengadili Persepsi

Nyaris satu dekade silam ketika aku masih mengenakan seragam putih-biru, untuk pertama kalinya aku mendengarkan lagu ini, ‘Mengadili Persepsi’.  Untuk pertama kalinya pula aku mengenal Seringai, melalui kaset mp3 bajakan yang banyak dijajakan di kios-kios pinggir jalan. Riff-riff heavy yang sing along seperti, “Individu, individu merdeka!” membuatku mengira itulah judul lagunya. Namun ternyata baru di kemudian hari aku tahu bahwa itu bukanlah judul yang sesungguhnya. Saat itulah aku mulai mengidolakan sosok Arian13, bahkan aku mulai berdandan dan meniru gayanya, mengenakan bandana di kepalaku ketika berangkat ke sekolah, dengan beragam gelang di pergelangan tanganku. Hal tersebut berlangsung ketika aku dalam masa transisi dari SMP memasuki SMA. Layaknya seorang poser yang gagal, aku bahkan meneriakkan “Individu, individu merdeka!” setiap kali aku dan kawan-kawanku menaiki dan duduk di atas truk sepulang sekolah. Masa-masa yang konyol dan menggelikan memang bila kini kuingat kembali. Namun tak mengapa, karena toh masa lalulah yang telah membentuk seperti apa diriku kini. Serigala militia.

***

Pukul sembilan tepat dan hujan baru saja berhenti turun selepas maghrib tadi. ‘Lycanthropia’ mengawali kelamnya malam ini. Dari samping, satu-persatu personil Seringai berjalan memasuki panggung. Seingatku, terakhir aku menonton penampilan Seringai secara langsung sekitar dua tahun lalu, di area Pekan Raya Jakarta. Kala itu aku hanya dapat menyaksikan secuil saja, melalui layar lebar yang berada di sisi kanan dan kiri panggung. Aku berada ratusan meter dari mereka, dengan ribuan orang di depanku. Namun tidak halnya malam ini, aku berhasil mendapatkan tempat paling terhormat di moshpit, barisan terdepan. Dengan hanya sebaris pagar setinggi satu meter yang membatasiku dengan mereka. Kemudian, ‘Amplifier’ menghentak panggung, menghipnotis barisan massa hingga kami ber-moshing ria. Dilanjutkan dengan ‘Kilometer Terakhir’ dan ‘Serigala Militia’, beberapa penonton bahkan mulai melakukan crowdsurfing. Aku membentangkan tinggi-tinggi sehelai kaos putih yang sebelumnya telah kutulisi dengan spidol; ‘Solidaritas Perpus Jalanan BDG’. Arian13 menunjuk ke arahku dan berkata, “Untuk kawan-kawan perpus jalanan Bandung, Tragedi!” Moshing kembali pecah, circle pit pun semakin masif. Dengan nafas tersengal-sengal, ‘Mengadili Persepsi’ kemudian menghantam kami.

Mereka bermain Tuhan…

Merasa benar, menjajah nalar…

Dan kalau kita membiarkan saja, anak kita berikutnya!

Aku tak ingat apalagi yang kemudian terjadi. Aku terkapar di moshpit seusai lagu penutup, ‘Dilarang di Bandung’. Kotak akan tampil setelah Seringai, namun aku sama sekali tak berminat untuk menyaksikan penampilan mereka. Aku tersenyum puas kala kawanku mengulurkan tangannya untuk membantuku bangun dari kubangan lumpur. Salah satu momen yang terasa amat hidup di sepanjang kehidupanku hingga saat iini.

Engkau tahu rasanya saat ribuan penonton bernyanyi bersama dan engkau menjadi bagian di dalamnya, turut bernyanyi karena lagu-lagu tersebut juga memiliki tempat spesial dalam hidupmu?

Aku tahu rasanya.

Advertisements

Sesuatu Bernama Rindu: Just Friends

Ada banyak hal yang berubah dalam dirimu yang tak dapat kudeskripsikan, semenjak kata-kata begitu miskin untuk mengungkap begitu banyak hal menakjubkan, malam ini. Selain rambut barumu, tentunya. Seperti ungkapku sebelumnya bahwa kini dirimu menjadi lebih ceria. Namun entahlah. Yang terpenting adalah malam ini. Malam ini cukuplah untuk malam ini, dan bertemu denganmu sudah melampaui definisi dari kata cukup. Aku tahu apa yang kuucapkan tak berarti apapun lagi untukmu, semenjak engkau hanya menganggapku sebagai teman, tak lebih dan tak kurang. Aku hanya ingin berada di sisimu sedikit lebih lama lagi…

Aku menatap kosong jalanan yang tidak terlalu ramai malam ini. Aku memilih untuk menikmati dinginnya malam di kota ini, bersamamu. Yang aku tahu, setiap detik dan menit bersamamu adalah sesuatu yang teramat berharga bagiku. Aku menghitung setiap detik bersamamu sebelum aku benar-benar pergi meninggalkanmu. Sambil memutar kembali ingatan akan semua percakapan, nyanyian dan canda kita beberapa jam yang lalu. Sebuah kebahagiaan terselubung yang terdengar bodoh―sekaligus mengharu biru perasaan. Malam dalam perjalanan pulang, aku tak lagi merasakan apapun. Kecamuk badai pikiran yang merajah―kalau tidak kusebut hampir menguliti―hari-hariku di setahun terakhir ini mendadak tenang. Ia berhenti bertanya. Ia berhenti bersangka. Ia berhenti meratap. Ia berhenti membenci. Ia berhenti meringis. Ia berhenti mempertanyakan pertanyaan. Ia berhenti berteriak, dan seketika menjadi tenang.

Setenang karang menunggu ombak yang tidak pernah berhenti menerpa. Setenang gelombang air yang menyapa kala pagi menjelang. Setenang engkau mendengarkan kisah-kisahku yang sudah lama tak kubagi. Setenang perasaanku saat kita berbagi kata, canda dan tawa yang membuatmu menggigil dan meminjam jaketku untuk mengenyahkan dinginnya malam. Setenang raut mukamu yang tak pernah kutemui lagi semenjak terakhir kalinya kita berjumpa, setahun yang lalu. Setenang senyum kecil bibirmu yang aku tahu, tidak akan pernah mudah untuk melupakannya.

Apakah kita akan kembali berpapasan satu sama lain di masa depan? Mungkin tidak penting lagi apakah masa depan akan hadir ataupun tidak, saat kita berdua sadar benar bahwa masa depan tak pernah tertulis. Ia hanya dapat diprediksi, tetapi ia tetaplah hanya sebuah rencana yang kita susun saat kita hidup saat ini.

Engkau menganggukan kepala tanda mengiyakan, saat aku memintamu untuk bertemu kembali denganku, entah kapan. Dengan senyum dan ekspresinya, engkau menatapku. Lama.

Entahlah, mata itu sungguh bening dan teduh. Aku akan selalu merindukan kedua mata dan senyum itu. Kedua mata dan senyum yang sempurna tersebut.

Aku membiarkan lamunan ini sedikit lebih lama. Lagi.

Aku tersenyum. Malam akan terasa panjang dan tak berujung.

***

Semakin engkau menyelami cinta, semakin engkau akan terbakar olehnya. Tetapi, bukankah luka yang tergores dalam benakmu itulah yang menjadikan hidup ini berarti? Ujarmu semalam.

Mungkin. Mungkin segala keingintahuanku telah membawaku sejauh ini, walau tak kupungkiri bahwa di luar sana masih banyak yang lebih memahami arti hidup dan cinta daripada diriku. Layaknya Ikarus yang terbang menembus batas dan membiarkan dirinya terbakar karena keingintahuannya, seperti pesawat ulang-alik Challenger, seperti balon udara Hindenburg. Aku menyelami rasa dan asa ini hingga hatiku lelah. Selalu.

To every sleepless nights we’ve spent
Talking about our lives and understand
How you said that i’m one in a million
But never in a million years
I will end up being your boyfriend
We will always be just friends
We will always be just friends

‘Just Friends’ dari Pee Wee Gaskins, menjadi pembuka keresahan diriku. Memulai gaung dan riuh dari mereka yang menonton konser ini. Memberi senyum dan cinta di wajah masing-masing mereka. Menjadi muda dan tak menyia-nyiakannya.

Dan setelah konser ini berakhir nanti, apa yang tersisa bagiku?

Entahlah… Aku hanya berharap engkau berada di sini bersamaku.

Aku menutup keresahanku dengan amarah dan kekosongan yang terasa begitu personal. Ingatan-ingatan akan hidup kembali menjejak di benak, pada kecemasan dan gelisah saat menemukan jalan pada sebuah perjalanan pulang, kembali menuju rumah. Mungkin kita akan selalu meretas senja dalam kesepian. Mungkin kita terlalu naif untuk mendefinisikan hidup dan cinta. Mungkin…

Karena perjalanan kita pulang menuju rumah masihlah teramat panjang. Berdebu, terik, panas, menghanyutkan, menutup luka, serta meletakkan kembali angan dan harapan yang sering kali punah, hingga nanti kita dapat bersua di ujung jalan yang sama dan kembali bersenandung lirih, ”I wish it didn’t have to be like this, I think about you every night and day ‘cus you’re always there…”