Hoppípolla

—Kamu mau kado apa nanti? Tanyamu seraya menunjuk sekumpulan bocah yang sedang merayakan ulang tahunnya di pojokan, lengkap dengan hiasan-hiasan serta kue ulang tahun. Raut wajah sang bocah tampak begitu bahagia bersama orangtuanya.

Nggak usah, jawabku. Aku tidak dibesarkan dengan hal-hal seperti itu.

—Tapi kan kamu berulang tahun cuman setahun sekali, sanggahmu.

Aku menggelengkan kepala dan kemudian tersenyum simpul sambil berusaha menjelaskan kepadamu.

Barangkali engkau memiliki pemahaman yang berbeda denganku dalam merayakan sebuah ulang tahun. ‘Merayakan’ bahkan bagiku bukanlah kata yang tepat. Karena toh apa yang pantas dirayakan ketika engkau justru menyadari bahwa usiamu semakin bertambah dan ajalmu pun semakin menjelang? Tak ada, bagiku. Sama sekali tak ada. Akan tetapi, aku bukanlah seorang nihilis yang selalu menihilkan keberadaan akan kehidupan ini, seperti yang sebelumnya pernah engkau tuduhkan kepadaku. Nihilisme bukanlah pedoman hidup bagiku, melainkan hanya sebuah alat. Seperti sebuah pisau yang kau gunakan untuk memotong daging dan kemudian kau letakkan kembali kala proses pemotongan daging tersebut sudah selesai. Nihilisme memang berguna, sekedar untuk menyadarkan bahwa kita semua adalah makhluk hidup yang bersinggungan dengan umur yang semakin bertambah dan membawa kita selangkah lebih dekat menuju kematian. Hanya itu, tidak lebih dan tidak kurang. Dan karena keterbatasan waktu yang kita miliki itulah, kita  seharusnya memberi makna yang benar-benar nyata dalam hidup ini. Bukankah begitu? Paparku kepadamu panjang lebar.

—Ah, aku sama sekali nggak kepikiran sampai kesana.

Tentu, tak ada seorang pun di antara kita berdua yang sempat mengecap kuliah filsafat. Tanpa bermaksud menggurui, aku hanya ingin berbagi sedikit pandanganku mengenai hidup kepadamu. Engkau yang pernah matian-matian kubela agar kita dapat bersanding bersama.

—Kamu lucu deh kalo lagi ngomong serius gini.

Ingin rasanya kukecup bibirmu saat ini juga, batinku. Melumatnya habis-habisan seandainya saja kita tidak sedang berada di restoran cepat saji ini.

—Jadi?

Jadi, syukuri saja apa yang ada. Setiap helaan dan tarikan nafasmu. Hembusan angin yang menerpa wajahmu. Sinar mentari pagi, tetesan hujan dan wewangian tanah setelahnya. Hidup memang demikian berharga, sesederhana itu.

Dan sesaat kemudian, Hoppípolla sayup-sayup terdengar mengalun perlahan dari speaker di seisi tempat ini.

Advertisements