Sepersekian Detik yang Terasa Abadi

I said: “Kiss me, you’re beautiful, these are truly the last days.”

— Godspeed You Black Emperor, The Dead Flag Blues

Pandanganku lurus menatap kedua bola matamu. Dirimu, dengan senyum dari bibir tipismu, masih saja bersabar menunggu apa hendak kukatakan kepadamu.

Mengapa begini? Tak pernah kusangka semuanya akan berakhir seperti ini. Berjuta pertanyaan menyesaki seisi kepalaku.

—Entahlah, aku tak tahu apa yang sebenarnya kurasakan. Seperti yang dahulu kamu bilang, ada saatnya untuk melepaskan hal yang sekalipun begitu berharga bagimu, ketika ia tak lagi dapat dipertahankan.

Engkau berbohong, ujarku.

Engkau tersenyum. Engkau hanya tersenyum.

Aku menghela nafas panjang, entah untuk yang kesekian kalinya hari ini.

—Aku tidak berbohong.

Aku tahu, engkau mulai membela dirimu sendiri.

Bagaimana bisa engkau tersenyum dalam keadaan seperti ini, lanjutku. Aku memicingkan mataku, menatapmu sedikit tajam. Berusaha agar emosiku tak tersulut.

Sejurus kemudian, engkau pun terdiam. Satu dua menit, engkau masih terdiam. Membisu. Tidak mengiyakan, tidak pula menolakku. Tidak mengatakan apapun. Tanpa ekspresi. Tanpa senyum. Datar.

Aku mendekatkan wajahku ke depan wajahmu. Kita persis berhadap-hadapan.

Matamu indah, sayangnya engkau berbohong, lanjutku.

—Tutup mulutmu.

Dapat kulihat secercah keraguan yang memancar di raut wajahmu.

Tutup matamu, bisikku perlahan.

—Untuk apa?

Memberimu keabadian, jawabku tegas.

—Lakukanlah.

Engkau kemudian menutup kedua kelopak matamu. Hanya kita berdua yang tahu apa yang selanjutnya terjadi. Sepersekian detik yang terasa abadi.

Advertisements