Tentang Sebuah Perpisahan: Waktu yang Berhenti

“I’ll tell you a secret. Something they don’t teach you in your temple. The Gods envy us. They envy us because we’re mortal, because any moment might be our last. Everything is more beautiful because we’re doomed. You will never be lovelier than you are now. We will never be here again.” —Achilles

Sore itu aku tengah duduk di ruang tunggu bandara, persis di sebelah jendela kaca yang besar. Di luar sana, terlihat orang-orang berlalu lalang. Datang dan pergi silih berganti, mengikuti kemana arah langkah kaki mereka.

Ini sebuah bandara. Beberapa kekasih pasti sedang berpisah di tempat ini. Seperti pasangan yang kulihat. Tampaknya sang perempuan berusia kisaran 20-23 tahun, sementara sang lelaki beberapa tahun di atasnya. 25-27 tahun mungkin. Sang perempuan mengenakan kacamata besar dan sang lelaki mengenakan celana pendek kanvas kelabu dan sepatu Wakai. Tetapi, bukan itu semua yang menarik perhatianku.

Cara mereka berciuman dengan penuh intensitaslah yang pertama kali menarik perhatianku. Sang perempuan yang memegang lengan sang lelaki dengan cara menggenggam yang penuh kesedihan dan tanpa harapan. Sang lelaki memeluk sang perempuan seraya tangan kanannya mengusap-usap rambut kecoklatan sang perempuan yang dipangkas pendek. Berulang kali, mereka melakukan hal yang sama, saling bertatapan tanpa kata, untuk kemudian kembali saling berpelukan. Berciuman.

Ini Indonesia, berciuman di muka umum tampaknya masih menjadi sesuatu yang dihindari, walaupun tentu saja, orang-orang tetap nekad melakukannya. Seperti pasangan yang kuperhatikan ini. Entahlah. Aku melihat pasangan itu nampak begitu sempurna. Entah bagaimana, apa yang mereka lakukan dan cara mereka berpelukan, benar-benar indah dan tak biasa.

Aku bersiap memberikan simpati pada mereka, walaupun pada kenyataannya berbeda. Aku ingin memberikan pada mereka sebuah ucapan selamat, karena telah memiliki alasan yang kuat untuk bersedih. Aku seharusnya merasa iri pada mereka karena keduanya saling merasa bahwa tanpa keberadaan pasangannya, mereka tak akan dapat hidup. Konyol kata orang-orang sok dewasa, romantis kataku. Bukan. Bukan perpisahan biasa yang bersifat sementara. Aku merasa, dari hasil membaca gesture mereka, bahwa ini adalah perpisahan yang panjang. Tetapi sungguh, bilamana mereka berdua mampu melihat situasi mereka dari jarak yang cukup, mungkin mereka akan mampu mempertimbangkan bahwa situasi tersebut adalah momen terpenting sepanjang hubungan mereka.

Rasanya apa yang terjadi selanjutnya adalah sebuah ritual yang tak akan segera berakhir. Pasangan tersebut akan berpacu dengan waktu. Mereka harus melepaskan satu sama lain. Harus. Tanpa batas waktu tersebut, pelukan erat mereka tak akan berarti apapun. Tragis. Tetapi tragedi tersebutlah yang justru membuatnya indah. Menjadikannya dalam dan penuh makna.

Hingga panggilan bergaung melalui speaker.

Aku melihat sang perempuan menunduk memperhatikan arlojinya. Dengan kepastian yang berat, seperti ketegasan Leonidas yang meninggalkan isteri terkasihnya untuk mati demi menghalau ribuan pasukan Persia yang hendak menginjakkan kaki di Sparta, sang lelaki melepas pelukan. Kemudian ia melepaskan diri dari rengkuhan sang kekasih dan berjalan pergi menuju antrian yang mulai mengular, ditelan barisan calon penumpang.

***

Suatu sore yang teduh di Pantai Tablolong, Nusa Tenggara Timur. Entah berapa ribu mil jauhnya dari dirimu yang berada di Jakarta.

Aku duduk menyendiri di hamparan pasir putih yang luas membentang, sembari menenggak beberapa kaleng bir. Aku menengadahkan kepalaku, menatap langit sore yang sesaat lagi akan berganti menjadi senja sesaat sebelum malam menjelang. Aku hanya ingin menikmati saat ini, momen-momen rapuh yang akan segera berlalu dan lenyap terkikis waktu.

Waktu.

Dalam bahasa Yunani, ada dua kata yang digunakan untuk mengungkapkan kata ‘waktu’, yaitu  kronos dan kairos. Kronos adalah waktu dalam artian kerangka waktu yang berjalan berdasarkan urutan waktu dan bersifat periodikal. Sedangkan kairos adalah waktu dalam artian momen penanda signifikan. Misalnya aku berada di pantai ini selama tiga jam, maka durasi waktu tiga jam tersebut adalah kronos. Sedangkan momen ketika aku memejamkan mata sembari menanti sang matahari tenggelam di ufuk barat adalah kairos. Sebuah momen.

Seketika aku teringat akan kisah Gautama dengan murid-muridnya. Suatu saat Gautama bertanya kepada murid-muridnya, “Bikkhu, berapa lama manusia hidup?”

“Paling lama 60 tahun, ya Bante.”

“Jika ia tidak penyakitan, ia bisa hidup 70 tahun atau lebih, Bante,” jawab yang lainnya. Dan banyak murid menyebutkan angka-angka lain, 80, 90, 100 tahun, dan lain sebagainya.

”Salah, murid-muridku. Hidup manusia hanya bergantung pada rengkuhan nafasnya. Ia hidup dan mati dalam setiap helaan dan hembusan nafasnya. Bukan pada berapa tahun lamanya ia berjalan di atas muka bumi ini,” ujar Gautama.

Maka tidakkah engkau dapat memahami makna esoteris dari jawaban Gautama? Bahwa segala sesuatu hal hanya akan bermakna karena pada akhirnya ia tidaklah abadi? Bahwa sebuah momen dalam sepersekian detik hidupmu adalah keabadian yang sesungguhnya? Sesungguhnya, dalam kehidupan yang demikian fana ini.

Advertisements