In Vino Veritas: Gelap adalah Teman Setia dari Waktu-Waktu yang Hilang

Seorang kawan pernah berkata kepadaku bahwa kenangan itu ibarat sebuah lemari berkas dengan banyak laci. Engkau bisa membuka dan menutupnya erat kapanpun engkau mau. Tertata rapih, mereka akan melekat erat di otakmu atau hilang begitu saja, walau mungkin jejak itu masih dapat engkau telusuri sekehendakmu. Mirip seperti pasir yang berterbangan dihembus angin kala musim panas menjelang, ia bisa berjejak atau malah hilang sama sekali. Panasnya begitu melekat, menghilangkan persepsi tak berdaya terhadap masa-masa silam yang telah lama berlalu. Begitu pekatnya, begitu riuhnya, hingga tak ada tempat untuk bersembunyi dari gempurannya.

***

Suatu malam di penjuru Tangerang.

Semua tempat-tempat ini memiliki kenangan, bersama dengan kekasih dan kawan, maupun juga lawan. Ada yang telah tiada, ada yang masih terus membakar hidupnya. Ketika aku memikirkan konsepsi tentang cinta sebagai sesuatu hal yang baru, aku tak pernah kehilangan rasa cinta untuk mereka yang telah hadir dalam hidupku. Mungkin beberapa kali aku berhenti dan memikirkan mereka, namun dalam hidupku, aku mencintai mereka. Selalu.

Mari kita bersulang, untuk mereka yang kita cintai dalam hidup kita, dan mereka yang telah pergi dari hidup kita. Toast.

Denting musik yang keluar dari dua speaker ringkih bermuara pada sesuatu yang telah lama hilang dan nyaris punah. Acara-acara di seputaran jalan yang sudah teramat sesak ini sama sekali tak menawarkan sesuatu yang menarik untuk disimak, apalagi dinikmati. Mungkin karena aku sedang meretas luka dengan damai. Ketika sesuatu sudah terlalu menjadi rumit, lebih baik aku berhenti dan berdiam diri. Merenung.

Aku menenggak bir yang entah sudah gelas keberapa. Gelas-gelas berisi campuran fermentasi ini seakan mengerti akan sisi gelap yang tertutup sekian lama, membangkitkan hormon liar yang selama ini terkubur. Musik-musik pop-rock yang mengisi playlist meluncur deras melebur menjadi substansi solid, seakan malam ini adalah malam terakhir dan esok hari sudah terlalu terlambat untuk merengkuh hidup. Sisi-sisi kelam menjadi amunisi dan menyeruak bak banjir bandang untuk segera ditumpahkan, karena fajar akan segera muncul dalam hitungan jam, dan aku sama sekali enggan untuk mengakhiri malam. Racauan yang keluar dari bibir tak jelas ini mengganggu mereka di sekelilingku, mereka yang juga ingin menikmati momen. Menjerat riwayat yang tak pernah punah, pula tak pernah menjadi sejarah karena ia selalu berulang.

Pukul satu pagi, tempat ini semakin ramai oleh mereka yang ingin merayakan hidup yang membosankan, penuh aturan, dan basi. Aku berjalan di tengah kerumunan, berusaha menghirup udara segar dan entah berapa orang yang tak sengaja bertabrakan dengan tubuhku yang terus berjalan tak menentu arah. Tetapi sebelah mataku masih melihat bayang-bayang dirimu yang menatap nanar penuh kecemasan.

Gelap adalah teman setia dari waktu-waktu yang hilang, ujarmu.

Advertisements