In Vino Veritas: Ode di Penghujung Malam

Here we go. Try this one. We need a release, didn’t we?

Shot pertama.

Aku menyesapnya perlahan, berusaha menikmatinya. Jack Daniel’s dengan campuran es dan Cola. Minuman favorit perempuan ini.

Shot kedua.

Salah satu alasan mengapa aku mengkonsumsi alkohol adalah, karena dalam keadaan mabuk, lidahku yang tak bertulang ini mampu meluapkan segala perasaan dan emosi yang biasanya tak dapat kulakukan dalam keadaan sadar. Sandra dalam “Realita, Cinta, dan Rock N’ Roll” menyebutnya sebagai mekanisme pertahanan diri. Aku sendiri mengibaratkan alkohol seperti pelumas bagi saraf-saraf neuron dalam otak. Ia melancarkan jalan bagi impuls untuk melalui celah-celah sinapsis dan kemudian melekat pada membran sel di dalam otakku.

Shot ketiga.

Melalui sudut mataku dapat kulihat bahwa wajahnya mulai memerah. Ia mulai mabuk, begitu pula diriku. Alkohol bajingan. Kami berdua mulai meracau tak karuan. Kata-kata terus terlontar begitu saja dari mulut kami. Dengan segenap hati, kami mengutuki Fahira Idris dan seluruh moralis basi yang bergerombol di belakangnya. Para pemabuk jelas jauh lebih terhormat daripada politisi-politisi oportunis yang meracau tak karuan di dalam ruang sidang ataupun para ustadz dan motivator-motivator gadungan yang gemar membual di televisi—karena setidaknya, para pemabuk itu jujur.

Shot keempat.

Sepertinya alkohol sudah semakin penuh menggenangi isi kepalanya. Rona wajahnya semakin memerah.

Shot kelima. Shot keenam. Hingga entah shot keberapa.

Hingga isi botol sudah hampir habis, ia lalu menenggaknya tinggi-tinggi hingga tetes terakhir. Nampaknya ia tak sudi kehilangan setetes pun yang masih tersisa. Botol kaca berdenting dengan nyaringnya menandakan isinya sudah benar-benar habis, aku dan dirinya telah benar-benar mabuk. Pandangan mataku semakin memburam, hanya wajahnya yang masih dapat kulihat dengan sisa-sisa kesadaranku.

Ia menatap kedua bola mataku, tanpa berkedip sedikitpun. Mata sipitnya berbinar dengan indahnya, memancarkan pandangan yang dipenuhi eros yang demikian membara. Satu dua tiga detik, ia masih terdiam. Membisu. Tidak mengatakan apapun. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke depan wajahku. Persis berhadap-hadapan. Kedua tanganku pun terangkat, perlahan jari-jemariku menyentuh kedua sisi pipi halusnya. Kiri dan kanan. Mengelusnya lembut. Lalu mencubitnya pelan.

You bitch, ujarku.

Screw you, asshole.

You fucking cunt, balasku.

Ia mendorongku turun hingga aku terduduk di lantai keramik yang dingin, kemudian dengan cepat ia menduduki pahaku, membuka ikat pinggangku dengan terburu-buru lalu menarik celana jeansku dengan kasar dan melemparkannya ke sudut kamar. Ia kemudian memojokkanku hingga aku tersender ke dinding. Aku lalu meraih dagunya, hasratku tak lagi tertahankan. Mencumbuinya sesegera mungkin, hanya itu yang aku inginkan saat ini. Mengecup bibirnya, mengulumnya dengan lembut, merasakan pertukaran saliva antara bibirnya dan bibirku.

Dan ketika eros yang menyelimuti tubuh kami berdua sudah mencapai puncaknya, ia membisikkan sesuatu di telingaku.

Alice Harford: “I do love you and you know there is something very important we need to do as soon as possible.”
Dr. Bill Harford: “What’s that?”
Alice Harford: “Fuck.”
—Eyes Wide Shut (1999)

Advertisements