Tentang Sebuah Perpisahan: Elegi Esok Pagi

“I saw tail lights last night in a dream about my old life. Everybody leaves, so why, why wouldn’t you?”

―The Gaslight Anthem, Great Expectations

Tidak. Aku tidak sanggup menatap langsung matanya. Aku juga masih menunduk kala tangan kirinya yang lembut mulai menyentuh tangan kananku. Perlahan menggenggamnya. Sesuatu yang kubiarkan. Mungkin aku tak akan lagi merasakan genggamannya pada tanganku. Kami berdua duduk di lantai dengan punggung bersandar pada dinding dan dalam hening menatap ke luar jendela sebagaimana mentari pagi malu-malu menampakkan dirinya di balik ufuk timur.

Tak ada kata, tak ada apapun. Jaket denim biru miliknya berada tepat dalam genggaman tangan kanannya. Aku meraih bahunya mendekat dan bertanya-tanya dalam hati, mengapa aku harus menunggu hingga saat-saat terakhir hanya untuk sekedar memeluknya. Awan kelabu perlahan mulai menggantung di ujung langit sana.

Entah berapa lama waktu berlalu saat ia menggenggam tanganku. Berapa lama kami berdua hanya duduk dalam diam, dengan wajahku sesekali tertunduk. Satu menit? Lima menit? Setengah jam? Entahlah. Waktu terasa begitu perlahan merayap. Aku mulai mendengar bebunyian di sekelilingku. Kicauan burung-burung di pepohonan, deru sepeda motor yang sesekali melintas, hingga bunyi rintik hujan…

Tik, tik, tik…

Seperti ada suara air yang menetes di tepian jendela di hadapan kami. Tetes hujankah? Aku menengadah. Bukan. Di luar memang baru saja turun hujan. Gerimis. Namun suara tetesan air ini terdengar dekat sekali dengan telingaku. Lalu aku berpaling. Tepat menatap wajahnya. Matanya. Oh, tidak. Suara ini bukan berasal dari hujan di luar rupanya, namun dari kedua pelupuk matanya. Pipinya kini berkilau seiring bulir-bulir air mata mengalir pelan membasahinya. Begitu bening. Begitu sendu.

Aku masih menatap matanya kala waktu kembali terasa berhenti. Atau setidaknya melambat. Hingga ia mengangguk perlahan sambil tersenyum. Tapi tanpa sedikitpun ia mengusap air matanya yang mengalir tiada henti. Ia tetap tersenyum saat genggaman tangannya semakin erat menjalin jemariku. Ia kembali mengangguk perlahan.

“Sudahlah…”

Untuk pertama kalinya semenjak terakhir kami berjumpa, aku menyadari bahwa ia masih seseorang yang sama. Sekaligus juga asing. Aku sadar benar bahwa perjumpaan ini adalah sebuah parsel yang tersisa, bukan sebuah janji akan hadirnya sesuatu yang baru. Perjumpaan ini seperti menegaskan bahwa apa yang telah berlalu memang sudah seharusnya diletakkan pada tempat yang semestinya: masa lalu.

Tangan kananku bergerak terangkat dan menempelkan telapak tangan kirinya erat-erat di pipiku. Tak ada air mata mengalir di pipiku tapi aku tetap merasakan betapa sulitnya untuk tersenyum. Untuk sekedar membalas senyumnya. Aku ingin berkata bahwa aku tak ingin pergi darinya. Tapi itu hanya akan berarti ucapan yang keluar dari mulutku sebelumnya menjadi tak berharga. Aku telah berpamitan. Aku tak meminta ijin untuk pergi, karena aku memang tak pernah meminta ijin dari siapapun untuk menjalani hidupku. Senyum masih terkembang di wajahnya kala ia menarik perlahan tangannya dari pipiku. Pada akhirnya ia mengusap air mata di wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Tak lama ia lalu bangkit dan melangkah menuju pintu. Aku bergegas bangkit dan menjajari langkahnya seraya menahan bahunya. Ia berbalik menatapku.

“Masih ujan di luar,” ujarku, “Seenggaknya tunggu sampai reda.”

Ia menggeleng. “Seperti katamu, ujan bisa ngapusin kesedihan kan?” ujarnya pelan sambil menurunkan tanganku dari bahunya.

Kami berdua hanya berdiri terpaku menatap satu sama lain. Ia mendadak berjinjit, mengecup pipiku lembut dan secepat ia mengecup pipiku, ia berbalik dan melangkah keluar, ke dalam pagi dan hujan. Instingku menyuruhku untuk segera menyusulnya, tapi ada sesuatu yang menahanku. Hatiku berbisik agar aku menahan diri. Agar aku membiarkannya pergi dan tak menoleh kembali. Bukankah itu yang kuminta darinya agar aku dapat dengan lega melangkah pulang?

Aku tetap berdiri di pintu. Menatap tubuhnya melangkah perlahan di bawah rintik-rintik hujan. Aku hanya ingin berdiri sedikit lebih lama di sini, untuk sekedar merasakan kepergiannya. Kehilangan dirinya. Namun kenyataannya, aku bukanlah orang yang sama seperti dahulu, kala pertama ia pergi dari sisiku bertahun yang lalu. Mungkin memang waktu dapat menghapuskan semuanya. Atau setidaknya, mengubah segalanya. Tahu apalagi bedanya? Kini tak ada apapun. Tiada lagi kepedihan, juga tiada riang yang membuncah.

Aku hanya terdiam dan menghela nafas panjang. Amat panjang…

Advertisements