Munafik: Tentang Aktivisme Hari Ini

Tersebutlah seorang aktivis (atau kalaupun label itu terlihat terlalu kitsch, aku berani bertaruh ia akan mencari label lain yang layak untuk ia sematkan di dadanya sebagai seorang “pejuang kemanusiaan”) yang gemar mengkritisi segala sesuatu hal di sekitarnya yang (menurutnya) tak berjalan sebagaimana mestinya. Setiap saat, setiap hari, ia senantiasa meneriakkan slogan-slogan mengenai kebebasan, kemerdekaan, kesetaraan, keadilan atau apapunlah itu yang terdengar terlampau banal belakangan ini. Lagipula, kebebasan macam apa yang sesungguhnya hendak ia khotbahkan dengan melarang-larang orang lain untuk melakukan sesuatu hal? Jika membebaskan berarti meniadakan belenggu penghalang yang membatasi pergerakan seseorang, ia justru mengokohkan kerangkeng yang semakin memenjarakan orang tersebut.

Namun ia bukanlah seorang Butet Manurung yang tinggal di sebuah desa terpencil di tengah belantara hutan di Jambi, tempat dimana Butet merasa perlu untuk mengubah dan membangun komunitas di sana, Sokola Rimba. Butet menetap di sana bersama Suku Anak Dalam. Tak hanya sekedar mengkritisi. Dan aku yakin, Butet melakukannya bukan karena sekedar letak desanya yang terpencil, tetapi karena ia sungguh-sungguh ingin mengubah dan membangun komunitas di sana.

Sedangkan sang aktivis ini amatlah berbeda. Ia hanya mengkritik tanpa mampu memberikan solusi. Tanpa mau sungguh-sungguh berusaha untuk mengubah borok yang ia kritik menjadi sesuatu yang memiliki nilai, senihil apapun itu di mata orang lain. Ia selalu mencari titik kelemahan dari apapun yang ia kritik, seakan-akan ia telah menjadi tuhan atas sesamanya manusia. Amat prejudice dan judgmental.

Ia mengkritik apapun.

Ia menyalahkan siapapun.

Tetapi tidak dirinya sendiri.

Advertisements