Tentang Sebuah Perpisahan: Tujuh Tahun Kesunyian

“I would rather have had one breath of her hair, one kiss of her mouth, one touch of her hand than eternity without it. One.” ―Seth, City Of Angels (1998)

Jarum jam berdenting pelan menuju angka sebelas malam tepat. Hanya ada suara jangkrik yang sedang bercengkrama dengan pekatnya malam yang kelam. Jari-jemariku bergetar seperti terjangkit tremor yang temporer. Lidahku mengecap cairan asin dan aku sudah dapat memprediksi bahwa siklus ini kembali berputar ke angka nol. Layar smartphone-ku hanya sanggup memandang iba pemiliknya yang sedang ditikam berkali-kali oleh kesedihan yang teramat dalam.

Tancap. Tarik. Tancap. Tarik. Langkah itu dilaksanakan berulang-ulang hingga rongga dadaku berlubang menembus tulang belakang. Interval waktu antar setiap penetrasi hanya berjarak setengah detik dalam satuan mikrosekon. Tidak ada desahan atau jeritan. Hanya suara daging yang sedang dihaluskan oleh sebuah mata pisau.

Pernahkah engkau bermimpi ingin memiliki kekuatan untuk memutarbalikkan waktu? Kembali ke masa lalu agar engkau bisa memperbaiki segalanya? Atau sekedar menonjok dirimu di masa lalu karena ia salah dalam memilih keputusan berdasarkan alasan yang tidak masuk akal? Atau menghapus seseorang dari alur hidupmu dengan mencegah dirimu di masa lalu berseberangan dengan jalur hidup orang lain?

Leave me alone, please. Balasku kepadamu.

***

Di bawah siraman air yang cukup membuat gigiku bergemeretuk, seketika pikiranku teringat pada kisah Lazarus. Lazarus meninggal dan dibangkitkan kembali oleh Yesus sehingga Lazarus seolah mati suri. Meninggal agar bisa lebih hidup. Meninggal agar ia bisa menjadi diri yang lebih baik.

Tidak seperti Lazarus, nyawaku memang tidak dihantarkan ke akhirat. Namun, hal-hal yang kusayangi bahkan melebihi hidupku sendiri, kini dienyahkan entah ke mana. Batinku pun akhirnya gugur, semua seolah disapu habis dari pandangan mataku.

Aku membiarkan kepalaku dipalu habis-habisan oleh tetesan air yang mengalir dari shower.

Selamat malam, wahai engkau yang berada nun jauh di sana.

Mataku terpejam.

Terima kasih.

Advertisements