Utsukushisa To Kanashimi To

“A guy and a girl can be just friends, but at one point or another, they will fall for each other. Maybe temporarily, maybe at the wrong time, maybe too late, or maybe forever.” ―Dave Matthews Band

Pukul sebelas di malam hari. Dingin. Jangkrik memamerkan suara riangnya. Bulan bersembunyi malu di balik tumpukan awan hitam.

Air. Awalnya menggenang, dan ia pun mengalir dengan nada yang tak berirama. Ada yang cepat dan ada juga yang lambat. Hening.

Ada pula yang meledak. Namun tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang menghiraukan. Semua pun terlelap. Semuanya sedang menjelajahi dunianya di atas tempat tidur yang empuk.

Apa yang harus kulakukan?

Apakah aku terlalu naif?

Apakah aku terlalu lamban?

Apakah aku terlalu terburu-buru?

Apakah ini terjadi karena kesalahanku?

Apakah ini terjadi karena kesalahan kami berdua?

Jiwaku perlahan-lahan menjual dirinya sendiri pada depresi. Pikiranku mulai berniat untuk menghempaskan dirinya menuju jurang tanpa ujung. Ia, yang selalu kudewakan, tak sanggup lagi berpikir logis dan kritis. Aku sudah kehilangan kendali. Alam bawah sadar liar yang selalu kutekan ke dasar laut kehampaan sampai dia kehabisan napas, kini kembali bangkit berdiri dengan gagah. Ia bahkan bertingkah seperti Yesus, berjalan di atas laut yang mengerikan itu dan siap untuk menerkamku yang ketakutan di pesisir pantai.

Aku benar-benar ingin melenyapkan diriku sendiri.

Aku mengalami krisis eksistensial.

Aku itu apa?

Apa itu aku?

Aku?

Apa?

Namun, toh apa gunanya hidup tanpa segala tantangan? Apakah aku sudah terlalu lelah? Aku sudah terlanjur mencapai titik terjauh dan sia-sia apabila aku mundur dan mengibarkan bendera putih. Pikiranku telah diisi cairan frustrasi yang tidak larut meski telah dilahap oleh cairan endorphin, serotonin, oxytocin, dan dopamin secara keroyokan dan brutal. Ia tak kunjung hilang, malah membelah diri untuk menghambat aliran darah di dalam segala pembuluh dan membuat sel-sel abu dalam otakku menjadi terpaku.

Semua usahaku sia-sia layaknya suatu jejak di atas pasir yang hilang tersapu oleh desiran ombak laut. Aku pun tidak bisa memulai segalanya dari titik nol. Aku sudah berada jauh di ujung dunia dan aku menyesal telah menempuh ratusan kilometer hanya untuk menemui jalan buntu. Setiap kali rasa penyesalan itu menari dengan lemah gemulai dalam hatiku, kelopak mataku tidak bisa membendung derasnya air yang mengalir.

Padahal, aku hanya menginginkan respon. Aku hanya meminta jawaban. Aku hanya membutuhkan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’. Aku hanya ingin melihat apakah bit dalam satuan angka biner itu menunjukkan angka 0 atau 1.

Penyesalanku pun bermetamorfosa menjadi kemarahan.

Apakah semua ini hanya delusi?

Keadaan semakin tak terkendali. Lampu merah. Ketakutan. Kecemasan. Masa lalu. Masa depan. Segalanya.

Aku tertawa pahit sembari meringkih kesakitan dalam hati. Aku memang sudah gila semenjak dipertemukan denganmu oleh aliran waktu dan tangan takdir yang kejam. Aku tertawa-tawa di bawah mentari senja yang sedang menyongsong waktu menuju peristirahatan. Cahayanya bewarna jingga pastel. Menghangatkan. Menenangkan.

Memandangimu walau sejenak saja, hanya itu yang bisa kulakukan kini meski engkau tak lagi berkenan. Hatiku sepertinya tidak akan pernah kenal lelah membisikkan namamu.

I yearn, I yearn, and I yearn for you.

Advertisements