Karawaci, Tangerang, September 2017: Sepersekian Detik yang Terasa Abadi

Aku duduk berkendara di sampingmu menembus kelamnya malam. Tak jauh berbeda dari malam-malam lainnya. Namun kali ini aku berkendara dengan sebuah tujuan. Aku berkendara untuk berpisah dengan dirimu. Sementara engkau berkendara menuju masa depanmu, bukan masa depan kita. Entahlah. Karena apakah arti masa depan bagi kita, setelah semua ini? Aku hanya menikmati keberadaanmu saat ini di sisiku.

Kita masih tak berkata apapun untuk sekian lama. Hanya engkau di pelukanku, hanya aku yang mengusap rambutmu. Tak perlu ada kata dalam momen-momen seperti demikian. Apabila kita sedang berseteru, kita akan berteriak, bukan karena posisi kita secara fisik berjauhan, melainkan karena hati kitalah yang saling menjauh dan hal tersebut termanifestasikan pada gerak tubuh dan apa yang tubuh kita lakukan. Kita berteriak. Tetapi saat kita dalam keadaan yang damai, kita akan berbisik. Karena hati kita berdekatan, yang karenanya bahkan sebuah suara dalam tingkat normalpun akan terlalu keras terdengar di telinga kita. Dan kala kita benar-benar melekat, kala jiwa kita melebur dan menjadi satu, bahkan bisikan pun tak akan lagi dibutuhkan.

Kita akan dapat saling merasa tanpa dibutuhkan kata-kata. Kita cukup mengada. Kita cukup merasa.

Kita masih juga tak berbicara. Hanya terdengar hembusan nafas kita sendiri. Aku dapat merasakan hembus nafasmu di leherku. Sementara tanganku merasai helai-helai rambut hitammu yang kau biarkan memanjang. Aku merasai kulit leher belakangmu, bahumu, lenganmu, punggungmu. Lantas tanganku kembali mengusap punggungmu. Aku tidak tahu, berapa lama aku dapat bertahan dalam posisi seperti ini.

Kau tahu? Aku ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin untuk kita berdua, tetapi aku juga tahu, aku harus berpuas dengan waktumu yang memang hanya sejenak. Karena keterbatasan waktu jugalah yang membuat setiap waktu yang kita jalani menjadi berharga. Amat berharga, menjadi abadi dalam hati, justru karena ia dapat berakhir.

Aku tahu. Itulah yang mendefinisikan sebuah momen. Momen yang kita miliki hanyalah beberapa jam. Aku menatap jam tanganku. Sudah waktunya.

Momen yang kita miliki akan segera berakhir. Kau akan kembali kepada kehidupan harianmu dan aku pada hidup harianku, menganggap momen ini seakan tak pernah terjadi tetapi sekaligus abadi. Melupakan sekaligus mengingat. Merengkuh sekaligus merelakan. Ada sebersit sinar di matamu. Mungkin juga di mataku. Tanganmu menghela rambutmu ke belakang dan kau menatapku. Engkau membuka mulutmu, lalu meletakkan bibirmu tepat di bibirku. Dan kedua tanganku secara refleks meraih belakang kepalamu, menahanmu selama mungkin. Seperti hatiku yang ingin menahanmu selama mungkin. Selama mungkin, karena ini akan segera berakhir. Selama mungkin.

Engkau adalah salah satu dari sedikit orang yang hadir di sepanjang perjalanan hidupku, yang denganmu lah, aku dapat berbagi kisah dan desah tanpa perlu merasa canggung. Engkau juga tahu, bahwa esok adalah hari ulang tahunku dan aku sama sekali tak berniat untuk merayakannya. Karena toh bagiku, aku berulang tahun di setiap pagi kala aku membuka mata dan menghela nafasku. Karena engkau juga tahu, aku tak mempercayai adanya kehidupan setelah mati.

Bagiku hidup hanyalah sekali ini saja. Kala segelas bir dingin melepas dahaga di kerongkongan kita. Kala lenguhan nafasmu ketika orgasme terasa di wajahku. Kala tetesan air perlahan mengalir di pelupuk mataku. Kala aku merengkuh dirimu dengan sepenuh hatiku. Saat ini. Pada momen ini. Sepersekian detik yang terasa abadi.

Advertisements

Kelapa Gading, Jakarta, September 2017: Omnia Mutantur Nihil Interit

“I don’t have the heart to match
The one pricked into your finger
All things made to be destroyed
All moments meant to pass”

— Against Me, FuckMyLife666

Semua orang berwajah kaku di sini. Para perempuan muda yang cantik, mengenakan celana pendek yang mengekspos paha-paha mereka. Para lelaki kekar metropolitan yang bentuk badannya dihasilkan dari ratusan jam di ruang fitness. Para pekerja kantoran yang tunduk pada alur dunia kerja yang repetitif. Para murid sekolah menengah yang masih terlalu muda dan seringkali naif. Dengan earphone yang seakan tak pernah lepas dari lubang telinga mereka. Telinga-telinga yang menolak mendengar selain hanya apa yang ingin mereka dengar. Di antara mereka aku duduk, menatap jendela lebar di hadapanku yang menampilkan citraan halte pemberhentian, orang-orang yang sibuk lalu lalang dan gelap. Setiap kali citraan di jendela menjadi gelap karena memasuki terowongan, yang hadir adalah refleksi orang-orang di sekitarku dan juga diriku sendiri.

Wajahku juga sekaku mereka kah? Aku tidak mengenakan earphone dan tubuhku juga tidak kekar. Tapi itu tidak membedakanku dari mereka di sampingku. Tidakkah kau lihat bahwa aku tak berbeda dari mereka?

Engkau seharusnya mengerti bahwa aku bukanlah seseorang yang spesial. Aku sekedar lelaki dengan usia sekitar seperempat abad. Cukup tinggi dan memiliki sedikit kelebihan lemak di perut. Dalam banyak hal aku juga tidak memiliki satupun yang dapat kukatakan sebagai spesialisasi—aku cukup mampu melakukan banyak hal, tapi tak ada satupun yang kudalami dan kupahami teramat dalam dan jauh. Tidak seperti lelaki-lelaki lain yang dapat membanggakan apa yang mereka mampu lakukan dan membuat para lelaki lain iri, membuat para perempuan kagum. Tidak. Aku lelaki biasa saja.

Tetapi selama ini aku menyimpan sebuah rahasia. Kukatakan sekarang rahasiaku. Siapapun dapat membangun tembok yang tinggi menjulang hingga menyentuh langit untuk mengurungku, mengekang perasaanku, tapi aku selalu menemukan cara untuk terbang melewatinya. Siapapun dapat berusaha untuk mendorongku hingga jatuh dengan ratusan ribu tangan kekar yang kuat, tapi aku akan selalu menemukan cara untuk tetap bangkit.

Aku tidak memperlakukan siapapun dengan teramat baik, juga tidak dirimu. Aku bukan orang suci seperti Gandhi atau Bunda Teresa. Siddharta atau Dalai Lama. Aku tidak seperti yang selama ini banyak orang kira. Aku hanyalah seorang lelaki yang begitu rapuh kala patah hati. Seorang yang konyol dan seringkali tolol karena terlalu banyak tenggelam dalam alkohol. Pendek kata, aku sama sekali bukanlah seseorang yang spesial.

Ada banyak orang-orang lain di luar sana seperti diriku. Jauh lebih banyak dari yang siapapun kira. Orang-orang yang menolak untuk berhenti percaya. Orang-orang yang pernah terbang dan menolak untuk kembali menginjak bumi. Orang-orang yang pernah membiarkan hatinya terbuka dan menjadi sasaran mudah untuk dihancurkan. Orang-orang yang pernah menerima intensitas cinta dan juga patah hati, tapi tak hendak berhenti hanya karena terlalu takut untuk terluka lagi.

Seperti sebuah kapal yang menerima dirinya sebagai sekedar kapal—karena tempat teraman bagi sebuah kapal adalah dermaga, ia tak akan tergores ombak, tak akan dihantam badai, tapi apa guna sebuah kapal apabila ia hanya bersandar di dermaga selamanya? Bahkan Titanic dikenang bukan karena ukurannya, melainkan karena ia mengarungi samudera dan tenggelam karenanya. Seperti Ikarus, seperti pesawat ulang-alik Challenger, seperti balon udara Hindenburg. Seperti segala sesuatu yang hanya bermakna kala ia benar-benar hancur pada akhirnya.

Aku mencintaimu. Ingat selalu hal tersebut. Tidak ada siapapun yang dapat merebut rasa tersebut dariku. Tidak juga dirimu. Tidak juga siapapun. Tak akan pernah ada.