Kota Tua, Jakarta, November 2017: Inferioritas Bangsa Pasca-Kolonial

Aku sedang duduk di sebuah bangku taman, di kawasan Kota Tua Jakarta, kala seorang kawan di sampingku tiba-tiba berbicara dengan ketusnya: “Lihat tuh bule, kayak artis aja di sini.”

Berjarak sekian meter di hadapan kami, sekumpulan remaja, yang kutaksir berusia 20-an awal, tengah mengelilingi seorang lelaki kulit putih dan berfoto wefie. Beberapa saat berselang, langkah sang kulit putih terhenti lagi. Kali ini sekelompok pelajar SMA. Seperti yang kutebak, hal ini pasti ada kaitannya dengan pelajaran Bahasa Inggris. Aku hanya bisa tertawa kala mendapati ekspresi sang kulit putih yang terlihat kesal ketika berfoto wefie. Ada benarnya juga perkataan kawanku tadi.

Apabila engkau sempat berkunjung ke beberapa tempat wisata di negeri ini yang terdapat turis kulit putih, engkau mungkin pernah mendapati hal yang sama. Atau mungkin malah melakukan hal yang sama, berfoto wefie dengan mereka. Bukan, aku sama sekali tidak bermaksud rasis di sini. Tapi pernahkah engkau memperhatikan, kadang beberapa dari mereka malah merasa terganggu dengan kehadiranmu, dan beberapa orang setelahmu yang melulu hanya meminta foto bersama?

“Eh ada bule tuh, foto yuk.”

Berapa banyak dari kita yang pernah berkata seperti itu kala melihat seorang kulit putih di suatu tempat, di Indonesia ini?

Aku tidak menyukai kata itu. Bule. Aku lebih memilih menggunakan kata “Ekspatriat” yang kerap disingkat menjadi “Ekspat”, ketimbang “Bule”. “Bule” menurutku lebih sering digunakan dalam berbahasa sehari-hari, sedangkan “Ekspat” ruang lingkup penggunaannya lebih terbatas. Mungkin ini hanya preferensi berbahasa, tapi kurasa pemilihan bahasa turut mempengaruhi makna perkataan yang kita tuturkan. Aku merasa ada sesuatu yang janggal dengan persoalan berbahasa ini, kejanggalan tersebut kurasakan dalam ruang lingkup bangsa Indonesia sendiri.

Pernah engkau menyadari bahwa orang-orang berkebangsaan Indonesia yang tinggal di luar negeri, di luar Indonesia maksudku, disebut imigran oleh warga negara tersebut, bahkan oleh sesama warga Indonesia. Sementara orang-orang berkulit putih di Indonesia, oleh orang-orang Indonesia, mereka disebut ekspat. Kenapa seorang atasanku yang berkewarganegaraan Belanda dan telah tinggal di Jakarta selama 5 tahun disebut ekspat, tetapi sepupuku asal Surabaya yang telah 4 tahun tinggal di Jerman tetap disebut imigran? Seorang rekan kerjaku, yang berasal dari Filipina dan telah tinggal di Jakarta selama 3 tahun tidak pernah disebut ekspat. Bahkan seorang kawan yang baru saja kembali dari liburannya di Singapura menyebut orang-orang India yang banyak jumlahnya di sana sebagai imigran, tetapi ia menyebut orang-orang kulit putih di sana sebagai ekspat.

Aku tidak ingin terdengar seperti para bajingan politically correct, tetapi harus diakui bahwa istilah juga menunjukan sebuah hirarki antar ras dan dominasi ekonomi. Jadi kalau orang kulit putih dari negara Dunia Pertama hadir dan tinggal di sebuah negara Dunia Ketiga maka lantas ia akan disebut ekspat, sementara kalau seseorang kulit berwarna dari negara Dunia Ketiga hadir dan tinggal di sebuah negara Dunia Pertama maka ia akan disebut imigran.

Lebih kompleksnya lagi, istilah-istilah tersebut keluar bukan dari mulut orang-orang kulit putih melainkan dari orang-orang Indonesia sendiri. Semacam, inferioritas bangsa pasca-kolonialkah? Bisa jadi. Derajatmu sebagai manusia dengan kulit berwarna dianggap lebih rendah daripada mereka, para kulit putih. Karena nyaris dimanapun di Indonesia ini, engkau bisa melihat sesamamu orang Indonesia yang begitu mengagung-agungkan kaum kulit putih. Entah bersikukuh untuk berfoto bersama, mengencani, menikahi, atau bahkan hanya demi bersetubuh dengan sang kulit putih.

Kutekankan sekali lagi bahwa aku sama sekali tidak bermaksud rasis dan sok-sok nasionalis. Sama sekali tidak. Aku lahir dan tumbuh besar di negeri ini, Indonesia, kendati aku sama sekali tidak menaruh kepercayaan pada sistem politik dan roda pemerintahan yang berjalan. Aku hanya muak mendapati kenyataan bahwa bangsa ini sungguh merupakan bangsa yang inferior dan belum bisa melepaskan dirinya dari jeratan pasca-kolonial. Kasihan.

Advertisements

8 thoughts on “Kota Tua, Jakarta, November 2017: Inferioritas Bangsa Pasca-Kolonial

    • sebenernya bukan dikotomi barat-timur juga sih maksud saya, tapi ya begitulah. sindrom inferioritas pasca-kolonial itu masih kentara banget di negara yang konon katanya udah merdeka ini.

      Like

  1. kalau kata Benedict Anderson, dia lebih pilih orang kulit putih disebut bule karena asal katanya dari bahasa Jawa “bulai” (dilafalkan “bule”), artinya kerbau yang punya kelainan kulit albino. Jadi kalau lihat orang kulit putih, orang-orang Jawa jaman dulu katanya teringatnya sama kerbau albino. Biar agak-agak ambigu-menyindir sembari meruntuhkan kekakuan kali ya hehe

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s