Sesuatu Bernama Kenangan: Jangan Biarkan Ia Hilang

“And I meant every word that I said, when I said that I love you I meant that I love you forever.”

—REO Speedwagon, Keep On Loving You

Aku menyukai cuaca sore ini. Tidak hujan, tidak juga terlalu cerah. Duduk di balik kemudi dengan jendela terbentang lebar di hadapanku, memandang keluar jendela.

Macet. Sore di kota ini memang selalu macet. Tapi juga selalu, dan tidak hanya terjadi di sini, setiap kali aku seorang diri dalam perjalanan, aku selalu melihat jendela mobil sebagai sebuah layar monitor raksasa. Tidak untuk memertontonkan aktivitas di luaran mobil, melainkan sebagai sebuah ajang perenungan. Melamun lebih tepatnya. Hidup selalu berkelebat hebat dan tidak dalam artian positif. Selalu saja yang berkelebat adalah kekalahan, keputusasaan, kesalahan. Atau malah kenangan.

Aku mengingatmu, terkenang akan dirimu, dalam perjalanan sore ini. Aku mengingat dengan jelas, karena hanya pada masa-masa tersebutlah aku merasa begitu berbahagia bersamamu.

Baik atau buruk, kenangan pada masa-masa tersebutlah apa yang masih kumiliki dan kupegang erat di dunia ini, satu-satunya yang terus membuatku merasa beruntung karena hidup yang berantakan ini jadinya lebih mudah diterima. Karena aku pernah memiliki kenangan bersamamu. Kukatakan kenangan bersamamu, bukan dirimu. Bukan lagi dirimu. Sebagaimana dirimu bukan lagi milikku.

Mungkin pada akhirnya itulah pilihanku, menyusun kenanganku sendiri sebagaimana yang kuinginkan. Apabila kenanganku terdistorsi, aku tidak peduli kini. Aku menyusun seperti apa yang kupikirkan dan kurasakan. Lebih tepatnya, ini tentang apa yang kurasakan dulu. Apabila mungkin ternyata sesungguhnya dulu tidak terasa indah bagimu, maaf, aku tidak peduli, karena ini adalah kenanganku. Milikku. Aku adalah apa yang aku rasa dan pikirkan.

Aku melirik jam tanganku. Memperkirakan waktu di perjalanan ini.

Waktu. Di dunia seperti ini, wajar apabila sebagian besar dari kita tidak memiliki waktu. Kita nyaris tak memiliki apapun saat iklan, media dan juru bicara korporat atau pemerintahan mengatakan bahwa kita mampu mendapatkan apapun. Rumah, mobil, smartphone, sepatu…

Kita bisa memiliki semua itu tapi apa kita bisa memiliki waktu? Waktu yang bergulir dan tak pernah kembali. Waktu yang hanya akan lewat, berlalu, dan menjadi sejarah. Menjadi kenangan.

Kenangan.

Seperti kenangan atas dirimu ini. Itu yang aku miliki. Kau tahu? Aku tidak peduli pada mereka yang kehilangan waktu, aku bersyukur karena aku masih memiliki sesuatu. Kenangan yang tidak tergerus waktu, yang justru menguat semakin waktu berlalu. Aku hanya berharap engkau juga memiliki kenangan indah seperti yang saat ini sedang kuangkat ke permukaan kesadaranku sendiri. Mungkin Ray Charles benar. Waktu berhenti di momen-momen tertentu. Tapi mungkin juga ia salah dan malah Keane yang benar, bahwa segala sesuatu berubah. Aku tidak suka nyanyian Adele, bahwa kita akan bisa menemukan seseorang yang mirip. Tidak. Itu karenanya aku memelihara kenanganku. Tidak ada yang bisa menggantikannya. Tidak juga dirimu kini.

Di sebuah jalan dalam beberapa detik karena macet, mobil yang kukemudikan bersisian dengan sebuah mobil berkaca jendela gelap. Dan aku melihat ada refleksi di situ. Kita semua. Tiap-tiap diri kita. Tak lebih dari sekedar sebuah citra yang terefleksikan melalui sebuah cermin yang retak—siapa diri kita, siapa diri kita yang dipikirkan orang lain, siapa diri kita dalam pikiran kita sendiri, siapa yang diri kita ingin kita menjadi, semua tidak pernah saling bertautan.

Siapa aku kini? Apakah benar aku kini adalah orang yang berbeda dengan aku yang berada bersamamu dalam jalur perjalanan ini, dahulu? Aku tidak tahu.

Aku hanya tahu bahwa engkau kini berbeda. Aku tidak berharap engkau untuk kembali sama seperti dulu. Tidak sama sekali. Toh aku tahu apa yang sungguh aku miliki dan aku semakin hari semakin merasa cukup dengannya. Bukan dirimu kini yang tidak lagi kumiliki. Melainkan kenangan tentang dirimu. Tak ada seorangpun yang mampu merenggutnya dariku. Bahkan tidak juga dirimu.

Dengan apa yang kumiliki tersebut, tanpa terasa aku tersenyum sepanjang perjalanan. Hangat. Sehangat sinar mentari sore hari ini saat aku tiba di Tangerang.

Advertisements

Sesuatu Bernama Kenangan: Malam

​She took you for a ride in summer, baby
Lost all your money to her
All I wanna know is if you love her
How come you never give in

―Cigarettes After Sex, Each Time You Fall In Love

Sayup-sayup suara sendu Greg Gonzalez masih terdengar dari tape mobil yang volume-nya sudah kukecilkan perlahan. Aku membuka setengah jendela mobil, sekedar untuk menghembuskan asap rokok lalu membuang abu serta puntungnya keluar.

Pukul dua dini hari. Toll dari Jakarta menuju Merak. Aku baru saja menghabiskan waktuku dari tengah malam untuk mengelilingi toll dalam kota Jakarta. Hanya berkeliling tak menentu arah. Melihat jajaran lampu jalanan yang menyala dengan temaram, berupaya untuk menenangkan pikiran dan hatiku yang kacau balau.

Perihal rokok apa yang sedang kuhisap, aku pun tak tahu menahu. Sudah lama sedari lulus sekolah menengah aku berhenti merokok. Aku lebih memilih untuk menenggak alkohol ketimbang menghisap rokok. Tetapi rupanya tidak malam ini. Aku mengambil sebatang rokok dari bungkusan yang tergeletak di dashboard, bungkusan berwarna biru tua dengan gambar menakutkan seorang pria yang terkena kanker leher. Rokok milik kawanku yang kini tengah mati-matian menahan kantuk karena aku memaksanya beberapa jam yang lalu, untuk menemaniku malam ini.

Kawanku ini, seorang yang telah mengenalku sedari kami berdua duduk di bangku taman kanak-kanak, seorang yang hafal dengan segala tindak tanduk dan karakterku, merasa heran dengan diriku yang belakangan ini selalu nampak sedih apabila kami sedang bertemu dan berbincang dengan kawan-kawan kami yang lainnya.

Masalah cewek, tebaknya. Pasti, jawabku sambil meremas kemudi. Merasa kesal. Mengapa aku tetap memikirkanmu, bahkan saat aku sedang berkumpul dengan kawan-kawanku, dengan perempuan-perempuan lain yang mungkin bisa saja dengan mudahnya jatuh ke pelukanku? Mengapa, selalu saja dirimu bahkan setelah sekian lama? Mengapa aku marah ketika mendengar seseorang membicarakan keburukanmu? Demi surga, mengapa?

Aku ingat bahwa engkau pernah berkata padaku. Untuk berhenti mempertanyakan alasan, untuk berhenti mengatakan mengapa. Bahwa tanpamu, hidupku harus tetap berjalan, begitu ucapmu. Semua nampak begitu mudah bagimu, sanggahku kala itu. Berarti aku menyembunyikan luka dan perasaanku dengan baik karena tak seorangpun dapat melihatnya, jawabmu kemudian.

Aku tak ingin berdebat lebih jauh denganmu. Apa yang telah terjadi di masa lalu sesungguhnya sama sekali tak bisa diubah. Kita sama sekali tidak bisa kembali ke keadaan sebelumnya, sebelum semua ini terjadi. Aku hanya mampu mengingat setiap perkataan yang telah terucap namun tak pernah terlaksanakan. Begitu rapuh. Seperti kilatan cahaya dari lampu-lampu kendaraan yang berkelebat membelah malam.

Aku menginjak pedal gas dalam-dalam dan mencengkeram kemudi dengan eratnya. Ada hembusan angin malam yang menerpa wajahku. Ada bulir-bulir air yang perlahan menetes dari pelupuk mataku.