Sesuatu Bernama Kenangan: Malam

​She took you for a ride in summer, baby
Lost all your money to her
All I wanna know is if you love her
How come you never give in

―Cigarettes After Sex, Each Time You Fall In Love

Sayup-sayup suara sendu Greg Gonzalez masih terdengar dari tape mobil yang volume-nya sudah kukecilkan perlahan. Aku membuka setengah jendela mobil, sekedar untuk menghembuskan asap rokok lalu membuang abu serta puntungnya keluar.

Pukul dua dini hari. Toll dari Jakarta menuju Merak. Aku baru saja menghabiskan waktuku dari tengah malam untuk mengelilingi toll dalam kota Jakarta. Hanya berkeliling tak menentu arah. Melihat jajaran lampu jalanan yang menyala dengan temaram, berupaya untuk menenangkan pikiran dan hatiku yang kacau balau.

Perihal rokok apa yang sedang kuhisap, aku pun tak tahu menahu. Sudah lama sedari lulus sekolah menengah aku berhenti merokok. Aku lebih memilih untuk menenggak alkohol ketimbang menghisap rokok. Tetapi rupanya tidak malam ini. Aku mengambil sebatang rokok dari bungkusan yang tergeletak di dashboard, bungkusan berwarna biru tua dengan gambar menakutkan seorang pria yang terkena kanker leher. Rokok milik kawanku yang kini tengah mati-matian menahan kantuk karena aku memaksanya beberapa jam yang lalu, untuk menemaniku malam ini.

Kawanku ini, seorang yang telah mengenalku sedari kami berdua duduk di bangku taman kanak-kanak, seorang yang hafal dengan segala tindak tanduk dan karakterku, merasa heran dengan diriku yang belakangan ini selalu nampak sedih apabila kami sedang bertemu dan berbincang dengan kawan-kawan kami yang lainnya.

Masalah cewek, tebaknya. Pasti, jawabku sambil meremas kemudi. Merasa kesal. Mengapa aku tetap memikirkanmu, bahkan saat aku sedang berkumpul dengan kawan-kawanku, dengan perempuan-perempuan lain yang mungkin bisa saja dengan mudahnya jatuh ke pelukanku? Mengapa, selalu saja dirimu bahkan setelah sekian lama? Mengapa aku marah ketika mendengar seseorang membicarakan keburukanmu? Demi surga, mengapa?

Aku ingat bahwa engkau pernah berkata padaku. Untuk berhenti mempertanyakan alasan, untuk berhenti mengatakan mengapa. Bahwa tanpamu, hidupku harus tetap berjalan, begitu ucapmu. Semua nampak begitu mudah bagimu, sanggahku kala itu. Berarti aku menyembunyikan luka dan perasaanku dengan baik karena tak seorangpun dapat melihatnya, jawabmu kemudian.

Aku tak ingin berdebat lebih jauh denganmu. Apa yang telah terjadi di masa lalu sesungguhnya sama sekali tak bisa diubah. Kita sama sekali tidak bisa kembali ke keadaan sebelumnya, sebelum semua ini terjadi. Aku hanya mampu mengingat setiap perkataan yang telah terucap namun tak pernah terlaksanakan. Begitu rapuh. Seperti kilatan cahaya dari lampu-lampu kendaraan yang berkelebat membelah malam.

Aku menginjak pedal gas dalam-dalam dan mencengkeram kemudi dengan eratnya. Ada hembusan angin malam yang menerpa wajahku. Ada bulir-bulir air yang perlahan menetes dari pelupuk mataku.

Advertisements

9 thoughts on “Sesuatu Bernama Kenangan: Malam

    • pada akhirnya kita semua saling meninggalkan satu sama lain. pada akhirnya.

      if you found someone who listen to cigsaftersex, hug him/her and slowly whisper on his/her ear, “you have the most beautiful soul in this heartless world.”

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s