This Is My Farewell, This Is My Goodbye

“All things made to be destroyed, all moments meant to pass.”

— Against Me!, FuckMyLife666

Blog ini telah berakhir. Pesta telah usai dan tamu-tamu melangkah pulang, apa yang tersisa tak lain hanyalah gelas-gelas kosong, botol-botol berserakan di mana-mana, beberapa bekas muntah dan air ludah. Dalam keheningan yang sublim, aku kini paham cara mengenang mereka yang pernah dekat dengan jiwaku dan membuat mereka tetap hidup. Mereka yang mana aku persembahkan dan tutup seluruh catatanku dalam blog ini.

Bagi satu-satunya perempuan yang hingga kini tak pernah kulupakan, yang pernah begitu dekat denganku seakan menjadi cermin bagi jiwaku, yang mana aku tak akan menukar walau dengan apapun juga tahun-tahun yang pernah kami lewati bersama: Novela Fransisca Sihombing. Banyak momen dalam hidup kami berdua. Beberapa momen lenyap tergerus waktu seperti pasir pantai yang disapu ombak dan dihembus angin, tetapi beberapa momen tergerus begitu dalam hingga mengeras seperti karang. Banyak momen dalam hidup kami berdua, tetapi hanya beberapa momen yang tak pernah terlupakan. Dirimu yang mencetuskan momen tersebut, juga tak akan pernah terlupakan. Terima kasih, Novela. Terima kasih banyak.

Bagi kalian yang datang dan pergi di sepanjang hidupku, yang pernah menyemai dan menghancurkan hatiku, yang mana beberapa di antaranya tak pernah melangkah pergi dariku. Kalian yang pernah berbagi sebagian kisah hidup dan membaginya dengan diriku walaupun hanya sekejap. Kalian tahu bukan kuantitas yang kuhargai lebih, melainkan kualitas waktu. Bagi kalian: Audrey Agnes Pratiwi, Augusta Esmeralda, Arystha Ayu, Ayas Maharani, Bellanissa Brilia Zoditama, Dessy Christina Noelik, Elsa Kiik, Laura Valencia, Regina Putri, Sarah Claudia Loupatty, Silvya Louis, Theodora Gita Laras Rishantika, Yeni Reksotinoyo, Virginia Prameswari. Terima kasih.

Kini biarlah hidup menggariskan apa yang harus digariskan, biarlah takdir yang menentukan. Kita semua tak lebih dari sehelai daun kering yang melayang ke sana kemari dihembus oleh deru angin. Bagi kalian semua, catatan dalam blog ini kuakhiri. Mari kita bersulang, untuk mereka yang kita cintai dalam hidup kita dan mereka yang telah pergi dari hidup kita.

This is my farewell, this is my goodbye.

 

Advertisements

Sesuatu Bernama Kenangan: Jangan Biarkan Ia Hilang

“And I meant every word that I said, when I said that I love you I meant that I love you forever.”

—REO Speedwagon, Keep On Loving You

Aku menyukai cuaca sore ini. Tidak hujan, tidak juga terlalu cerah. Duduk di balik kemudi dengan jendela terbentang lebar di hadapanku, memandang keluar jendela.

Macet. Sore di kota ini memang selalu macet. Tapi juga selalu, dan tidak hanya terjadi di sini, setiap kali aku seorang diri dalam perjalanan, aku selalu melihat jendela mobil sebagai sebuah layar monitor raksasa. Tidak untuk memertontonkan aktivitas di luaran mobil, melainkan sebagai sebuah ajang perenungan. Melamun lebih tepatnya. Hidup selalu berkelebat hebat dan tidak dalam artian positif. Selalu saja yang berkelebat adalah kekalahan, keputusasaan, kesalahan. Atau malah kenangan.

Aku mengingatmu, terkenang akan dirimu, dalam perjalanan sore ini. Aku mengingat dengan jelas, karena hanya pada masa-masa tersebutlah aku merasa begitu berbahagia bersamamu.

Baik atau buruk, kenangan pada masa-masa tersebutlah apa yang masih kumiliki dan kupegang erat di dunia ini, satu-satunya yang terus membuatku merasa beruntung karena hidup yang berantakan ini jadinya lebih mudah diterima. Karena aku pernah memiliki kenangan bersamamu. Kukatakan kenangan bersamamu, bukan dirimu. Bukan lagi dirimu. Sebagaimana dirimu bukan lagi milikku.

Mungkin pada akhirnya itulah pilihanku, menyusun kenanganku sendiri sebagaimana yang kuinginkan. Apabila kenanganku terdistorsi, aku tidak peduli kini. Aku menyusun seperti apa yang kupikirkan dan kurasakan. Lebih tepatnya, ini tentang apa yang kurasakan dulu. Apabila mungkin ternyata sesungguhnya dulu tidak terasa indah bagimu, maaf, aku tidak peduli, karena ini adalah kenanganku. Milikku. Aku adalah apa yang aku rasa dan pikirkan.

Aku melirik jam tanganku. Memperkirakan waktu di perjalanan ini.

Waktu. Di dunia seperti ini, wajar apabila sebagian besar dari kita tidak memiliki waktu. Kita nyaris tak memiliki apapun saat iklan, media dan juru bicara korporat atau pemerintahan mengatakan bahwa kita mampu mendapatkan apapun. Rumah, mobil, smartphone, sepatu…

Kita bisa memiliki semua itu tapi apa kita bisa memiliki waktu? Waktu yang bergulir dan tak pernah kembali. Waktu yang hanya akan lewat, berlalu, dan menjadi sejarah. Menjadi kenangan.

Kenangan.

Seperti kenangan atas dirimu ini. Itu yang aku miliki. Kau tahu? Aku tidak peduli pada mereka yang kehilangan waktu, aku bersyukur karena aku masih memiliki sesuatu. Kenangan yang tidak tergerus waktu, yang justru menguat semakin waktu berlalu. Aku hanya berharap engkau juga memiliki kenangan indah seperti yang saat ini sedang kuangkat ke permukaan kesadaranku sendiri. Mungkin Ray Charles benar. Waktu berhenti di momen-momen tertentu. Tapi mungkin juga ia salah dan malah Keane yang benar, bahwa segala sesuatu berubah. Aku tidak suka nyanyian Adele, bahwa kita akan bisa menemukan seseorang yang mirip. Tidak. Itu karenanya aku memelihara kenanganku. Tidak ada yang bisa menggantikannya. Tidak juga dirimu kini.

Di sebuah jalan dalam beberapa detik karena macet, mobil yang kukemudikan bersisian dengan sebuah mobil berkaca jendela gelap. Dan aku melihat ada refleksi di situ. Kita semua. Tiap-tiap diri kita. Tak lebih dari sekedar sebuah citra yang terefleksikan melalui sebuah cermin yang retak—siapa diri kita, siapa diri kita yang dipikirkan orang lain, siapa diri kita dalam pikiran kita sendiri, siapa yang diri kita ingin kita menjadi, semua tidak pernah saling bertautan.

Siapa aku kini? Apakah benar aku kini adalah orang yang berbeda dengan aku yang berada bersamamu dalam jalur perjalanan ini, dahulu? Aku tidak tahu.

Aku hanya tahu bahwa engkau kini berbeda. Aku tidak berharap engkau untuk kembali sama seperti dulu. Tidak sama sekali. Toh aku tahu apa yang sungguh aku miliki dan aku semakin hari semakin merasa cukup dengannya. Bukan dirimu kini yang tidak lagi kumiliki. Melainkan kenangan tentang dirimu. Tak ada seorangpun yang mampu merenggutnya dariku. Bahkan tidak juga dirimu.

Dengan apa yang kumiliki tersebut, tanpa terasa aku tersenyum sepanjang perjalanan. Hangat. Sehangat sinar mentari sore hari ini saat aku tiba di Tangerang.

Sesuatu Bernama Kenangan: Malam

​She took you for a ride in summer, baby
Lost all your money to her
All I wanna know is if you love her
How come you never give in

―Cigarettes After Sex, Each Time You Fall In Love

Sayup-sayup suara sendu Greg Gonzalez masih terdengar dari tape mobil yang volume-nya sudah kukecilkan perlahan. Aku membuka setengah jendela mobil, sekedar untuk menghembuskan asap rokok lalu membuang abu serta puntungnya keluar.

Pukul dua dini hari. Toll dari Jakarta menuju Merak. Aku baru saja menghabiskan waktuku dari tengah malam untuk mengelilingi toll dalam kota Jakarta. Hanya berkeliling tak menentu arah. Melihat jajaran lampu jalanan yang menyala dengan temaram, berupaya untuk menenangkan pikiran dan hatiku yang kacau balau.

Perihal rokok apa yang sedang kuhisap, aku pun tak tahu menahu. Sudah lama sedari lulus sekolah menengah aku berhenti merokok. Aku lebih memilih untuk menenggak alkohol ketimbang menghisap rokok. Tetapi rupanya tidak malam ini. Aku mengambil sebatang rokok dari bungkusan yang tergeletak di dashboard, bungkusan berwarna biru tua dengan gambar menakutkan seorang pria yang terkena kanker leher. Rokok milik kawanku yang kini tengah mati-matian menahan kantuk karena aku memaksanya beberapa jam yang lalu, untuk menemaniku malam ini.

Kawanku ini, seorang yang telah mengenalku sedari kami berdua duduk di bangku taman kanak-kanak, seorang yang hafal dengan segala tindak tanduk dan karakterku, merasa heran dengan diriku yang belakangan ini selalu nampak sedih apabila kami sedang bertemu dan berbincang dengan kawan-kawan kami yang lainnya.

Masalah cewek, tebaknya. Pasti, jawabku sambil meremas kemudi. Merasa kesal. Mengapa aku tetap memikirkanmu, bahkan saat aku sedang berkumpul dengan kawan-kawanku, dengan perempuan-perempuan lain yang mungkin bisa saja dengan mudahnya jatuh ke pelukanku? Mengapa, selalu saja dirimu bahkan setelah sekian lama? Mengapa aku marah ketika mendengar seseorang membicarakan keburukanmu? Demi surga, mengapa?

Aku ingat bahwa engkau pernah berkata padaku. Untuk berhenti mempertanyakan alasan, untuk berhenti mengatakan mengapa. Bahwa tanpamu, hidupku harus tetap berjalan, begitu ucapmu. Semua nampak begitu mudah bagimu, sanggahku kala itu. Berarti aku menyembunyikan luka dan perasaanku dengan baik karena tak seorangpun dapat melihatnya, jawabmu kemudian.

Aku tak ingin berdebat lebih jauh denganmu. Apa yang telah terjadi di masa lalu sesungguhnya sama sekali tak bisa diubah. Kita sama sekali tidak bisa kembali ke keadaan sebelumnya, sebelum semua ini terjadi. Aku hanya mampu mengingat setiap perkataan yang telah terucap namun tak pernah terlaksanakan. Begitu rapuh. Seperti kilatan cahaya dari lampu-lampu kendaraan yang berkelebat membelah malam.

Aku menginjak pedal gas dalam-dalam dan mencengkeram kemudi dengan eratnya. Ada hembusan angin malam yang menerpa wajahku. Ada bulir-bulir air yang perlahan menetes dari pelupuk mataku.

Tentang Sebuah Perpisahan: Cinta Tak Akan Pernah Mati

​You are always in my heart and in the every air that I breath. I love you.

Apa yang akan engkau lakukan apabila
engkau jatuh cinta pada seseorang tetapi tanpa sadar apa yang engkau lakukan hanyalah mendorong seseorang tersebut jauh hingga ke titik batas sehingga ia memutuskan untuk meninggalkanmu?

Akankah engkau hancur berantakan? Apakah engkau akan berusaha mendapatkannya kembali, walaupun tahu bahwa semua terjadi karena kesalahanmu sendiri?

Atau dapatkah engkau menjalani sisa hidupmu menyadari bahwa engkau mencintainya sepenuh hatimu tetapi engkau juga tahu bahwa apa yang telah terjadi sesungguhnya telah terjadi dan tak dapat diperbaiki? Dapatkah engkau memaafkan dirimu sendiri, karena hal tersulit daripada memaafkan orang lain adalah memaafkan dirimu sendiri?

Apa yang akan engkau lakukan?

Kalau aku? Aku tidak tahu, selain hanya mengutuki diriku sendiri karena engkau pergi, aku ingin merengkuhmu kembali, tetapi aku berpikir bahwa, akankah kita bisa kembali berbahagia seperti dulu? Pertanyaan bodoh memang, karena mungkin saja dulu yang berbahagia hanya diriku dan tidak dirimu. Bukankah engkau pergi meninggalkanku justru karena engkau tidak berbahagia denganku?

Dan aku tahu, beberapa luka tak pernah tercipta untuk dapat mengering. Selalu akan ada luka yang tidak akan pernah bisa hilang, ada noda yang memang harus dibiarkan tinggal. Bahwa mungkin satu-satunya cara agar aku dapat terus berjalan dan melanjutkan hidup adalah justru dengan berdamai bersama kenangan tentang dirimu, alih-alih menghapusnya.

Aku juga belajar satu hal darimu. Bahwa cinta memang tak akan pernah mati, tetapi ia dapat pergi saat engkau memperlakukannya dengan setengah hati.

Seperti dirimu.

Hujan

Jangan biarkan aku pergi.

Aku menyukai hujan yang datang menjelang walau hal tersebut akan berarti banjir bandang. Karena hujan meniadakan luka, ia menghapus nestapa, sebagaimana debu-debu terbasuh, yang tanpanya daun-daun akan terlihat lusuh. Aku menyukai hujan karena ia menyamarkan air mata, hingga tak seorangpun melihat tetesan yang mendera.

Aku menyukai momen setelah hujan yang memang tak pernah permanen. Segala hal menjadi lebih jelas terlihat, segala jejak yang terpahat, segala hal yang menjejak kuat. Seperti dirimu yang selalu tegar walau hatimu kelu dan layu.

Hujan.

Jangan pernah biarkan aku pergi dari sisimu.

Pelabuhan Tenau, Kupang, Oktober 2017: Vivre Sans Temps Mort

“Waking soft
Waking slow
Fading into focus
Every breath
Every pulse
Holding in the moment”
―Fazerdaze, Shoulders

Setiap kali aku menjejakkan kaki di Kupang, aku selalu ke dermaga di pelabuhan ini. Entah mengapa, ada sesuatu yang menenangkan di sini, terutama di malam hari. Dengan suasana sekeliling yang temaram dan hening, selain hanya diisi oleh bunyi air yang berkecipak di bawahku saat dengan perlahan menumbuk dinding dermaga. Tentu, seperti biasanya juga, aku membawa sebungkus kerupuk kulit babi dan sebotol bir dingin.

Dalam ketenangan seperti ini juga, biasanya aku memutar kembali rel film soal kehidupanku sendiri, dalam benakku. Malam semakin larut, angin semakin kencang dan dingin. Aku menengadahkan kepalaku saat angin kembali berhembus. Kupejamkan mataku sesaat. Momen yang indah, pikirku. Dalam remang malam dan di bawah langit berbintang. Mungkin sensasi semacam inilah yang oleh Anaïs Nin disebut sebagai “an ephemeral flow of sensations” sebagaimana ia melihat lampu-lampu kota Times Square untuk pertama kalinya.

Momen yang sempurna walaupun akan berakhir dalam beberapa saat saja, pikirku. Tetapi toh tak ada masalah semenjak semua momen pasti berakhir—termasuk momen terbaik. Dan bukankah justru karena ada akhir, tak peduli berapa pun panjang waktunya, maka sebuah momen menjadi sempurna? Seperti kali ini, di sini. Inilah yang kusebut momen yang sempurna.

Angin di atas dermaga ini demikian menggigit. Tapi mungkin aku akan bisa berdiri di atas sini, memandang keindahan sublim ini seribu malam lagi. Aku membuka botol bir dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke arah bintang paling terang di langit utara. Sungguh, sebanyak apapun aku mengeluh, aku tahu bahwa aku mencintai hidup ini. 

Aku mau hidup, seribu tahun lagi.

Karawaci, Tangerang, September 2017: Sepersekian Detik yang Terasa Abadi

Aku duduk berkendara di sampingmu menembus kelamnya malam. Tak jauh berbeda dari malam-malam lainnya. Namun kali ini aku berkendara dengan sebuah tujuan. Aku berkendara untuk berpisah dengan dirimu. Sementara engkau berkendara menuju masa depanmu, bukan masa depan kita. Entahlah. Karena apakah arti masa depan bagi kita, setelah semua ini? Aku hanya menikmati keberadaanmu saat ini di sisiku.

Kita masih tak berkata apapun untuk sekian lama. Hanya engkau di pelukanku, hanya aku yang mengusap rambutmu. Tak perlu ada kata dalam momen-momen seperti demikian. Apabila kita sedang berseteru, kita akan berteriak, bukan karena posisi kita secara fisik berjauhan, melainkan karena hati kitalah yang saling menjauh dan hal tersebut termanifestasikan pada gerak tubuh dan apa yang tubuh kita lakukan. Kita berteriak. Tetapi saat kita dalam keadaan yang damai, kita akan berbisik. Karena hati kita berdekatan, yang karenanya bahkan sebuah suara dalam tingkat normalpun akan terlalu keras terdengar di telinga kita. Dan kala kita benar-benar melekat, kala jiwa kita melebur dan menjadi satu, bahkan bisikan pun tak akan lagi dibutuhkan.

Kita akan dapat saling merasa tanpa dibutuhkan kata-kata. Kita cukup mengada. Kita cukup merasa.

Kita masih juga tak berbicara. Hanya terdengar hembusan nafas kita sendiri. Aku dapat merasakan hembus nafasmu di leherku. Sementara tanganku merasai helai-helai rambut hitammu yang kau biarkan memanjang. Aku merasai kulit leher belakangmu, bahumu, lenganmu, punggungmu. Lantas tanganku kembali mengusap punggungmu. Aku tidak tahu, berapa lama aku dapat bertahan dalam posisi seperti ini.

Kau tahu? Aku ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin untuk kita berdua, tetapi aku juga tahu, aku harus berpuas dengan waktumu yang memang hanya sejenak. Karena keterbatasan waktu jugalah yang membuat setiap waktu yang kita jalani menjadi berharga. Amat berharga, menjadi abadi dalam hati, justru karena ia dapat berakhir.

Aku tahu. Itulah yang mendefinisikan sebuah momen. Momen yang kita miliki hanyalah beberapa jam. Aku menatap jam tanganku. Sudah waktunya.

Momen yang kita miliki akan segera berakhir. Kau akan kembali kepada kehidupan harianmu dan aku pada hidup harianku, menganggap momen ini seakan tak pernah terjadi tetapi sekaligus abadi. Melupakan sekaligus mengingat. Merengkuh sekaligus merelakan. Ada sebersit sinar di matamu. Mungkin juga di mataku. Tanganmu menghela rambutmu ke belakang dan kau menatapku. Engkau membuka mulutmu, lalu meletakkan bibirmu tepat di bibirku. Dan kedua tanganku secara refleks meraih belakang kepalamu, menahanmu selama mungkin. Seperti hatiku yang ingin menahanmu selama mungkin. Selama mungkin, karena ini akan segera berakhir. Selama mungkin.

Engkau adalah salah satu dari sedikit orang yang hadir di sepanjang perjalanan hidupku, yang denganmu lah, aku dapat berbagi kisah dan desah tanpa perlu merasa canggung. Engkau juga tahu, bahwa esok adalah hari ulang tahunku dan aku sama sekali tak berniat untuk merayakannya. Karena toh bagiku, aku berulang tahun di setiap pagi kala aku membuka mata dan menghela nafasku. Karena engkau juga tahu, aku tak mempercayai adanya kehidupan setelah mati.

Bagiku hidup hanyalah sekali ini saja. Kala segelas bir dingin melepas dahaga di kerongkongan kita. Kala lenguhan nafasmu ketika orgasme terasa di wajahku. Kala tetesan air perlahan mengalir di pelupuk mataku. Kala aku merengkuh dirimu dengan sepenuh hatiku. Saat ini. Pada momen ini. Sepersekian detik yang terasa abadi.