Sesuatu Bernama Kenangan: Senja

“With shortness of breath, I’ll explain the infinite, how rare and beautiful it truly is that we exist.” —Sleeping At Last, Saturn

Padang, Juli 2017.

Advertisements

Tentang Sebuah Perpisahan: Luka di Penghujung Desember

“My heart, it breaks every step that I take.” —Lana Del Rey, Born To Die

Saat engkau telah memberikan nyaris semua yang engkau miliki, tetapi seakan tak mendapatkan apapun selain hanya kekecewaan dan penderitaan. Saat engkau merasa bahwa sesungguhnya dirimu tak penting lagi, tak dibutuhkan lagi, tak diinginkan lagi, tak dipedulikan lagi. Saat pada akhirnya engkau telah melihat batasmu mulai hadir di horizon senjakalamu.

Dan hal itu seperti saklar yang di-klik dalam kepalamu. Dan engkau tak akan peduli lagi apa yang akan terjadi selanjutnya. Bukankah itu adalah saat engkau untuk pada akhirnya berkata, cukup?

Aku tahu, masa itu akan datang di tiap-tiap orang. Orang seperti dirimu.

Seperti juga diriku.

Sesuatu Bernama Kenangan: Jangan Biarkan Ia Hilang

“And I meant every word that I said, when I said that I love you I meant that I love you forever.”

—REO Speedwagon, Keep On Loving You

Aku menyukai cuaca sore ini. Tidak hujan, tidak juga terlalu cerah. Duduk di balik kemudi dengan jendela terbentang lebar di hadapanku, memandang keluar jendela.

Macet. Sore di kota ini memang selalu macet. Tapi juga selalu, dan tidak hanya terjadi di sini, setiap kali aku seorang diri dalam perjalanan, aku selalu melihat jendela mobil sebagai sebuah layar monitor raksasa. Tidak untuk memertontonkan aktivitas di luaran mobil, melainkan sebagai sebuah ajang perenungan. Melamun lebih tepatnya. Hidup selalu berkelebat hebat dan tidak dalam artian positif. Selalu saja yang berkelebat adalah kekalahan, keputusasaan, kesalahan. Atau malah kenangan.

Aku mengingatmu, terkenang akan dirimu, dalam perjalanan sore ini. Aku mengingat dengan jelas, karena hanya pada masa-masa tersebutlah aku merasa begitu berbahagia bersamamu.

Baik atau buruk, kenangan pada masa-masa tersebutlah apa yang masih kumiliki dan kupegang erat di dunia ini, satu-satunya yang terus membuatku merasa beruntung karena hidup yang berantakan ini jadinya lebih mudah diterima. Karena aku pernah memiliki kenangan bersamamu. Kukatakan kenangan bersamamu, bukan dirimu. Bukan lagi dirimu. Sebagaimana dirimu bukan lagi milikku.

Mungkin pada akhirnya itulah pilihanku, menyusun kenanganku sendiri sebagaimana yang kuinginkan. Apabila kenanganku terdistorsi, aku tidak peduli kini. Aku menyusun seperti apa yang kupikirkan dan kurasakan. Lebih tepatnya, ini tentang apa yang kurasakan dulu. Apabila mungkin ternyata sesungguhnya dulu tidak terasa indah bagimu, maaf, aku tidak peduli, karena ini adalah kenanganku. Milikku. Aku adalah apa yang aku rasa dan pikirkan.

Aku melirik jam tanganku. Memperkirakan waktu di perjalanan ini.

Waktu. Di dunia seperti ini, wajar apabila sebagian besar dari kita tidak memiliki waktu. Kita nyaris tak memiliki apapun saat iklan, media dan juru bicara korporat atau pemerintahan mengatakan bahwa kita mampu mendapatkan apapun. Rumah, mobil, smartphone, sepatu…

Kita bisa memiliki semua itu tapi apa kita bisa memiliki waktu? Waktu yang bergulir dan tak pernah kembali. Waktu yang hanya akan lewat, berlalu, dan menjadi sejarah. Menjadi kenangan.

Kenangan.

Seperti kenangan atas dirimu ini. Itu yang aku miliki. Kau tahu? Aku tidak peduli pada mereka yang kehilangan waktu, aku bersyukur karena aku masih memiliki sesuatu. Kenangan yang tidak tergerus waktu, yang justru menguat semakin waktu berlalu. Aku hanya berharap engkau juga memiliki kenangan indah seperti yang saat ini sedang kuangkat ke permukaan kesadaranku sendiri. Mungkin Ray Charles benar. Waktu berhenti di momen-momen tertentu. Tapi mungkin juga ia salah dan malah Keane yang benar, bahwa segala sesuatu berubah. Aku tidak suka nyanyian Adele, bahwa kita akan bisa menemukan seseorang yang mirip. Tidak. Itu karenanya aku memelihara kenanganku. Tidak ada yang bisa menggantikannya. Tidak juga dirimu kini.

Di sebuah jalan dalam beberapa detik karena macet, mobil yang kukemudikan bersisian dengan sebuah mobil berkaca jendela gelap. Dan aku melihat ada refleksi di situ. Kita semua. Tiap-tiap diri kita. Tak lebih dari sekedar sebuah citra yang terefleksikan melalui sebuah cermin yang retak—siapa diri kita, siapa diri kita yang dipikirkan orang lain, siapa diri kita dalam pikiran kita sendiri, siapa yang diri kita ingin kita menjadi, semua tidak pernah saling bertautan.

Siapa aku kini? Apakah benar aku kini adalah orang yang berbeda dengan aku yang berada bersamamu dalam jalur perjalanan ini, dahulu? Aku tidak tahu.

Aku hanya tahu bahwa engkau kini berbeda. Aku tidak berharap engkau untuk kembali sama seperti dulu. Tidak sama sekali. Toh aku tahu apa yang sungguh aku miliki dan aku semakin hari semakin merasa cukup dengannya. Bukan dirimu kini yang tidak lagi kumiliki. Melainkan kenangan tentang dirimu. Tak ada seorangpun yang mampu merenggutnya dariku. Bahkan tidak juga dirimu.

Dengan apa yang kumiliki tersebut, tanpa terasa aku tersenyum sepanjang perjalanan. Hangat. Sehangat sinar mentari sore hari ini saat aku tiba di Tangerang.

Sesuatu Bernama Kenangan: Malam

​She took you for a ride in summer, baby
Lost all your money to her
All I wanna know is if you love her
How come you never give in

―Cigarettes After Sex, Each Time You Fall In Love

Sayup-sayup suara sendu Greg Gonzalez masih terdengar dari tape mobil yang volume-nya sudah kukecilkan perlahan. Aku membuka setengah jendela mobil, sekedar untuk menghembuskan asap rokok lalu membuang abu serta puntungnya keluar.

Pukul dua dini hari. Toll dari Jakarta menuju Merak. Aku baru saja menghabiskan waktuku dari tengah malam untuk mengelilingi toll dalam kota Jakarta. Hanya berkeliling tak menentu arah. Melihat jajaran lampu jalanan yang menyala dengan temaram, berupaya untuk menenangkan pikiran dan hatiku yang kacau balau.

Perihal rokok apa yang sedang kuhisap, aku pun tak tahu menahu. Sudah lama sedari lulus sekolah menengah aku berhenti merokok. Aku lebih memilih untuk menenggak alkohol ketimbang menghisap rokok. Tetapi rupanya tidak malam ini. Aku mengambil sebatang rokok dari bungkusan yang tergeletak di dashboard, bungkusan berwarna biru tua dengan gambar menakutkan seorang pria yang terkena kanker leher. Rokok milik kawanku yang kini tengah mati-matian menahan kantuk karena aku memaksanya beberapa jam yang lalu, untuk menemaniku malam ini.

Kawanku ini, seorang yang telah mengenalku sedari kami berdua duduk di bangku taman kanak-kanak, seorang yang hafal dengan segala tindak tanduk dan karakterku, merasa heran dengan diriku yang belakangan ini selalu nampak sedih apabila kami sedang bertemu dan berbincang dengan kawan-kawan kami yang lainnya.

Masalah cewek, tebaknya. Pasti, jawabku sambil meremas kemudi. Merasa kesal. Mengapa aku tetap memikirkanmu, bahkan saat aku sedang berkumpul dengan kawan-kawanku, dengan perempuan-perempuan lain yang mungkin bisa saja dengan mudahnya jatuh ke pelukanku? Mengapa, selalu saja dirimu bahkan setelah sekian lama? Mengapa aku marah ketika mendengar seseorang membicarakan keburukanmu? Demi surga, mengapa?

Aku ingat bahwa engkau pernah berkata padaku. Untuk berhenti mempertanyakan alasan, untuk berhenti mengatakan mengapa. Bahwa tanpamu, hidupku harus tetap berjalan, begitu ucapmu. Semua nampak begitu mudah bagimu, sanggahku kala itu. Berarti aku menyembunyikan luka dan perasaanku dengan baik karena tak seorangpun dapat melihatnya, jawabmu kemudian.

Aku tak ingin berdebat lebih jauh denganmu. Apa yang telah terjadi di masa lalu sesungguhnya sama sekali tak bisa diubah. Kita sama sekali tidak bisa kembali ke keadaan sebelumnya, sebelum semua ini terjadi. Aku hanya mampu mengingat setiap perkataan yang telah terucap namun tak pernah terlaksanakan. Begitu rapuh. Seperti kilatan cahaya dari lampu-lampu kendaraan yang berkelebat membelah malam.

Aku menginjak pedal gas dalam-dalam dan mencengkeram kemudi dengan eratnya. Ada hembusan angin malam yang menerpa wajahku. Ada bulir-bulir air yang perlahan menetes dari pelupuk mataku.

Kota Tua, Jakarta, November 2017: Inferioritas Bangsa Pasca-Kolonial

Aku sedang duduk di sebuah bangku taman, di kawasan Kota Tua Jakarta, kala seorang kawan di sampingku tiba-tiba berbicara dengan ketusnya: “Lihat tuh bule, kayak artis aja di sini.”

Berjarak sekian meter di hadapan kami, sekumpulan remaja, yang kutaksir berusia 20-an awal, tengah mengelilingi seorang lelaki kulit putih dan berfoto wefie. Beberapa saat berselang, langkah sang kulit putih terhenti lagi. Kali ini sekelompok pelajar SMA. Seperti yang kutebak, hal ini pasti ada kaitannya dengan pelajaran Bahasa Inggris. Aku hanya bisa tertawa kala mendapati ekspresi sang kulit putih yang terlihat kesal ketika berfoto wefie. Ada benarnya juga perkataan kawanku tadi.

Apabila engkau sempat berkunjung ke beberapa tempat wisata di negeri ini yang terdapat turis kulit putih, engkau mungkin pernah mendapati hal yang sama. Atau mungkin malah melakukan hal yang sama, berfoto wefie dengan mereka. Bukan, aku sama sekali tidak bermaksud rasis di sini. Tapi pernahkah engkau memperhatikan, kadang beberapa dari mereka malah merasa terganggu dengan kehadiranmu, dan beberapa orang setelahmu yang melulu hanya meminta foto bersama?

“Eh ada bule tuh, foto yuk.”

Berapa banyak dari kita yang pernah berkata seperti itu kala melihat seorang kulit putih di suatu tempat, di Indonesia ini?

Aku tidak menyukai kata itu. Bule. Aku lebih memilih menggunakan kata “Ekspatriat” yang kerap disingkat menjadi “Ekspat”, ketimbang “Bule”. “Bule” menurutku lebih sering digunakan dalam berbahasa sehari-hari, sedangkan “Ekspat” ruang lingkup penggunaannya lebih terbatas. Mungkin ini hanya preferensi berbahasa, tapi kurasa pemilihan bahasa turut mempengaruhi makna perkataan yang kita tuturkan. Aku merasa ada sesuatu yang janggal dengan persoalan berbahasa ini, kejanggalan tersebut kurasakan dalam ruang lingkup bangsa Indonesia sendiri.

Pernah engkau menyadari bahwa orang-orang berkebangsaan Indonesia yang tinggal di luar negeri, di luar Indonesia maksudku, disebut imigran oleh warga negara tersebut, bahkan oleh sesama warga Indonesia. Sementara orang-orang berkulit putih di Indonesia, oleh orang-orang Indonesia, mereka disebut ekspat. Kenapa seorang atasanku yang berkewarganegaraan Belanda dan telah tinggal di Jakarta selama 5 tahun disebut ekspat, tetapi sepupuku asal Surabaya yang telah 4 tahun tinggal di Jerman tetap disebut imigran? Seorang rekan kerjaku, yang berasal dari Filipina dan telah tinggal di Jakarta selama 3 tahun tidak pernah disebut ekspat. Bahkan seorang kawan yang baru saja kembali dari liburannya di Singapura menyebut orang-orang India yang banyak jumlahnya di sana sebagai imigran, tetapi ia menyebut orang-orang kulit putih di sana sebagai ekspat.

Aku tidak ingin terdengar seperti para bajingan politically correct, tetapi harus diakui bahwa istilah juga menunjukan sebuah hirarki antar ras dan dominasi ekonomi. Jadi kalau orang kulit putih dari negara Dunia Pertama hadir dan tinggal di sebuah negara Dunia Ketiga maka lantas ia akan disebut ekspat, sementara kalau seseorang kulit berwarna dari negara Dunia Ketiga hadir dan tinggal di sebuah negara Dunia Pertama maka ia akan disebut imigran.

Lebih kompleksnya lagi, istilah-istilah tersebut keluar bukan dari mulut orang-orang kulit putih melainkan dari orang-orang Indonesia sendiri. Semacam, inferioritas bangsa pasca-kolonialkah? Bisa jadi. Derajatmu sebagai manusia dengan kulit berwarna dianggap lebih rendah daripada mereka, para kulit putih. Karena nyaris dimanapun di Indonesia ini, engkau bisa melihat sesamamu orang Indonesia yang begitu mengagung-agungkan kaum kulit putih. Entah bersikukuh untuk berfoto bersama, mengencani, menikahi, atau bahkan hanya demi bersetubuh dengan sang kulit putih.

Kutekankan sekali lagi bahwa aku sama sekali tidak bermaksud rasis dan sok-sok nasionalis. Sama sekali tidak. Aku lahir dan tumbuh besar di negeri ini, Indonesia, kendati aku sama sekali tidak menaruh kepercayaan pada sistem politik dan roda pemerintahan yang berjalan. Aku hanya muak mendapati kenyataan bahwa bangsa ini sungguh merupakan bangsa yang inferior dan belum bisa melepaskan dirinya dari jeratan pasca-kolonial. Kasihan.

Sesuatu Bernama Kenangan: Amayadori

Think I’ll miss you forever
Like the stars miss the sun in the morning skies
Later’s better than never
Even if you’re gone I’m gonna drive, drive, drive

—Lana Del Rey, Summertime Sadness

Satu atau dua tahun dari sekarang, kenangan akan percakapan kita akan terasa berjarak. Jauh.

Seperti mimpi, engkau dapat mengingat tetapi tidak dapat membawa pikiranmu untuk  menghidupkan kembali perasaanmu. Tidak semua hal akan mengingatkanku padamu lagi. Begitu pula sebaliknya. Lagu yang kita dengarkan, film yang kita tonton, foto dan kutipan yang kita bagikan, engkau akan bisa menikmatinya kembali, tanpa merasakan kepedihan di hatimu. Semuanya akan memudar seiring dengan berjalannya waktu dan terjadinya hal-hal sepele dalam kehidupan sehari-harimu. Dan sampai saat itu, aku harus menghadapi kekosongan dalam hatiku yang telah engkau tinggalkan. Ucapanmu terus melekat dalam pikiranku, sepanjang hari. Wajahmu terus membayangi benakku, di sepanjang sisa malamku.

Namun demikian, sama sekali aku tidak menyesal mengenalmu. Engkau dapat membenciku. Mendendam akibat perbuatan burukku padamu. Aku tak mempersalahkan hal itu. Mendendamlah, sampai akhirnya tiba waktumu untuk dapat memaafkan diriku.

Dan apabila kelak engkau telah memaafkanku setulus hatimu, mendekatlah. Aku hendak membisikkan sesuatu di telingamu. Bahwa untuk sebuah kesempatan merengkuh dirimu dengan sepenuh hati di dunia yang nyaris kehilangan maknanya bagiku, aku selalu berterima kasih atas hadirnya dirimu dalam hidupku. Selalu. Walaupun kehadiranmu hanya sesaat.

Sesaat. Seperti rintik hujan yang turun di sore hari bulan November, seperti itu pula semua hal hanya mengada dalam kesementaraannya masing-masing. Temporer. Seperti rintik hujan yang kemudian menjadi deras seiring dengan waktu yang berlalu dan engkau pun berteduh darinya. Hingga pada akhirnya hujan akan reda dan engkau dapat melangkah pergi meninggalkan tempat berteduhmu, untuk kembali pulang. Menuju rumah dimana hatimu berada.