Tentang Sebuah Perpisahan: Cinta Tak Akan Pernah Mati

​You are always in my heart and in the every air that I breath. I love you.

Apa yang akan engkau lakukan apabila
engkau jatuh cinta pada seseorang tetapi tanpa sadar apa yang engkau lakukan hanyalah mendorong seseorang tersebut jauh hingga ke titik batas sehingga ia memutuskan untuk meninggalkanmu?

Akankah engkau hancur berantakan? Apakah engkau akan berusaha mendapatkannya kembali, walaupun tahu bahwa semua terjadi karena kesalahanmu sendiri?

Atau dapatkah engkau menjalani sisa hidupmu menyadari bahwa engkau mencintainya sepenuh hatimu tetapi engkau juga tahu bahwa apa yang telah terjadi sesungguhnya telah terjadi dan tak dapat diperbaiki? Dapatkah engkau memaafkan dirimu sendiri, karena hal tersulit daripada memaafkan orang lain adalah memaafkan dirimu sendiri?

Apa yang akan engkau lakukan?

Kalau aku? Aku tidak tahu, selain hanya mengutuki diriku sendiri karena engkau pergi, aku ingin merengkuhmu kembali, tetapi aku berpikir bahwa, akankah kita bisa kembali berbahagia seperti dulu? Pertanyaan bodoh memang, karena mungkin saja dulu yang berbahagia hanya diriku dan tidak dirimu. Bukankah engkau pergi meninggalkanku justru karena engkau tidak berbahagia denganku?

Dan aku tahu, beberapa luka tak pernah tercipta untuk dapat mengering. Selalu akan ada luka yang tidak akan pernah bisa hilang, ada noda yang memang harus dibiarkan tinggal. Bahwa mungkin satu-satunya cara agar aku dapat terus berjalan dan melanjutkan hidup adalah justru dengan berdamai bersama kenangan tentang dirimu, alih-alih menghapusnya.

Aku juga belajar satu hal darimu. Bahwa cinta memang tak akan pernah mati, tetapi ia dapat pergi saat engkau memperlakukannya dengan setengah hati.

Seperti dirimu.

Advertisements

Pelabuhan Tenau, Kupang, Oktober 2017: Vivre Sans Temps Mort

“Waking soft
Waking slow
Fading into focus
Every breath
Every pulse
Holding in the moment”
―Fazerdaze, Shoulders

Setiap kali aku menjejakkan kaki di Kupang, aku selalu ke dermaga di pelabuhan ini. Entah mengapa, ada sesuatu yang menenangkan di sini, terutama di malam hari. Dengan suasana sekeliling yang temaram dan hening, selain hanya diisi oleh bunyi air yang berkecipak di bawahku saat dengan perlahan menumbuk dinding dermaga. Tentu, seperti biasanya juga, aku membawa sebungkus kerupuk kulit babi dan sebotol bir dingin.

Dalam ketenangan seperti ini juga, biasanya aku memutar kembali rel film soal kehidupanku sendiri, dalam benakku. Malam semakin larut, angin semakin kencang dan dingin. Aku menengadahkan kepalaku saat angin kembali berhembus. Kupejamkan mataku sesaat. Momen yang indah, pikirku. Dalam remang malam dan di bawah langit berbintang. Mungkin sensasi semacam inilah yang oleh Anaïs Nin disebut sebagai “an ephemeral flow of sensations” sebagaimana ia melihat lampu-lampu kota Times Square untuk pertama kalinya.

Momen yang sempurna walaupun akan berakhir dalam beberapa saat saja, pikirku. Tetapi toh tak ada masalah semenjak semua momen pasti berakhir—termasuk momen terbaik. Dan bukankah justru karena ada akhir, tak peduli berapa pun panjang waktunya, maka sebuah momen menjadi sempurna? Seperti kali ini, di sini. Inilah yang kusebut momen yang sempurna.

Angin di atas dermaga ini demikian menggigit. Tapi mungkin aku akan bisa berdiri di atas sini, memandang keindahan sublim ini seribu malam lagi. Aku membuka botol bir dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke arah bintang paling terang di langit utara. Sungguh, sebanyak apapun aku mengeluh, aku tahu bahwa aku mencintai hidup ini. 

Aku mau hidup, seribu tahun lagi.

Jawaban yang Tak Kunjung Datang

Avalokiteśvara Bodhisattva.

Tundukkanlah pandanganmu kepadaku. Pinjamkanlah tanganmu kepadaku. Belai lembut wajahku yang sudah terbakar gosong tidak karuan. Rengkuhlah diriku yang sudah tak kuasa untuk meninggalkan jejak.

Jangan langsung menghisap sesuatu yang manis. Jangan langsung memuntahkan sesuatu yang pahit. Kecaplah setiap butirannya. Telanlah dengan perlahan. Jalani. Jalani. Jalani.

Masokis.

Sebuah pedang kecil yang kerap digunakan oleh pencuri jaman dahulu menancap menembus tengkorakku. Tetapi, aku berhasil menariknya keluar. Dengan tenang, tanganku meraih alkohol, kapas, perban, jarum dan benang. Kedua tanganku dengan telaten menjahit luka yang menganga itu dan memerban kepalaku dengan apik.

Aku masih hidup. Aku tertawa sembari air mengalir melintasi dari hilir ke hulu. Beberapa cipratannya membasahi langit-langit mulutku. Surrealis.

Ah, aku telah tersadar.

***

Dalam Matematika, ada tiga kisah cinta yang paling menyedihkan. Kisah-kisah itu melibatkan sepasang garis pada bidang koordinat. Mereka adalah garis tangen, garis parallel, dan garis asimtot.

Garis-garis tangen yang hanya memiliki satu kesempatan untuk bertemu, tetapi mereka akan berpisah untuk selamanya. Mereka jatuh pada pandangan pertama, tetapi tidak pernah dapat untuk saling menyapa lagi.

Garis-garis parallel yang ditakdirkan agar tidak bisa bertemu satu sama lain.

Dari ketiga pasangan itu, kisah yang paling sedih datang dari garis-garis asimtot. Mereka bisa saling dekat dan semakin dekat, tetapi mereka tidak akan pernah bisa bersama. Sehebat apapun usaha mereka, mereka tidak akan pernah mencapai impian mereka.

Aku pun mendengus. Perbedaan freewill dan takdir memang setipis kertas.

Namun aku terkadang termenung sambil bertanya-tanya apakah ada garis yang akan menemaniku nanti? Atau apa justru aku akan menjadi suatu garis linier yang berjuang untuk melintang sendirian? Lagi-lagi aku menerawang, menanti jawaban yang tak kunjung datang.

Munafik: Tentang Aktivisme Hari Ini

Tersebutlah seorang aktivis (atau kalaupun label itu terlihat terlalu kitsch, aku berani bertaruh ia akan mencari label lain yang layak untuk ia sematkan di dadanya sebagai seorang “pejuang kemanusiaan”) yang gemar mengkritisi segala sesuatu hal di sekitarnya yang (menurutnya) tak berjalan sebagaimana mestinya. Setiap saat, setiap hari, ia senantiasa meneriakkan slogan-slogan mengenai kebebasan, kemerdekaan, kesetaraan, keadilan atau apapunlah itu yang terdengar terlampau banal belakangan ini. Lagipula, kebebasan macam apa yang sesungguhnya hendak ia khotbahkan dengan melarang-larang orang lain untuk melakukan sesuatu hal? Jika membebaskan berarti meniadakan belenggu penghalang yang membatasi pergerakan seseorang, ia justru mengokohkan kerangkeng yang semakin memenjarakan orang tersebut.

Namun ia bukanlah seorang Butet Manurung yang tinggal di sebuah desa terpencil di tengah belantara hutan di Jambi, tempat dimana Butet merasa perlu untuk mengubah dan membangun komunitas di sana, Sokola Rimba. Butet menetap di sana bersama Suku Anak Dalam. Tak hanya sekedar mengkritisi. Dan aku yakin, Butet melakukannya bukan karena sekedar letak desanya yang terpencil, tetapi karena ia sungguh-sungguh ingin mengubah dan membangun komunitas di sana.

Sedangkan sang aktivis ini amatlah berbeda. Ia hanya mengkritik tanpa mampu memberikan solusi. Tanpa mau sungguh-sungguh berusaha untuk mengubah borok yang ia kritik menjadi sesuatu yang memiliki nilai, senihil apapun itu di mata orang lain. Ia selalu mencari titik kelemahan dari apapun yang ia kritik, seakan-akan ia telah menjadi tuhan atas sesamanya manusia. Ia mengkritik apapun. Ia menyalahkan siapapun.

Tetapi tidak dirinya sendiri.

Munafik: Tentang Ideologi

“Communist until you get rich, feminist until you get married, atheist until the airplane starts falling.” ―The Hypocrite Diaries

Seorang kenalan, seseorang yang mengakui dirinya sebagai seorang anarkis dan secara serampangan pula melabeli diriku sebagai seorang anarkis, mengajakku berbincang-bincang beberapa waktu lalu.

Lima hingga sepuluh menit pertama, kami berbincang mengenai komik-komik dan film-film yang kebetulan juga kami sukai. Aku menikmatinya. Sungguh, berbincang-bincang mengenai hal kesukaanmu dengan seseorang yang memiliki kesukaan yang serupa denganmu, itu terasa menyenangkan. Lima belas menit berikutnya, ia mengaitkan pembahasan film-film tersebut dengan ide-ide anarkisme seperti misalnya, mulai membahas film V For Vendetta, yang akhirnya malah berujung alot. Revolusi, transformasi sosial, perlawanan terhadap tiran, dan pembangkangan sipil. Apapun sebutannya. Ia menyebutnya, anarkisme.

Aku bukan seorang anarkis, ujarku kepadanya. Tetapi entahlah, aku merasa bahwa ia tidak percaya saat aku mengatakan bahwa aku bukanlah seorang anarkis. Menjalin relasi pertemanan dengan mereka yang mengklaim dirinya anarkis, tidak serta merta membuatku ingin menyematkan label sebagai seorang anarkis di dadaku. Karena setelah sekian lama aku menjalani hidupku, menerima dan menimbang segala sesuatu dari setiap pengalaman yang kudapat, pada akhirnya aku menyadari, bahwa aku memiliki pemahaman yang berbeda dengan para anarkis, atau setidaknya, dari mereka yang mengaku dirinya anarkis di sekelilingku.

Mereka para anarkis yang kukenal pada umumnya menganggap anarkisme sebagai sebuah ideologi, sebagai dasar pemikiran yang menentukan nilai dalam keseharian mereka. Sedangkan aku mempercayai ucapan Althusser yang mendefinisikan ideologi sebagai sebuah ilusi, sebagai kesadaran palsu terhadap apa yang sesungguhnya nyata. Menurut Althusser, penganut ideologi yang terposisikan sebagai subjek sesungguhnya telah dibutakan oleh apa yang mereka anggap sebagai sebuah ‘kebenaran’ atau sebuah jalan yang tepat untuk mereka lalui. Dengan kata lain, mereka dibutakan bukan oleh apa yang mereka tidak ketahui, tetapi oleh apa yang mereka anggap mereka ketahui.

Ideologi adalah candu, lanjutku. Ia terbatas. Ia memiliki batasan-batasan tertentu. Masalahnya, ketika engkau sudah muak menghisap candu ideologimu, dapatkah engkau melampaui batasan ideologi yang engkau anut? Komunisme, anarkisme, feminisme, liberalisme, fasisme, ateisme, nihilisme, dan segala jenis -isme lainnya. Silakan sebut saja, apapun itu. Aku berani bertaruh, bahwa para ideolog senantiasa terperangkap dalam bayang-bayang utopis, dalam batasan nilai-nilai ideal terhadap ideologi yang mereka usung, termasuk seorang anarkis sekalipun. Lagipula, apakah hidup yang engkau jalani saat ini sudah sesuai dengan ideologi yang selama ini engkau kumandangkan, tanyaku. Kalau tidak, itu berarti engkau hanyalah seorang munafik, tambahku.

Seketika ia pun terdiam. Lalu ia menundukkan kepalanya dan dahinya perlahan mengkerut. Mungkin ia sedang berpikir keras. Tetapi entahlah, aku tak begitu peduli. Apabila menganut suatu ideologi tertentu adalah juga berarti menjadi seorang munafik secara simultan, maka dengan bangga aku menyatakan bahwa diriku tidak lagi terbelenggu dalam konsep-konsep utopis dan terbatas yang diusung oleh para ideolog di luar sana, apapun ideologi yang mereka usung, termasuk kenalanku tadi. Aku hanya berusaha jujur pada diriku sendiri.

Sesuatu Bernama Rindu: Just Friends

Ada banyak hal yang berubah dalam dirimu yang tak dapat kudeskripsikan, semenjak kata-kata begitu miskin untuk mengungkap begitu banyak hal menakjubkan, malam ini. Selain rambut barumu, tentunya. Seperti ungkapku sebelumnya bahwa kini dirimu menjadi lebih ceria. Namun entahlah. Yang terpenting adalah malam ini. Malam ini cukuplah untuk malam ini, dan bertemu denganmu sudah melampaui definisi dari kata cukup. Aku tahu apa yang kuucapkan tak berarti apapun lagi untukmu, semenjak engkau hanya menganggapku sebagai teman, tak lebih dan tak kurang. Aku hanya ingin berada di sisimu sedikit lebih lama lagi…

Aku menatap kosong jalanan yang tidak terlalu ramai malam ini. Aku memilih untuk menikmati dinginnya malam di kota ini, bersamamu. Yang aku tahu, setiap detik dan menit bersamamu adalah sesuatu yang teramat berharga bagiku. Aku menghitung setiap detik bersamamu sebelum aku benar-benar pergi meninggalkanmu. Sambil memutar kembali ingatan akan semua percakapan, nyanyian dan canda kita beberapa jam yang lalu. Sebuah kebahagiaan terselubung yang terdengar bodoh―sekaligus mengharu biru perasaan. Malam dalam perjalanan pulang, aku tak lagi merasakan apapun. Kecamuk badai pikiran yang merajah―kalau tidak kusebut hampir menguliti―hari-hariku di setahun terakhir ini mendadak tenang. Ia berhenti bertanya. Ia berhenti bersangka. Ia berhenti meratap. Ia berhenti membenci. Ia berhenti meringis. Ia berhenti mempertanyakan pertanyaan. Ia berhenti berteriak, dan seketika menjadi tenang.

Setenang karang menunggu ombak yang tidak pernah berhenti menerpa. Setenang gelombang air yang menyapa kala pagi menjelang. Setenang engkau mendengarkan kisah-kisahku yang sudah lama tak kubagi. Setenang perasaanku saat kita berbagi kata, canda dan tawa yang membuatmu menggigil dan meminjam jaketku untuk mengenyahkan dinginnya malam. Setenang raut mukamu yang tak pernah kutemui lagi semenjak terakhir kalinya kita berjumpa, setahun yang lalu. Setenang senyum kecil bibirmu yang aku tahu, tidak akan pernah mudah untuk melupakannya.

Apakah kita akan kembali berpapasan satu sama lain di masa depan? Mungkin tidak penting lagi apakah masa depan akan hadir ataupun tidak, saat kita berdua sadar benar bahwa masa depan tak pernah tertulis. Ia hanya dapat diprediksi, tetapi ia tetaplah hanya sebuah rencana yang kita susun saat kita hidup saat ini.

Engkau menganggukan kepala tanda mengiyakan, saat aku memintamu untuk bertemu kembali denganku, entah kapan. Dengan senyum dan ekspresinya, engkau menatapku. Lama.

Entahlah, mata itu sungguh bening dan teduh. Aku akan selalu merindukan kedua mata dan senyum itu. Kedua mata dan senyum yang sempurna tersebut.

Aku membiarkan lamunan ini sedikit lebih lama. Lagi.

Aku tersenyum. Malam akan terasa panjang dan tak berujung.

***

Semakin engkau menyelami cinta, semakin engkau akan terbakar olehnya. Tetapi, bukankah luka yang tergores dalam benakmu itulah yang menjadikan hidup ini berarti? Ujarmu semalam.

Mungkin. Mungkin segala keingintahuanku telah membawaku sejauh ini, walau tak kupungkiri bahwa di luar sana masih banyak yang lebih memahami arti hidup dan cinta daripada diriku. Layaknya Ikarus yang terbang menembus batas dan membiarkan dirinya terbakar karena keingintahuannya, seperti pesawat ulang-alik Challenger, seperti balon udara Hindenburg. Aku menyelami rasa dan asa ini hingga hatiku lelah. Selalu.

To every sleepless nights we’ve spent
Talking about our lives and understand
How you said that i’m one in a million
But never in a million years
I will end up being your boyfriend
We will always be just friends
We will always be just friends

‘Just Friends’ dari Pee Wee Gaskins, menjadi pembuka keresahan diriku. Memulai gaung dan riuh dari mereka yang menonton konser ini. Memberi senyum dan cinta di wajah masing-masing mereka. Menjadi muda dan tak menyia-nyiakannya.

Dan setelah konser ini berakhir nanti, apa yang tersisa bagiku?

Entahlah… Aku hanya berharap engkau berada di sini bersamaku.

Aku menutup keresahanku dengan amarah dan kekosongan yang terasa begitu personal. Ingatan-ingatan akan hidup kembali menjejak di benak, pada kecemasan dan gelisah saat menemukan jalan pada sebuah perjalanan pulang, kembali menuju rumah. Mungkin kita akan selalu meretas senja dalam kesepian. Mungkin kita terlalu naif untuk mendefinisikan hidup dan cinta. Mungkin…

Karena perjalanan kita pulang menuju rumah masihlah teramat panjang. Berdebu, terik, panas, menghanyutkan, menutup luka, serta meletakkan kembali angan dan harapan yang sering kali punah, hingga nanti kita dapat bersua di ujung jalan yang sama dan kembali bersenandung lirih, ”I wish it didn’t have to be like this, I think about you every night and day ‘cus you’re always there…”

Tentang Sebab–Akibat: Amor Fati, Fatum Brutum

“No one saves us but ourselves. No one can and no one may. We ourselves must walk the path.” ―Gautama Buddha

Kala sore hari menjelang di akhir pekan, kerapkali aku menghabiskan waktu hanya dengan duduk-duduk santai di sebuah saung mungil yang terbuat dari bambu di depan rumahku, persis di bawah naungan pohon jambu yang rindang. Entah itu sendirian, bersama ibuku, atau dengan kawan-kawanku yang kebetulan mampir. Entah itu dengan menyesap segelas teh manis hangat, membaca komik dan novel, sekedar termenung, atau apapun. Termasuk bertegur sapa dan mengobrol dengan beberapa tetangga yang wara-wiri di hadapanku.

Obrolan yang kian santer terdengar di kompleks perumahanku adalah desas-desus mengenai seorang ibu yang tinggal tepat di belakang rumahku. Ia mempunyai seorang anak perempuan yang baru saja lulus dari sekolah dasar dan kini sedang hamil sekitar empat atau lima bulan. Walaupun sang bapak dari anak tersebut telah tiada dua tahun yang lalu, tetangga sekitar tetap saja menggunjingkannya. “Akibat pergaulan bebas”, kata seorang bapak pemilik warung di sebelah rumahku. “Rahimnya belum kuat, bisa mati tuh”, ujar ibu-ibu di ujung gang rumahku. Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya… Tipikal orang-orang masa kini yang terlalu mudah menghakimi tanpa pernah benar-benar memahami duduk persoalan, tanpa pernah mengerti sebab-akibat atas perbuatan mereka.

Berbicara mengenai sebab-akibat, aku merasa beruntung dibesarkan dalam keluarga yang sedari kecil mengajariku untuk bertanggung jawab atas jalan yang kulalui. Engkau mabuk dan mengkonsumsi narkoba secara berlebihan, akibatnya bisa saja engkau mati overdosis. Engkau malas belajar, maka engkau akan kesulitan memahami materi pelajaran di sekolah dan bisa tidak naik kelas. Engkau mengendarai motor dengan ngebut, maut mungkin saja akan menyapamu. Ayah dan ibuku memberikanku pengertian mengenai sebab-akibat atas perbuatanku. Tanpa pernah menghakimi dan menyalahkanku. Mereka hanya memberikanku secarik peta untuk menuju satu tempat yang kutuju dan membiarkanku untuk memilih sendiri jalan mana yang hendak kulalui, dengan mempertimbangkan segala konsekuensinya, entah itu baik ataupun buruk. Termasuk ketika di kemudian hari aku memutuskan untuk merajah tubuhku, ibuku tak berkomentar banyak. Ia hanya mengingatkanku agar sanggup menanggung konsekuensi dari apa yang telah kupilih.

Berdasar pengalamanku, dunia memang berjalan seperti ini. Saling mempengaruhi. Sebab–akibat. Suatu sebab, suatu perbuatan yang engkau lakukan akan menimbulkan akibat bagimu. Ada banyak variabel yang terbentang untuk engkau pilih dan jalani, dan tentunya engkau harus bisa menerima hasilnya sepenuhnya. Rengkuhlah ia dengan segenap hatimu. Apa yang engkau pilih untuk lakukan akan menimbulkan akibat tertentu yang sudah tersedia di balik setiap pilihan jalan. Engkau hanya perlu memilih dan memilah, untuk kemudian menerima konsekuensinya, yang acapkali berupa tragedi. Lantas berdasar tragedi tersebutlah engkau akan memilih dan memilah jalan yang masih terbentang di hadapanmu, yang tentu berimbas pada hadirnya konsekuensi lain. Begitu saja. Sesederhana itu. Engkau hanya perlu berjalan terus dan menerima akibat dari setiap pilihanmu. Tak kurang dan tak lebih. Seperti kalimat yang pernah dituliskan oleh Nietzsche, sang filsuf berkumis tebal pembunuh Tuhan: Amor fati, fatum brutum.

Maka karenanya, aku tak ingin menghakimi sang ibu tetanggaku dan anaknya yang tengah hamil. Biarlah mereka menuai hasil panen dari benih yang telah mereka sebar. Dan kini pertanyaan yang tersisa, seberapa sanggupkah engkau dapat menerima konsekuensi atas setiap pilihan yang telah (dan akan) engkau ambil dalam hidupmu?