Sesuatu Bernama Kenangan: Senja

“With shortness of breath, I’ll explain the infinite, how rare and beautiful it truly is that we exist.” —Sleeping At Last, Saturn

Padang, Juli 2017.

Advertisements

Tentang Sebuah Perpisahan: Luka di Penghujung Desember

“My heart, it breaks every step that I take.” —Lana Del Rey, Born To Die

Saat engkau telah memberikan nyaris semua yang engkau miliki, tetapi seakan tak mendapatkan apapun selain hanya kekecewaan dan penderitaan. Saat engkau merasa bahwa sesungguhnya dirimu tak penting lagi, tak dibutuhkan lagi, tak diinginkan lagi, tak dipedulikan lagi. Saat pada akhirnya engkau telah melihat batasmu mulai hadir di horizon senjakalamu.

Dan hal itu seperti saklar yang di-klik dalam kepalamu. Dan engkau tak akan peduli lagi apa yang akan terjadi selanjutnya. Bukankah itu adalah saat engkau untuk pada akhirnya berkata, cukup?

Aku tahu, masa itu akan datang di tiap-tiap orang. Orang seperti dirimu.

Seperti juga diriku.

Kota Tua, Jakarta, November 2017: Inferioritas Bangsa Pasca-Kolonial

Aku sedang duduk di sebuah bangku taman, di kawasan Kota Tua Jakarta, kala seorang kawan di sampingku tiba-tiba berbicara dengan ketusnya: “Lihat tuh bule, kayak artis aja di sini.”

Berjarak sekian meter di hadapan kami, sekumpulan remaja, yang kutaksir berusia 20-an awal, tengah mengelilingi seorang lelaki kulit putih dan berfoto wefie. Beberapa saat berselang, langkah sang kulit putih terhenti lagi. Kali ini sekelompok pelajar SMA. Seperti yang kutebak, hal ini pasti ada kaitannya dengan pelajaran Bahasa Inggris. Aku hanya bisa tertawa kala mendapati ekspresi sang kulit putih yang terlihat kesal ketika berfoto wefie. Ada benarnya juga perkataan kawanku tadi.

Apabila engkau sempat berkunjung ke beberapa tempat wisata di negeri ini yang terdapat turis kulit putih, engkau mungkin pernah mendapati hal yang sama. Atau mungkin malah melakukan hal yang sama, berfoto wefie dengan mereka. Bukan, aku sama sekali tidak bermaksud rasis di sini. Tapi pernahkah engkau memperhatikan, kadang beberapa dari mereka malah merasa terganggu dengan kehadiranmu, dan beberapa orang setelahmu yang melulu hanya meminta foto bersama?

“Eh ada bule tuh, foto yuk.”

Berapa banyak dari kita yang pernah berkata seperti itu kala melihat seorang kulit putih di suatu tempat, di Indonesia ini?

Aku tidak menyukai kata itu. Bule. Aku lebih memilih menggunakan kata “Ekspatriat” yang kerap disingkat menjadi “Ekspat”, ketimbang “Bule”. “Bule” menurutku lebih sering digunakan dalam berbahasa sehari-hari, sedangkan “Ekspat” ruang lingkup penggunaannya lebih terbatas. Mungkin ini hanya preferensi berbahasa, tapi kurasa pemilihan bahasa turut mempengaruhi makna perkataan yang kita tuturkan. Aku merasa ada sesuatu yang janggal dengan persoalan berbahasa ini, kejanggalan tersebut kurasakan dalam ruang lingkup bangsa Indonesia sendiri.

Pernah engkau menyadari bahwa orang-orang berkebangsaan Indonesia yang tinggal di luar negeri, di luar Indonesia maksudku, disebut imigran oleh warga negara tersebut, bahkan oleh sesama warga Indonesia. Sementara orang-orang berkulit putih di Indonesia, oleh orang-orang Indonesia, mereka disebut ekspat. Kenapa seorang atasanku yang berkewarganegaraan Belanda dan telah tinggal di Jakarta selama 5 tahun disebut ekspat, tetapi sepupuku asal Surabaya yang telah 4 tahun tinggal di Jerman tetap disebut imigran? Seorang rekan kerjaku, yang berasal dari Filipina dan telah tinggal di Jakarta selama 3 tahun tidak pernah disebut ekspat. Bahkan seorang kawan yang baru saja kembali dari liburannya di Singapura menyebut orang-orang India yang banyak jumlahnya di sana sebagai imigran, tetapi ia menyebut orang-orang kulit putih di sana sebagai ekspat.

Aku tidak ingin terdengar seperti para bajingan politically correct, tetapi harus diakui bahwa istilah juga menunjukan sebuah hirarki antar ras dan dominasi ekonomi. Jadi kalau orang kulit putih dari negara Dunia Pertama hadir dan tinggal di sebuah negara Dunia Ketiga maka lantas ia akan disebut ekspat, sementara kalau seseorang kulit berwarna dari negara Dunia Ketiga hadir dan tinggal di sebuah negara Dunia Pertama maka ia akan disebut imigran.

Lebih kompleksnya lagi, istilah-istilah tersebut keluar bukan dari mulut orang-orang kulit putih melainkan dari orang-orang Indonesia sendiri. Semacam, inferioritas bangsa pasca-kolonialkah? Bisa jadi. Derajatmu sebagai manusia dengan kulit berwarna dianggap lebih rendah daripada mereka, para kulit putih. Karena nyaris dimanapun di Indonesia ini, engkau bisa melihat sesamamu orang Indonesia yang begitu mengagung-agungkan kaum kulit putih. Entah bersikukuh untuk berfoto bersama, mengencani, menikahi, atau bahkan hanya demi bersetubuh dengan sang kulit putih.

Kutekankan sekali lagi bahwa aku sama sekali tidak bermaksud rasis dan sok-sok nasionalis. Sama sekali tidak. Aku lahir dan tumbuh besar di negeri ini, Indonesia, kendati aku sama sekali tidak menaruh kepercayaan pada sistem politik dan roda pemerintahan yang berjalan. Aku hanya muak mendapati kenyataan bahwa bangsa ini sungguh merupakan bangsa yang inferior dan belum bisa melepaskan dirinya dari jeratan pasca-kolonial. Kasihan.

Tentang Sebuah Perpisahan: Cinta Tak Akan Pernah Mati

​You are always in my heart and in the every air that I breath. I love you.

Apa yang akan engkau lakukan apabila
engkau jatuh cinta pada seseorang tetapi tanpa sadar apa yang engkau lakukan hanyalah mendorong seseorang tersebut jauh hingga ke titik batas sehingga ia memutuskan untuk meninggalkanmu?

Akankah engkau hancur berantakan? Apakah engkau akan berusaha mendapatkannya kembali, walaupun tahu bahwa semua terjadi karena kesalahanmu sendiri?

Atau dapatkah engkau menjalani sisa hidupmu menyadari bahwa engkau mencintainya sepenuh hatimu tetapi engkau juga tahu bahwa apa yang telah terjadi sesungguhnya telah terjadi dan tak dapat diperbaiki? Dapatkah engkau memaafkan dirimu sendiri, karena hal tersulit daripada memaafkan orang lain adalah memaafkan dirimu sendiri?

Apa yang akan engkau lakukan?

Kalau aku? Aku tidak tahu, selain hanya mengutuki diriku sendiri karena engkau pergi, aku ingin merengkuhmu kembali, tetapi aku berpikir bahwa, akankah kita bisa kembali berbahagia seperti dulu? Pertanyaan bodoh memang, karena mungkin saja dulu yang berbahagia hanya diriku dan tidak dirimu. Bukankah engkau pergi meninggalkanku justru karena engkau tidak berbahagia denganku?

Dan aku tahu, beberapa luka tak pernah tercipta untuk dapat mengering. Selalu akan ada luka yang tidak akan pernah bisa hilang, ada noda yang memang harus dibiarkan tinggal. Bahwa mungkin satu-satunya cara agar aku dapat terus berjalan dan melanjutkan hidup adalah justru dengan berdamai bersama kenangan tentang dirimu, alih-alih menghapusnya.

Aku juga belajar satu hal darimu. Bahwa cinta memang tak akan pernah mati, tetapi ia dapat pergi saat engkau memperlakukannya dengan setengah hati.

Seperti dirimu.

Pelabuhan Tenau, Kupang, Oktober 2017: Vivre Sans Temps Mort

“Waking soft
Waking slow
Fading into focus
Every breath
Every pulse
Holding in the moment”
―Fazerdaze, Shoulders

Setiap kali aku menjejakkan kaki di Kupang, aku selalu ke dermaga di pelabuhan ini. Entah mengapa, ada sesuatu yang menenangkan di sini, terutama di malam hari. Dengan suasana sekeliling yang temaram dan hening, selain hanya diisi oleh bunyi air yang berkecipak di bawahku saat dengan perlahan menumbuk dinding dermaga. Tentu, seperti biasanya juga, aku membawa sebungkus kerupuk kulit babi dan sebotol bir dingin.

Dalam ketenangan seperti ini juga, biasanya aku memutar kembali rel film soal kehidupanku sendiri, dalam benakku. Malam semakin larut, angin semakin kencang dan dingin. Aku menengadahkan kepalaku saat angin kembali berhembus. Kupejamkan mataku sesaat. Momen yang indah, pikirku. Dalam remang malam dan di bawah langit berbintang. Mungkin sensasi semacam inilah yang oleh Anaïs Nin disebut sebagai “an ephemeral flow of sensations” sebagaimana ia melihat lampu-lampu kota Times Square untuk pertama kalinya.

Momen yang sempurna walaupun akan berakhir dalam beberapa saat saja, pikirku. Tetapi toh tak ada masalah semenjak semua momen pasti berakhir—termasuk momen terbaik. Dan bukankah justru karena ada akhir, tak peduli berapa pun panjang waktunya, maka sebuah momen menjadi sempurna? Seperti kali ini, di sini. Inilah yang kusebut momen yang sempurna.

Angin di atas dermaga ini demikian menggigit. Tapi mungkin aku akan bisa berdiri di atas sini, memandang keindahan sublim ini seribu malam lagi. Aku membuka botol bir dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke arah bintang paling terang di langit utara. Sungguh, sebanyak apapun aku mengeluh, aku tahu bahwa aku mencintai hidup ini. 

Aku mau hidup, seribu tahun lagi.

Jawaban yang Tak Kunjung Datang

Avalokiteśvara Bodhisattva.

Tundukkanlah pandanganmu kepadaku. Pinjamkanlah tanganmu kepadaku. Belai lembut wajahku yang sudah terbakar gosong tidak karuan. Rengkuhlah diriku yang sudah tak kuasa untuk meninggalkan jejak.

Jangan langsung menghisap sesuatu yang manis. Jangan langsung memuntahkan sesuatu yang pahit. Kecaplah setiap butirannya. Telanlah dengan perlahan. Jalani. Jalani. Jalani.

Masokis.

Sebuah pedang kecil yang kerap digunakan oleh pencuri jaman dahulu menancap menembus tengkorakku. Tetapi, aku berhasil menariknya keluar. Dengan tenang, tanganku meraih alkohol, kapas, perban, jarum dan benang. Kedua tanganku dengan telaten menjahit luka yang menganga itu dan memerban kepalaku dengan apik.

Aku masih hidup. Aku tertawa sembari air mengalir melintasi dari hilir ke hulu. Beberapa cipratannya membasahi langit-langit mulutku. Surrealis.

Ah, aku telah tersadar.

***

Dalam Matematika, ada tiga kisah cinta yang paling menyedihkan. Kisah-kisah itu melibatkan sepasang garis pada bidang koordinat. Mereka adalah garis tangen, garis parallel, dan garis asimtot.

Garis-garis tangen yang hanya memiliki satu kesempatan untuk bertemu, tetapi mereka akan berpisah untuk selamanya. Mereka jatuh pada pandangan pertama, tetapi tidak pernah dapat untuk saling menyapa lagi.

Garis-garis parallel yang ditakdirkan agar tidak bisa bertemu satu sama lain.

Dari ketiga pasangan itu, kisah yang paling sedih datang dari garis-garis asimtot. Mereka bisa saling dekat dan semakin dekat, tetapi mereka tidak akan pernah bisa bersama. Sehebat apapun usaha mereka, mereka tidak akan pernah mencapai impian mereka.

Aku pun mendengus. Perbedaan freewill dan takdir memang setipis kertas.

Namun aku terkadang termenung sambil bertanya-tanya apakah ada garis yang akan menemaniku nanti? Atau apa justru aku akan menjadi suatu garis linier yang berjuang untuk melintang sendirian? Lagi-lagi aku menerawang, menanti jawaban yang tak kunjung datang.